TL;DR
Break even point adalah jumlah penjualan yang bikin total pendapatan pas sama total biaya, jadi labanya nol. Rumusnya biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit, misalnya biaya tetap Rp 11 juta dibagi margin Rp 12.500 menghasilkan 880 cup per bulan. Di Excel semua ini cuma butuh empat sel input, dan simulasi harga jual bisa dibikin pakai tabel kecil tanpa makro.
Break even point adalah jumlah penjualan yang bikin total pendapatan pas sama total biaya, jadi laba dan ruginya nol.
Di bawah angka itu kamu nombok. Di atasnya baru kamu untung.
Buat usaha kecil, angka ini yang paling sering ditanyain sebelum nentuin harga jual atau nambah karyawan.
Panduan ini ngitung BEP di Excel dari empat sel input, lanjut ke grafik titik impas, terus ke tabel simulasi harga jual.
Break even point atau titik impas adalah jumlah unit atau nilai penjualan yang bikin laba jadi nol. Semua biaya tetap dan variabel pas ketutup pendapatan. Angka ini jadi batas minimum yang harus kamu capai tiap bulan sebelum ngomongin untung.
Ada dua jenis biaya yang harus kamu pisahin dulu.
| Jenis biaya | Ciri | Contoh di kedai kopi |
|---|---|---|
| Biaya tetap | Keluar walau nggak ada penjualan | Sewa, gaji tetap, internet, penyusutan mesin |
| Biaya variabel | Naik turun ngikutin jumlah penjualan | Biji kopi, susu, gelas, sedotan, gula |
| Biaya campuran | Punya bagian tetap dan bagian ikut volume | Listrik, air, gas |
Cara paling cepat mastiin: bayangin bulan ini kamu tutup total. Biaya yang tetap keluar itu biaya tetap.
BEP unit sama dengan biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit, dan margin kontribusi itu harga jual dikurangi biaya variabel per unit. Buat BEP dalam rupiah, bagi biaya tetap sama rasio margin kontribusi. Dua rumus ini ngasih jawaban yang konsisten, cuma satuannya beda.
Margin kontribusi = harga jual - biaya variabel per unit
Rasio margin = margin kontribusi / harga jual
BEP unit = biaya tetap / margin kontribusi
BEP rupiah = biaya tetap / rasio margin
BEP dengan target = (biaya tetap + target laba) / margin kontribusi
Margin kontribusi itu inti hitungannya. Angka ini nunjukin berapa rupiah dari tiap penjualan yang tersisa buat nutup biaya tetap.
Bikin satu blok input berisi empat angka, terus lima sel hasil yang isinya rumus. Struktur ini bikin kamu tinggal ganti satu angka buat lihat dampaknya ke seluruh hitungan. Sheet-nya cukup satu halaman dan nggak butuh makro sama sekali.
=B3-B4.=B7/B3, lalu format jadi persen.=IFERROR(ROUNDUP(B2/B7;0);"cek harga jual").=IFERROR(B2/B8;"cek harga jual").=IFERROR(ROUNDUP((B2+B5)/B7;0);"cek harga jual").=ROUNDUP(B9/26;0) kalau kamu buka 26 hari sebulan.ROUNDUP dipakai biar hasilnya dibulatkan ke atas. Jual 879 cup masih rugi tipis, jadi angka pecahan nggak berguna buat target operasional.
Rumus IFERROR di sini bukan sekadar penghias. Kalau biaya variabel lebih besar dari harga jual, pembaginya jadi negatif dan hasil hitungannya bakal nyesatin.
Buat nomor total biaya tetap dari daftar pos yang panjang, pakai rumus SUM di sel terpisah, jangan diketik manual sebagai satu angka.
Kedai Kopi Nusa buka di ruko pinggir jalan, kapasitas 14 kursi, buka 26 hari sebulan. Ini angka inputnya.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Sewa ruko per bulan | Rp 4.500.000 |
| Gaji 2 barista | Rp 5.400.000 |
| Listrik, air, internet | Rp 1.100.000 |
| Total biaya tetap | Rp 11.000.000 |
| Harga jual per cup | Rp 22.000 |
| Biji kopi per cup | Rp 4.800 |
| Susu per cup | Rp 2.900 |
| Gelas dan tutup | Rp 1.300 |
| Gula dan sirup | Rp 500 |
| Total biaya variabel per cup | Rp 9.500 |
Margin kontribusinya Rp 22.000 dikurangi Rp 9.500, hasilnya Rp 12.500 per cup. Rasio marginnya 56,8 persen.
BEP unit: Rp 11.000.000 dibagi Rp 12.500, hasilnya 880 cup per bulan.
BEP rupiah: 880 dikali Rp 22.000, hasilnya Rp 19.360.000 omzet per bulan.
Dibagi 26 hari operasi, targetnya 34 cup per hari. Angka itu yang harusnya nempel di dinding dapur, bukan angka omzet bulanan yang terlalu jauh buat dirasain barista.
Kalau pemilik mau laba bersih Rp 6.000.000, targetnya naik jadi Rp 17.000.000 dibagi Rp 12.500, yaitu 1.360 cup atau 53 cup per hari. Naik 56 persen dari sekadar impas.
Lonjakan itu yang sering bikin kaget. Nambah target laba Rp 6 juta bukan berarti nambah 6 juta omzet, tapi nambah 480 cup.
Grafik BEP dibikin dari tabel tiga kolom: jumlah unit, total pendapatan, dan total biaya. Titik potong dua garisnya adalah BEP. Cara ini lebih gampang dibaca pemilik usaha daripada satu angka doang, soalnya kelihatan seberapa jauh jarak penjualan sekarang dari titik impas.
=A2*$B$3.=$B$2+(A2*$B$4).Tanda dolar di rumus itu penting. Tanpa dikunci, referensi biaya tetap bakal geser waktu rumusnya diseret ke bawah.
Bikin tabel kecil berisi beberapa alternatif harga jual, lalu hitung ulang margin kontribusi dan BEP buat tiap baris. Ini cara paling cepat lihat dampak kenaikan harga ke target penjualan. Semua rumusnya nunjuk ke sel biaya tetap dan biaya variabel yang sama, jadi cukup satu angka yang berubah.
| Harga jual | Margin kontribusi | BEP unit | BEP per hari |
|---|---|---|---|
| Rp 20.000 | Rp 10.500 | 1.048 cup | 41 cup |
| Rp 22.000 | Rp 12.500 | 880 cup | 34 cup |
| Rp 25.000 | Rp 15.500 | 710 cup | 28 cup |
| Rp 28.000 | Rp 18.500 | 595 cup | 23 cup |
Naikin harga dari Rp 20.000 ke Rp 25.000 motong target harian dari 41 cup jadi 28 cup. Turun 32 persen.
Tapi tabel ini nggak ngasih tau berapa pelanggan yang kabur gara-gara harganya naik. Itu bagian yang harus kamu uji sendiri di lapangan, misalnya lewat harga promo dua minggu.
Buat baca angka mana yang layak dipantau rutin dari hasil simulasi ini, konsep metric bisa kamu pakai sebagai saringan.
Margin of safety adalah jarak antara penjualan nyata sama titik impas dalam persen. Rumusnya penjualan aktual dikurangi BEP, dibagi penjualan aktual. Angka ini ngasih tau seberapa besar penjualan boleh turun sebelum kamu mulai rugi.
Kedai Kopi Nusa jual 1.200 cup bulan lalu. Margin of safety-nya 1.200 dikurangi 880, dibagi 1.200, hasilnya 26,7 persen.
Artinya penjualan boleh turun sampai 26,7 persen sebelum kedai mulai nombok. Di bawah 20 persen, posisinya mulai rawan dan biaya tetap perlu ditinjau ulang.
Angka ini paling berguna disandingin sama laporan kas. Cara nyusunnya ada di cash flow di Excel.
Buat baca kondisi keuangan usaha secara lebih luas setelah BEP-nya ketemu, lanjut ke 12 rasio keuangan di Excel. Daftar resmi seluruh fungsi yang dipakai di sini ada di dokumentasi fungsi Excel Microsoft.
BEP unit sama dengan biaya tetap dibagi selisih harga jual dan biaya variabel per unit. Selisih itu namanya margin kontribusi. Buat BEP dalam rupiah, bagi biaya tetap sama rasio margin kontribusi, yaitu margin kontribusi dibagi harga jual. Dua rumus ini ngasih jawaban yang konsisten, jadi pilih yang paling cocok sama cara kamu ngukur target penjualan.
Tanya satu hal: kalau bulan ini kamu nggak jualan sama sekali, biaya itu tetap keluar atau nggak? Sewa, gaji tetap, dan internet tetap keluar, jadi itu biaya tetap. Bahan baku, kemasan, dan komisi penjualan cuma keluar kalau ada transaksi, jadi itu variabel. Biaya campuran kayak listrik dipecah pakai perkiraan pemakaian dasar dan pemakaian tambahan.
Karena biaya variabel per unit kamu lebih besar dari harga jual, jadi margin kontribusinya negatif. Artinya tiap penjualan malah nambah rugi, dan nggak ada jumlah penjualan yang bisa nutup biaya tetap. Solusinya cuma dua: naikin harga jual atau turunin biaya per unit. Bungkus rumusmu pakai IFERROR biar hasil anehnya keliatan sebagai peringatan, bukan angka biasa.
Ikutin periode biaya tetapnya. Kalau kamu masukin sewa dan gaji bulanan, hasil BEP-nya jumlah penjualan per bulan. Kalau pakai angka setahun, hasilnya target setahun. Yang penting jangan campur, misalnya biaya tetap setahun tapi harga jual promo bulan ini. Buat usaha kecil, hitungan bulanan lebih kepakai karena nyambung sama siklus sewa dan gaji.
Margin of safety adalah jarak antara penjualan nyata sama titik impas, ditulis dalam persen. Rumusnya penjualan aktual dikurangi BEP, dibagi penjualan aktual. Kalau kamu jual 1.200 cup sementara BEP-nya 880, margin of safety-nya 26,7 persen. Di bawah 20 persen artinya usahamu gampang goyah kalau penjualan turun sedikit, dan di situ biaya tetap perlu ditinjau ulang.
Dua hal yang bikin hitungan BEP kepakai: biaya tetap dan variabel dipisah dengan jujur, dan hasilnya diterjemahin jadi target harian yang bisa dikejar orang di lapangan.
Coba isi empat sel input pakai angka usahamu sendiri, terus bagi hasilnya sama jumlah hari buka. Angka harian itu yang bakal ngasih tau apakah target kamu masuk akal atau cuma harapan.
Kalau kamu lagi nimbang investasi alat baru dan mau tau balik modalnya kapan, lanjut ke rumus NPV dan IRR di Excel.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Punya ratusan angka dan mau tau sebarannya masuk ke rentang mana aja? FREQUENCY ngitung distribusi frekuensi sekali jalan, tanpa nulis COUNTIFS berkali-kali.
SUMIFS ribet kalau kriterianya banyak dan sering ganti. Rumus database Excel kayak DSUM baca kriteria dari sel terpisah, jadi kamu tinggal ubah tabel kecil tanpa nyentuh rumus.
DATEDIF ngasih umur bulat, tapi kadang kamu butuh angka desimal kayak 27,6 tahun buat hitung masa kerja atau bunga. YEARFRAC ngasih pecahan tahun dengan presisi.