Violin Plot
Gabungan box plot dan kurva densitas: lebar bentuknya menunjukkan di mana data paling padat untuk tiap kelompok.
Diagram biola · nama lain: Violin chart, Bean plot
Bentuk sebaran tiap kelompok ini kayak gimana, satu puncak atau lebih?
Geser chart ke samping untuk lihat semuanya.
Contoh kasus: Gaji karyawan baru per divisi
Tim HR membandingkan gaji awal karyawan baru di divisi Sales, Operasional, dan IT. Box plot-nya terlihat mirip, tapi violin plot divisi IT punya dua gembungan: satu di sekitar Rp6 juta untuk fresh graduate dan satu di Rp12 juta untuk yang berpengalaman. Kebijakan gaji perlu dibahas per level, bukan per divisi.
Apa itu Violin Plot?
Violin plot menggambar kurva densitas secara simetris di kiri dan kanan sumbu, sehingga bentuknya mirip biola. Bagian yang lebar berarti banyak data di nilai itu, bagian yang ramping berarti sedikit. Sering ada box plot kecil atau garis median di dalamnya.
Chart ini menutup kelemahan box plot. Dua kelompok bisa punya median dan kuartil yang sama persis tapi bentuk sebarannya beda total, misalnya satu menumpuk di tengah dan satu lagi punya dua puncak. Violin plot memperlihatkan perbedaan itu tanpa kamu harus menggambar banyak histogram.
Cara membaca
- Lebar bentuk di suatu ketinggian = seberapa padat data di nilai itu.
- Lebih dari satu bagian yang menggembung berarti ada lebih dari satu kelompok tersembunyi.
- Garis atau titik di tengah biasanya menandai median.
Pakai kalau
- Kamu curiga sebaran punya dua puncak yang tertutup di box plot.
- Datamu cukup banyak (ratusan baris per kelompok) untuk estimasi densitas yang stabil.
- Audiensnya analis atau data scientist.
Hindari kalau
- Audiensnya awam. Pakai histogram atau box plot dengan penjelasan singkat.
- Datanya sedikit. Kurva densitas jadi menyesatkan, tampilkan titik asli atau dot plot.
Tips biar chart-nya jelas
Jangan lupa medianya. Tambahkan box plot mini supaya pembaca punya patokan angka.
Potong di rentang data asli. Kurva yang menjulur melewati nilai min dan max bisa bikin salah paham.
Samakan skala lebar. Kalau jumlah data antar kelompok beda jauh, sebutkan di catatan.
Data di balik chart contoh
Ini tabel yang dipakai chart di atas. Coba bikin ulang chart-nya sendiri dari angka yang sama.
| Gaji awal (juta Rp) | Sales | Operasional | IT |
|---|---|---|---|
| 4–5 | 1 | 3 | 0 |
| 5–6 | 4 | 9 | 5 |
| 6–7 | 9 | 8 | 6 |
| 7–8 | 7 | 3 | 3 |
| 8–9 | 3 | 1 | 1 |
| 9–10 | 1 | 0 | 1 |
| 10–11 | 0 | 0 | 2 |
| 11–12 | 0 | 0 | 5 |
| 12–13 | 0 | 0 | 6 |
| 13–14 | 0 | 0 | 2 |
Skenario dan angka contoh, bukan data asli.
Latih ngerangkum data kayak gini di NgulikSQL →Chart serupa
Chart bagus mulai dari data yang rapi.
Belajar ngerangkum data pakai SQL dan spreadsheet, langsung praktek di browser.