Lewati ke konten

Choropleth Map

Peta yang mewarnai tiap wilayah sesuai nilainya, buat nunjukin pola angka antar provinsi atau kota.

Peta tematik (choropleth) · nama lain: Filled map, Peta warna wilayah, Geo chart, Peta choropleth

Pertanyaan yang dijawab

Wilayah mana yang angkanya tinggi atau rendah, dan apakah ada pola geografisnya?

Repeat order 90 hari per provinsi, 2026 (% pelanggan)data contoh
ACEH18%SUMUT21%SUMBAR19%SUMSEL24%DKI34%JABAR31%JATENG33%JATIM41%KALTIM29%SULSEL39%Repeat order 90 hari (% pelanggan)18%41%Warna makin kuat = makin banyak pelanggan belanja lagi

Geser chart ke samping untuk lihat semuanya.

Contoh kasus: Tingkat repeat order per provinsi

Toko online perlengkapan bayi menghitung persentase pelanggan yang belanja lagi dalam 90 hari, per provinsi. Choropleth-nya nunjukin repeat order tinggi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sementara beberapa provinsi di Sumatra masih pucat, jadi tim CRM tahu harus fokus ke mana.

Apa itu Choropleth Map?

Choropleth map mewarnai area seperti provinsi, kabupaten, atau kecamatan dengan intensitas warna sesuai nilainya. Warna pekat untuk nilai tinggi, warna pucat untuk nilai rendah. Dengan begitu, pola regional seperti “tinggi di Jawa, rendah di timur” langsung kelihatan.

Ada satu jebakan besar: luas wilayah. Provinsi yang luas tapi jarang penduduknya akan terlihat dominan di peta walaupun kontribusinya kecil. Karena itu, choropleth paling jujur dipakai untuk angka rasio atau per kapita, misalnya persentase konversi atau penjualan per 1.000 penduduk, bukan total mentah.

Cara membaca

  1. Cocokkan warna wilayah dengan legenda skala warna.
  2. Makin pekat warnanya, makin tinggi nilainya.
  3. Cari kelompok wilayah bertetangga dengan warna mirip: itu pola regionalnya.

Pakai kalau

  • Datamu terikat ke wilayah administratif, misalnya provinsi atau kabupaten.
  • Yang dibandingkan adalah rasio atau rata-rata, bukan total mentah.
  • Kamu ingin melihat pola geografis yang nggak kelihatan di tabel.

Hindari kalau

  • Angkanya total mentah yang sangat dipengaruhi jumlah penduduk. Bubble map atau bar chart lebih jujur.
  • Kamu butuh perbandingan presisi antar wilayah. Bar chart terurut lebih akurat.
  • Wilayah kecil penting tapi nyaris nggak kelihatan di peta, kayak kota-kota di Jawa dibanding provinsi di Papua.

Tips biar chart-nya jelas

01

Pakai rasio. Bagi dengan jumlah penduduk atau jumlah pelanggan supaya luas wilayah nggak menipu.

02

Satu warna bertingkat. Skala sequential satu hue lebih mudah dibaca daripada pelangi.

03

Cek nama wilayah. Samakan ejaan provinsi atau pakai kode BPS supaya nggak ada wilayah kosong di peta.

Data di balik chart contoh

Ini tabel yang dipakai chart di atas. Coba bikin ulang chart-nya sendiri dari angka yang sama.

Data contoh: Repeat order 90 hari per provinsi, 2026 (% pelanggan)
ProvinsiRepeat order (%)
Aceh18
Sumatera Utara21
Sumatera Barat19
Sumatera Selatan24
DKI Jakarta34
Jawa Barat31
Jawa Tengah33
Jawa Timur41
Kalimantan Timur29
Sulawesi Selatan39

Skenario dan angka contoh, bukan data asli.

Latih ngerangkum data kayak gini di NgulikSQL →

Chart serupa

Chart bagus mulai dari data yang rapi.

Belajar ngerangkum data pakai SQL dan spreadsheet, langsung praktek di browser.

Mulai Belajar Gratis