Bullet Chart
Satu batang tipis untuk nilai aktual, garis penanda target, dan pita latar untuk rentang buruk, cukup, dan baik.
Diagram peluru · nama lain: Bullet graph, Grafik bullet, Target vs aktual
Udah sejauh mana angka ini dibanding target, dan kualitasnya masuk kategori apa?
Geser chart ke samping untuk lihat semuanya.
Contoh kasus: Target penjualan kuartal per cabang distributor
Distributor sembako punya target omzet kuartalan untuk cabang Jakarta, Surabaya, dan Medan. Tiga bullet chart yang ditumpuk menunjukkan Jakarta sudah melewati garis target, Surabaya masih di pita cukup, dan Medan tertahan di pita buruk.
Apa itu Bullet Chart?
Bullet chart dirancang Stephen Few sebagai pengganti gauge yang lebih hemat tempat. Isinya tiga lapis: pita latar bertingkat (misalnya buruk, cukup, baik), batang tipis untuk nilai aktual, dan garis tegak pendek untuk target.
Karena bentuknya lurus, beberapa bullet chart bisa ditumpuk rapi untuk banyak KPI sekaligus, misalnya omzet, jumlah pelanggan baru, dan tingkat retur. Pembaca bisa langsung membandingkan panjang batang dengan garis target tanpa harus membaca jarum melingkar.
Cara membaca
- Batang tipis di tengah adalah nilai aktual.
- Garis tegak pendek adalah target: batang yang melewatinya berarti target tercapai.
- Pita latar menunjukkan kualitas nilai: makin pekat biasanya makin buruk atau makin baik, sesuai legenda.
Pakai kalau
- Kamu mau menampilkan beberapa KPI dengan target masing-masing di ruang sempit.
- Kamu mau memberi konteks kualitas (buruk, cukup, baik), bukan cuma tercapai atau nggak.
- Kamu bikin dashboard yang dibaca rutin.
Hindari kalau
- Nggak ada target atau rentang acuan. Bar chart biasa sudah cukup.
- Audiensnya sama sekali belum pernah lihat bullet chart dan nggak ada legenda. Mulai dengan scorecard plus angka target.
Tips biar chart-nya jelas
Pita latar netral. Pakai satu warna dengan intensitas berbeda untuk rentang supaya batang aktual tetap menonjol.
Satu skala per KPI. Tiap bullet chart boleh punya skala sendiri, tapi beri label angka di ujungnya.
Susun vertikal. Tumpuk beberapa bullet chart dan sejajarkan supaya pembaca bisa memindai dari atas ke bawah.
Data di balik chart contoh
Ini tabel yang dipakai chart di atas. Coba bikin ulang chart-nya sendiri dari angka yang sama.
| Cabang | Realisasi | Target | Batas buruk | Batas cukup |
|---|---|---|---|---|
| Jakarta | 12,6 | 12 | 7,2 | 10,8 |
| Surabaya | 7,4 | 9 | 5,4 | 8,1 |
| Medan | 3,1 | 6 | 3,6 | 5,4 |
Skenario dan angka contoh, bukan data asli.
Latih ngerangkum data kayak gini di NgulikSQL →Chart serupa
Chart bagus mulai dari data yang rapi.
Belajar ngerangkum data pakai SQL dan spreadsheet, langsung praktek di browser.