Cara Analisis Laporan Keuangan: Likuiditas, Profitabilitas, Solvabilitas
Blog/Tutorial Excel & Sheets/Cara Analisis Laporan Keuangan: Likuiditas, Profitabilitas, Solvabilitas

Cara Analisis Laporan Keuangan: Likuiditas, Profitabilitas, Solvabilitas

BimaBima
·17 Agustus 2025·11 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Analisis laporan keuangan dilakukan dengan mengubah angka mentah jadi rasio, lalu membandingkannya antar periode. Tiga kelompok yang paling kepakai: likuiditas buat cek kemampuan bayar utang jangka pendek, profitabilitas buat cek seberapa efisien usaha menghasilkan laba, dan solvabilitas buat cek seberapa besar usaha bergantung pada utang. Rasio tunggal gak berarti apa-apa tanpa pembanding.

Analisis laporan keuangan itu proses ngubah angka mentah jadi rasio, terus ngebandingin rasio itu antar periode. Angka Rp 46 juta gak ngomong apa-apa sampai kamu tau dia dibandingin sama apa.

Rasionya sendiri gak banyak. Delapan rasio udah cukup buat usaha kecil, dan semuanya bisa dihitung dari dua laporan yang mungkin udah kamu punya.

Di bawah ini rumusnya, cara nyusunnya di Excel, dan hitungan lengkap dari data toko kelontong nyata.

Apa itu analisis laporan keuangan?

Analisis laporan keuangan adalah cara membaca laporan laba rugi dan neraca dengan mengubah angkanya jadi perbandingan antar pos. Hasilnya berupa rasio yang bisa dibandingkan antar periode atau antar usaha sejenis. Tujuannya bukan bikin angka baru, tapi bikin angka lama bisa dijawab dengan iya atau enggak.

Kamu butuh dua bahan: laporan laba rugi periode itu dan neraca di akhir periode. Kalau belum punya, bikin dulu lewat template laba rugi Excel dan buku besar Excel.

Satu aturan yang bikin analisis kamu gak sia-sia: rasio tunggal gak ada artinya. Yang punya arti itu arah pergerakannya.

Rasio likuiditas: bisa gak bayar utang bulan depan?

Rasio likuiditas ngukur kemampuan usaha nutup utang jangka pendek pakai harta lancar. Harta lancar itu kas, piutang, dan persediaan. Utang lancar itu semua kewajiban yang jatuh tempo dalam setahun.

Current Ratio = Aset Lancar / Utang Lancar
Quick Ratio   = (Aset Lancar - Persediaan) / Utang Lancar
Cash Ratio    = Kas / Utang Lancar

Cara bacanya:

  • Current ratio di bawah 1 artinya utang jangka pendek kamu lebih besar dari harta lancar. Ini lampu kuning, walaupun belum tentu gawat kalau perputaran barangnya cepat.
  • Jarak jauh antara current dan quick ratio artinya sebagian besar harta lancar kamu berbentuk barang. Kalau barangnya lambat kejual, uangnya gak siap dipakai.
  • Current ratio terlalu tinggi juga bukan kabar bagus. Angka 8 atau 9 sering berarti banyak uang nganggur atau stok kebanyakan.

Patokan angka 2 yang sering disebut di buku itu warisan dari industri manufaktur besar. Jangan dipaksain ke toko kelontong.

Rasio profitabilitas: usaha ini efisien gak?

Rasio profitabilitas ngukur seberapa banyak laba yang keluar dari tiap rupiah penjualan atau tiap rupiah harta.

Margin Laba Kotor  = Laba Kotor / Penjualan Bersih
Margin Laba Bersih = Laba Bersih / Penjualan Bersih
ROA                = Laba Bersih / Total Aset

Tiga angka ini jawab pertanyaan yang beda:

  1. Margin laba kotor soal harga jual dan harga kulakan. Kalau turun, cek dulu apakah harga beli naik tapi harga jual belum disesuaiin.
  2. Margin laba bersih soal biaya jalanin usaha. Kalau margin kotor tetap tapi margin bersih turun, biaya operasional kamu yang naik.
  3. ROA soal seberapa produktif harta kamu. Toko dengan stok menumpuk punya ROA rendah walaupun marginnya bagus.

Hati-hati waktu ngebandingin ROA. Kalau kamu hitung dari laba sebulan, angkanya gak bisa disandingin sama ROA industri yang biasanya setahun.

Buat mutusin rasio mana yang layak dipantau rutin, patokannya ada di glosarium KPI.

Rasio solvabilitas dan perputaran: seberapa berat utangnya?

Solvabilitas ngukur porsi utang dalam struktur pendanaan usaha.

Debt to Asset  = Total Utang / Total Aset
Debt to Equity = Total Utang / Total Modal

Debt to asset 0,4 artinya 40% harta kamu dibiayai utang. Makin tinggi, makin besar risikonya waktu penjualan turun, soalnya cicilan jalan terus.

Satu rasio lagi yang paling sering kepakai di usaha dagang tapi jarang dibahas:

Perputaran Persediaan = HPP / Rata-rata Persediaan
Hari Persediaan       = Jumlah Hari Periode / Perputaran Persediaan

Hari persediaan ngasih tau berapa hari rata-rata barang nongkrong di rak sebelum kejual. Angka ini yang paling cepat ngasih sinyal kalau kamu kebanyakan kulakan.

Gimana cara nyusun tabel rasio di Excel?

Enam langkah, sekali bikin dipakai seterusnya.

  1. Bikin sheet rasio. Kolom A isi nama rasio, kolom B dan seterusnya isi periode.
  2. Jangan ketik angka laporan di sini. Semua sel harus merujuk ke sheet labarugi dan neraca. Contoh:
    =IFERROR(neraca!B5/neraca!B12;"")
    Pembungkus errornya dijelasin di IFERROR.
  3. Buat rata-rata persediaan pakai dua periode:
    =AVERAGE(neraca!A6;neraca!B6)
    Cara kerjanya ada di AVERAGE.
  4. Kalau angkanya masih tersebar di tabel transaksi, tarik dulu totalnya pakai SUMIF per kategori.
  5. Tambah kolom arah. Isi rumus yang ngebandingin periode ini sama sebelumnya:
    =IF(C2>B2;"naik";IF(C2<B2;"turun";"tetap"))
    Logika percabangannya ada di IF.
  6. Pasang format bersyarat di baris yang punya batas aman, misalnya current ratio di bawah 1 jadi merah. Warna bikin kamu ngeh sebelum baca angkanya.

Kalau kamu mau naikin ini jadi tampilan pantauan yang lebih enak dibaca, lanjut ke KPI keuangan dashboard.

Contoh kasus: analisis toko_berkah Juli 2025

Dataset ngulikdata punya file toko_berkah, toko kelontong di Bandung. Ini angka dasarnya per akhir Juli 2025.

PosNilai
KasRp 12.850.000
Persediaan akhirRp 25.300.000
Persediaan awalRp 22.100.000
PeralatanRp 8.000.000
Total asetRp 46.150.000
Utang usahaRp 6.400.000
Total modalRp 39.750.000
Penjualan bersihRp 58.400.000
Harga pokok penjualanRp 38.700.000
Laba bersihRp 10.580.000

Hasil rasionya:

RasioHitunganHasil
Current ratio38.150 / 6.4005,96
Quick ratio12.850 / 6.4002,01
Margin laba kotor19.700 / 58.40033,7%
Margin laba bersih10.580 / 58.40018,1%
ROA (satu bulan)10.580 / 46.15022,9%
Debt to asset6.400 / 46.15013,9%
Debt to equity6.400 / 39.75016,1%
Perputaran persediaan38.700 / 23.7001,63 kali per bulan
Hari persediaan31 / 1,6319,0 hari

Sekarang bagian yang menarik.

Current ratio 5,96 kelihatan aman banget. Tapi begitu persediaan dikeluarin, quick ratio jatuh ke 2,01. Artinya dua pertiga harta lancar toko ini berbentuk barang di rak.

Selisih 3,95 poin antara dua rasio itu angka yang paling layak dibahas dari seluruh tabel. Toko ini aman, tapi keamanannya nyangkut di stok.

Hari persediaan 19,0 hari nguatin bacaan tadi. Barang muter kurang dari sebulan, jadi stoknya masih sehat. Kalau angka ini naik ke 35 atau 40 hari, uang toko bakal makin banyak berhenti di rak dan kas bisa seret walaupun laba tetap positif.

Debt to asset 13,9% termasuk ringan. Toko ini punya ruang buat nambah utang kalau mau ekspansi, dan cicilan belum jadi beban.

Yang perlu diwaspadai justru ROA. Angka 22,9% itu buat satu bulan, jadi jangan disandingin sama patokan ROA tahunan mana pun tanpa disesuaiin dulu.

Kesalahan umum waktu analisis laporan keuangan

  • Baca rasio satu periode doang. Tanpa pembanding, angka 5,96 gak bisa dibilang bagus atau jelek. Siapkan minimal tiga periode.
  • Nyampur periode bulanan dan tahunan. Ini yang bikin ROA kelihatan luar biasa padahal cuma salah satuan waktu.
  • Pakai patokan industri mentah-mentah. Struktur biaya warung, bengkel, dan katering beda jauh. Pembanding terbaik itu data kamu sendiri.
  • Nilai persediaan ditebak. Semua rasio yang nyentuh persediaan langsung ikut ngaco. Hitung fisik minimal sebulan sekali.
  • Ngitung rasio pakai angka yang diketik ulang. Sekali salah ketik, kamu ngambil keputusan dari angka palsu. Rujuk selnya langsung.
  • Ngumpulin 25 rasio. Yang gak pernah kamu pakai buat mutusin sesuatu itu bukan ukuran, cuma pekerjaan tambahan. Definisi ukuran yang layak dipantau ada di glosarium metric.

Rutinitas bulanan yang bikin ini kepakai

Sekali sebulan, sisihin 20 menit setelah tutup buku. Buka sheet rasio, lihat kolom arah, terus jawab satu pertanyaan: rasio mana yang bergerak paling jauh dari bulan lalu, dan apa penyebabnya?

Kalau kamu bisa jawab pertanyaan itu tiap bulan, kamu bakal tau masalah keuangan usaha kamu jauh sebelum kasnya kering.

Buat nyusun semua laporannya jadi satu file utuh, mulai dari laporan keuangan Excel. Dan kalau rumus SUMIF sama IFERROR masih bikin kamu buka pencarian tiap kali, kulik latihannya di NgulikSheet sampai jadi kebiasaan.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)
Tutorial Excel & Sheets
19 Juli 2026•9 menit baca

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)

INDEX MATCH gabung dua fungsi buat lookup yang bisa nyari ke kiri dan nggak gampang rusak. Ini alasan banyak analis pindah dari VLOOKUP.

BimaBima
SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)
Tutorial Excel & Sheets
18 Juli 2026•8 menit baca

SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)

SUMPRODUCT ngaliin dua kolom atau lebih baris per baris, terus jumlahin hasilnya. Cocok buat total qty kali harga sampai hitungan bersyarat.

BimaBima
REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)
Tutorial Excel & Sheets
17 Juli 2026•8 menit baca

REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)

REGEXMATCH ngecek apakah teks cocok sama pola tertentu dan balikin TRUE atau FALSE. Cocok buat validasi nomor HP, email, sampai filter data berantakan.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore