Line Chart
Titik data yang disambung garis untuk menunjukkan naik-turun sebuah angka dari waktu ke waktu.
Diagram garis · nama lain: Line graph, Grafik garis, Run chart
Gimana angka ini berubah dari waktu ke waktu?
Geser chart ke samping untuk lihat semuanya.
Contoh kasus: Pesanan harian toko online selama Ramadan
Sebuah toko fashion muslim mencatat jumlah pesanan per hari dari awal sampai akhir Ramadan, lalu merata-ratakannya per tiga hari. Line chart-nya menunjukkan pesanan naik pelan di minggu pertama, lalu melonjak tajam sepuluh hari menjelang Lebaran, dan anjlok tepat setelah cut-off pengiriman di hari ke-27.
Apa itu Line Chart?
Line chart menaruh waktu di sumbu horizontal dan nilai di sumbu vertikal, lalu menyambung tiap titik dengan garis. Hasilnya satu jejak yang gampang diikuti mata: naik, turun, datar, atau tiba-tiba melonjak.
Chart ini bekerja karena mata kita jago membaca kemiringan. Garis yang menanjak langsung terbaca sebagai pertumbuhan, dan pola berulang seperti musiman atau lonjakan akhir pekan kelihatan tanpa perlu baca angka satu per satu. Beberapa garis juga bisa ditaruh berdampingan untuk membandingkan tren.
Cara membaca
- Ikuti garis dari kiri ke kanan: arah kemiringannya menunjukkan naik atau turun.
- Perhatikan puncak, lembah, dan titik belok, lalu cocokkan dengan tanggalnya.
- Kalau ada beberapa garis, bandingkan jarak antar garis di periode yang sama, bukan cuma bentuknya.
Pakai kalau
- Kamu punya data berurutan waktu (harian, mingguan, bulanan) dan mau lihat trennya.
- Kamu mau membandingkan tren 2 sampai 5 kelompok sekaligus, misalnya penjualan per cabang.
- Titik datanya banyak sehingga batang jadi terlalu padat.
Hindari kalau
- Sumbu horizontalnya kategori tanpa urutan (nama produk, kota). Pakai bar chart.
- Garisnya lebih dari 5 sampai 6 dan saling tumpang tindih kayak benang kusut. Pecah jadi small multiples atau sorot satu garis saja.
- Kamu cuma punya 2 sampai 3 titik waktu. Column chart atau slope chart lebih jujur.
Tips biar chart-nya jelas
Label langsung di ujung garis. Taruh nama seri di ujung kanan garis supaya pembaca nggak bolak-balik ke legenda.
Sumbu Y nggak wajib dari nol. Beda dengan bar chart, line chart boleh dipotong asal skalanya jelas dan nggak menyesatkan.
Sorot yang penting. Warnai satu garis utama dengan warna kuat dan sisanya abu-abu.
Data di balik chart contoh
Ini tabel yang dipakai chart di atas. Coba bikin ulang chart-nya sendiri dari angka yang sama.
| Hari Ramadan | Pesanan per hari |
|---|---|
| 1–3 | 84 |
| 4–6 | 92 |
| 7–9 | 105 |
| 10–12 | 118 |
| 13–15 | 131 |
| 16–18 | 152 |
| 19–21 | 214 |
| 22–24 | 286 |
| 25–27 | 318 |
| 28–30 | 96 |
Skenario dan angka contoh, bukan data asli.
Latih ngerangkum data kayak gini di NgulikSQL →Chart serupa
Chart bagus mulai dari data yang rapi.
Belajar ngerangkum data pakai SQL dan spreadsheet, langsung praktek di browser.