TL;DR
Template SWOT dengan skoring otomatis di Google Sheets dibuat dengan nambah dua kolom di tiap kuadran: bobot (seberapa penting) dan nilai (seberapa kuat kondisinya). Skor tiap kuadran dihitung pakai SUMPRODUCT antara bobot dan nilai. Selisih skor Strength dikurangi Weakness, dan Opportunity dikurangi Threat, jadi koordinat posisi strategi kamu.
SWOT yang cuma daftar poin di 4 kotak gampang dibikin tapi susah dipakai. Semua orang setuju daftarnya, nggak ada yang tau harus ngapain setelah itu.
Yang bikin SWOT jadi berguna adalah bobot. Begitu tiap poin punya angka kepentingan dan angka kekuatan, kamu bisa bandingin kuadran mana yang paling berat.
Di panduan ini kita bikin template SWOT di Google Sheets yang skornya kehitung otomatis. Contohnya pakai Warung Berkah, UMKM sembako di Bekasi dengan omzet Rp 198 juta per bulan.
SWOT dengan skoring adalah analisis SWOT biasa yang tiap poinnya dikasih dua angka: bobot kepentingan dan nilai kondisi saat ini. Dua angka itu dikali lalu dijumlahkan per kuadran, jadi tiap kuadran punya satu skor total. Skor itu yang dipakai buat bandingin kekuatan internal lawan kelemahan, dan peluang lawan ancaman.
Hasil akhirnya sepasang angka. Sumbu internal (S dikurangi W) dan sumbu eksternal (O dikurangi T). Dua angka itu nunjukin strategi mana yang paling masuk akal.
Bikin 1 file dengan 3 tab:
Di tab Input, susun kolomnya begini:
| Kolom | Isi | Contoh |
|---|---|---|
| A | Kuadran (S, W, O, T) | S |
| B | Poin | Lokasi di depan pasar |
| C | Bobot 1 sampai 5 | 5 |
| D | Nilai 1 sampai 4 | 4 |
| E | Skor (C dikali D) | 20 |
| F | Catatan bukti | Trafik 320 orang per hari |
Blok kolom A mulai baris 2. Buka menu Data, pilih Validasi data, tambahkan aturan dengan daftar isi: S, W, O, T.
Lakukan hal sama buat kolom C (angka 1 sampai 5) dan kolom D (angka 1 sampai 4).
Dropdown ini kelihatan sepele. Tapi begitu 4 orang ngisi file yang sama, ini yang nyegah ada yang nulis "Strength" dan ada yang nulis "kekuatan".
Di sel E2, tulis:
=IF(OR(C2="";D2="");"";C2*D2)
Bungkus IF supaya baris kosong nggak nampilin angka 0 yang bikin tabel berantakan.
Kalau kamu pakai Google Sheets dengan pemisah koma, ganti titik koma jadi koma:
=IF(OR(C2="",D2=""),"",C2*D2)
Tarik ke bawah sampai baris 60. Segitu cukup buat 15 poin per kuadran.
Pindah ke tab Skor. Di sel B2 sampai B5, tulis nama kuadran S, W, O, T. Lalu di C2:
=SUMPRODUCT((Input!$A$2:$A$60=B2)*(Input!$C$2:$C$60)*(Input!$D$2:$D$60))
Rumus SUMPRODUCT ini ngalikan bobot dan nilai cuma buat baris yang kuadrannya cocok, lalu menjumlahkan semuanya. Satu rumus, nggak perlu tabel bantu.
Kalau kamu lebih nyaman pakai SUMIF ke kolom E yang udah dihitung, boleh juga:
=SUMIF(Input!$A$2:$A$60;B2;Input!$E$2:$E$60)
Dua-duanya kasih hasil sama. SUMPRODUCT lebih aman kalau kolom E kehapus orang.
Masalah umum: kuadran yang poinnya lebih banyak otomatis skornya lebih besar. Kalau Strength ada 9 poin dan Weakness cuma 4, Strength pasti menang walau isinya remeh.
Perbaiki dengan skor rata-rata per poin:
=IFERROR(C2/COUNTIF(Input!$A$2:$A$60;B2);0)
COUNTIF ngitung berapa poin di kuadran itu, dan IFERROR nahan error kalau kuadrannya masih kosong.
Pakai skor rata-rata buat bandingin kuadran. Pakai skor total buat lihat beban keseluruhan.
Dua sel terakhir yang jadi inti template ini:
Sumbu internal =D2-D3 (rata-rata S dikurangi rata-rata W)
Sumbu eksternal =D4-D5 (rata-rata O dikurangi rata-rata T)
Baca hasilnya begini:
| Internal | Eksternal | Arah strategi |
|---|---|---|
| Positif | Positif | Perluas, tambah kapasitas atau cabang |
| Positif | Negatif | Pertahankan pasar, cari segmen baru |
| Negatif | Positif | Benahi internal dulu sebelum ekspansi |
| Negatif | Negatif | Fokus efisiensi, kurangi lini yang rugi |
Tambahin kalimat otomatis biar orang non-teknis langsung ngerti:
=IF(AND(F2>0;F3>0);"Ekspansi";IF(AND(F2>0;F3<=0);"Pertahankan pasar";IF(AND(F2<=0;F3>0);"Benahi internal";"Efisiensi")))
Warung Berkah punya omzet Rp 198 juta per bulan dari 1 lokasi, dengan 4.610 transaksi. Owner-nya lagi mikir buka cabang kedua.
Isi SWOT-nya setelah diberi bobot:
| Kuadran | Jumlah poin | Skor total | Skor rata-rata |
|---|---|---|---|
| Strength | 6 | 84 | 14,0 |
| Weakness | 5 | 62 | 12,4 |
| Opportunity | 4 | 44 | 11,0 |
| Threat | 5 | 71 | 14,2 |
Sumbu internal: 14,0 dikurangi 12,4 sama dengan +1,6. Sumbu eksternal: 11,0 dikurangi 14,2 sama dengan -3,2.
Artinya internal lumayan kuat tapi kondisi luar berat. Arah yang keluar dari template: pertahankan pasar dulu, jangan buka cabang.
Yang paling nolong bukan angkanya, tapi apa yang muncul saat diskusi bobot. Ancaman terbesar ternyata bukan minimarket baru (bobot 4, nilai 3), tapi kenaikan harga sewa yang kontraknya habis 8 bulan lagi (bobot 5, nilai 4). Poin itu awalnya cuma satu baris kecil di daftar dan hampir kelewat.
Taruh di tab Panduan, tulis persis kayak gini:
Bobot (seberapa penting buat bisnis): 1 nyaris nggak ngaruh, 3 lumayan ngaruh, 5 ngaruh langsung ke omzet atau biaya.
Nilai (seberapa kuat kondisinya sekarang): 1 lemah banget, 2 lemah, 3 kuat, 4 kuat banget. Buat kuadran W dan T, nilai tinggi artinya masalahnya besar.
Skala nilai sengaja cuma 4 angka biar orang nggak numpuk di tengah. Kalau ada opsi 3 dari skala 5, mayoritas orang bakal milih itu terus dan datanya jadi rata.
Kunci tab Skor lewat menu Data, pilih Sheet dan rentang terlindungi. Kasih akses edit cuma ke tab Input.
Buat versi tiap kuartal, duplikat filenya dan kasih nama dengan tanggal. Jangan timpa file lama, soalnya perbandingan antar kuartal itu yang paling berguna setelah setahun.
Detail cara mengunci rentang bisa kamu cek di dokumentasi bantuan Google Sheets.
SWOT biasa cuma daftar poin di 4 kotak tanpa urutan kepentingan. SWOT dengan skoring nambah bobot dan nilai di tiap poin, jadi kamu bisa lihat kuadran mana yang paling berat secara angka. Hasilnya bisa dibandingin antar periode atau antar unit bisnis, hal yang nggak bisa dilakukan dengan daftar poin doang.
Inti hitungannya SUMPRODUCT, yang ngalikan kolom bobot dan kolom nilai lalu menjumlahkan hasilnya per kuadran. Buat rata-rata per poin, bagi hasil SUMPRODUCT dengan COUNTIF jumlah poin di kuadran itu. Tambahin IFERROR supaya sheet nggak nampilin error waktu kuadrannya masih kosong.
Lima sampai delapan poin per kuadran. Kurang dari 4 biasanya kelewat hal penting, lebih dari 10 bikin bobotnya encer dan diskusinya melebar ke mana-mana. Kalau daftar awal kamu 20 poin, gabungkan yang mirip dulu sebelum dikasih bobot.
Minimal 3 orang dari peran berbeda, misalnya owner, kepala operasional, dan orang penjualan. Isi terpisah dulu supaya nggak saling ikut-ikutan, baru dirata-ratakan. Poin yang bobotnya beda jauh antar pengisi itu justru sinyal ada informasi yang belum dibagi ke semua orang.
Bisa, semua rumusnya jalan di Excel dengan penyesuaian pemisah argumen jadi koma. Validasi data juga ada di Excel lewat menu Data. Yang beda cuma cara berbagi filenya, di Excel kamu perlu OneDrive atau SharePoint supaya beberapa orang bisa ngisi bareng.
Tambahin bobot dan nilai ke tiap poin SWOT, hitung pakai SUMPRODUCT, lalu bandingin pakai rata-rata per poin.
Dua angka akhirnya (internal dan eksternal) yang nunjukin arah strategi, dan diskusi soal bobot biasanya lebih berharga dari skor akhirnya.
Mau lanjut? Pelajari SUMPRODUCT lebih dalam, atau baca perbandingan Copilot dan ChatGPT kalau kamu mau bantuan AI waktu nyusun rumusnya.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Punya ratusan angka dan mau tau sebarannya masuk ke rentang mana aja? FREQUENCY ngitung distribusi frekuensi sekali jalan, tanpa nulis COUNTIFS berkali-kali.
SUMIFS ribet kalau kriterianya banyak dan sering ganti. Rumus database Excel kayak DSUM baca kriteria dari sel terpisah, jadi kamu tinggal ubah tabel kecil tanpa nyentuh rumus.
DATEDIF ngasih umur bulat, tapi kadang kamu butuh angka desimal kayak 27,6 tahun buat hitung masa kerja atau bunga. YEARFRAC ngasih pecahan tahun dengan presisi.