TL;DR
Pembukuan sederhana untuk usaha kecil cukup pakai lima buku: buku kas, buku penjualan, buku pembelian, buku stok, dan buku utang piutang. Buku kas jadi pusatnya karena semua uang masuk dan keluar lewat sana, sedangkan empat buku lain ngasih rincian yang bikin angkanya bisa dijelasin. Kelimanya bisa dikerjain di satu file spreadsheet dengan lima sheet, dan waktu ngisinya sekitar 15 menit sehari.
Pembukuan sederhana untuk usaha kecil cukup pakai lima buku: kas, penjualan, pembelian, stok, dan utang piutang. Nggak perlu ngerti debit kredit dulu, nggak perlu software akuntansi.
Yang bikin banyak pemilik usaha nyerah bukan kerumitannya. Tapi karena mereka mulai dari buku besar dan jurnal umum, padahal itu bukan pintu masuknya.
Di bawah ini isi tiap buku, kolomnya apa aja, rumus yang perlu dipasang, dan ritme ngisinya. Semuanya muat di satu file spreadsheet.
Pembukuan sederhana adalah cara nyatet transaksi usaha yang cukup buat jawab empat pertanyaan: uangku sekarang berapa, bulan ini untung berapa, barangku sisa berapa, dan siapa yang belum bayar. Bentuknya catatan berkolom, bukan jurnal berpasangan debit kredit.
Bedanya sama akuntansi penuh, pembukuan sederhana nggak ngurusin penyusutan aset, penyesuaian akhir periode, atau neraca berpasangan. Buat warung, toko kelontong, katering rumahan, atau jasa perorangan, itu udah lebih dari cukup.
Yang bikin dia kepakai lama justru kesederhanaannya. Catatan yang bisa kamu isi 15 menit sehari bakal jalan setahun. Sistem rumit yang butuh sejam bakal mati dalam dua minggu.
Karena satu buku cuma bisa jawab satu pertanyaan. Buku kas tahu uangmu berapa, tapi dia nggak tahu barang di rak sisa berapa. Buku penjualan tahu omzetmu, tapi dia nggak tahu siapa yang belum bayar.
Ada satu gejala yang hampir selalu muncul di usaha yang cuma punya satu buku: catatan bilang untung, tapi uang di laci tipis. Penyebabnya biasanya dua, stok kegedean atau piutang numpuk. Dua-duanya nggak kelihatan dari buku kas.
Lima buku itu bukan lima file. Satu file spreadsheet, lima sheet. Angka di antaranya nyambung lewat rumus, jadi kamu ngetik sekali.
Lima buku berikut disusun dari yang paling wajib ke yang paling situasional. Kalau kamu baru mulai, kerjain nomor 1 dulu selama seminggu, baru tambah yang lain. Nambah lima buku sekaligus di hari pertama itu resep buat berhenti di hari ketiga.
Ini pusatnya. Semua uang yang masuk dan keluar dicatat di sini, apa pun sumbernya.
| Kolom | Isi |
|---|---|
| Tanggal | Format tanggal, bukan teks |
| Keterangan | Apa yang terjadi, singkat |
| Kategori | Dropdown: Penjualan, Kulakan, Gaji, Sewa, Prive, dll. |
| Masuk | Angka saja |
| Keluar | Angka saja |
| Saldo | Rumus, jangan diketik |
' Saldo berjalan, pasang di F3 lalu tarik ke bawah
=IF(A3="", "", F2 + N(D3) - N(E3))
Aturan mainnya satu: saldo di kolom F harus sama sama uang fisik di laci tiap malam. Kalau beda, cari hari itu juga.
Nyatet transaksi jual, bukan uangnya. Ini beda dari buku kas, dan bedanya penting.
Kalau pelanggan ngutang, penjualannya tetap kecatat di sini walaupun uangnya belum masuk. Kolom "cara bayar" yang ngebedain.
| Kolom | Isi |
|---|---|
| Tanggal | Tanggal transaksi |
| Nomor nota | Buat ditelusuri kalau ada selisih |
| Nama produk | Ambil dari daftar produk |
| Qty | Jumlah unit |
| Harga jual | Per unit |
| Total | Qty dikali harga jual |
| Cara bayar | Tunai, transfer, atau utang |
' Omzet bulan berjalan
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F,
Penjualan!$A:$A, ">="&$B$1,
Penjualan!$A:$A, "<="&$B$2)
' Omzet yang belum jadi uang
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F, Penjualan!$G:$G, "utang")
Rumus kedua itu yang sering bikin kaget. Detail argumennya ada di halaman fungsi SUMIFS.
Nyatet barang yang kamu beli buat dijual lagi, plus belanja operasional. Isinya mirip buku penjualan, tapi arahnya kebalik.
Kolom yang wajib ada: tanggal, nama supplier, nama barang, qty, harga beli, total, dan cara bayar. Kolom supplier yang paling sering dilupain, padahal dia yang bikin kamu bisa jawab "supplier mana yang paling mahal buat barang yang sama".
' Total belanja per supplier bulan ini
=SUMIFS(Pembelian!$F:$F,
Pembelian!$B:$B, $I2,
Pembelian!$A:$A, ">="&$B$1,
Pembelian!$A:$A, "<="&$B$2)
Harga beli di buku ini juga yang jadi dasar hitung harga pokok penjualan. Tanpa itu, laba kotormu cuma tebakan.
Nyatet barang masuk, barang keluar, dan sisa. Dia yang jawab pertanyaan "kenapa untung tapi nggak ada uang".
Struktur paling gampang: satu sheet daftar barang, satu sheet mutasi. Sheet mutasi isinya tanggal, kode barang, masuk, keluar, dan keterangan.
' Sisa stok per kode barang
=SUMIFS(Mutasi!$C:$C, Mutasi!$B:$B, $A2)
-SUMIFS(Mutasi!$D:$D, Mutasi!$B:$B, $A2)
' Peringatan stok menipis
=IF(B2 <= C2, "Kulakan", "Aman")
Kolom C di rumus kedua itu batas minimum yang kamu tentuin sendiri per barang. Isi angkanya dari kebiasaan: berapa unit laku dalam waktu tunggu kulakan.
Dua tabel terpisah dengan struktur sama. Piutang buat yang ngutang ke kamu, utang buat yang kamu utangi.
| Kolom | Isi |
|---|---|
| Tanggal | Kapan utangnya terjadi |
| Nama | Pelanggan atau supplier |
| Nominal | Jumlah awal |
| Sudah bayar | Akumulasi cicilan |
| Sisa | Rumus |
| Umur | Rumus, dalam hari |
| Status | Rumus |
' Umur piutang dalam hari
=IF(F2=0, "Lunas", TODAY() - A2)
' Status penagihan
=IF(F2=0, "Lunas",
IF(TODAY()-A2 > 30, "Tagih sekarang",
IF(TODAY()-A2 > 14, "Ingatkan", "Aman")))
Kolom umur ini yang paling sering bikin orang kaget waktu pertama dipasang. Penjelasan fungsinya ada di halaman fungsi TODAY.
Alurnya searah dan cuma tiga titik sambung. Kalau tiga titik ini kamu jaga, kelima bukumu bakal konsisten tanpa perlu rekonsiliasi ribet di akhir bulan.
Buat ngecek sambungannya benar, pasang satu penjaga di sheet ringkasan.
' Omzet tunai harusnya sama dengan uang masuk kategori Penjualan
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F, Penjualan!$G:$G, "tunai")
-SUMIFS(Kas!$D:$D, Kas!$C:$C, "Penjualan")
Hasilnya harus nol. Kalau nggak, ada transaksi yang kecatat di satu buku doang.
Ritme yang realistis itu tiga lapis, dan totalnya nggak sampai sejam seminggu. Yang bikin pembukuan mati bukan beban kerjanya, tapi nggak adanya waktu tetap.
Harian, sekitar 15 menit saat tutup toko: isi buku kas dan buku penjualan, lalu cocokin saldo sama uang fisik.
Saat ada kejadian: isi buku pembelian dan mutasi stok tiap kali kulakan datang. Isi buku piutang tiap kali ada yang ngutang atau bayar.
Mingguan, sekitar 20 menit: cek daftar piutang yang umurnya lewat 14 hari, lalu cek daftar barang yang statusnya "Kulakan".
Bulanan, sekitar 30 menit: hitung omzet, harga pokok, dan beban. Cocokin stok fisik sama catatan lewat stok opname.
Dataset ngulikdata punya catatan toko_berkah, warung kelontong di Semarang dengan 142 produk. Tiga bulan pertama tercatat omzet Rp 183.120.000 dari 8.400 transaksi.
Sebelum lima buku ini dipasang, yang ada cuma catatan penjualan harian. Untung keliatan sehat, tapi pemiliknya sering kehabisan uang buat kulakan.
Begitu buku piutang dan buku stok jalan, penyebabnya kelihatan dalam dua minggu:
| Temuan | Nilai | Artinya |
|---|---|---|
| Piutang warung langganan | Rp 8.700.000 | Omzet yang belum jadi uang |
| Piutang umur di atas 30 hari | Rp 3.150.000 | 36% dari total piutang |
| Nilai stok di rak | Rp 62.500.000 | Uang yang nganggur di barang |
| Produk yang nggak laku 60 hari | 23 dari 142 item | Rp 7,4 juta stok mati |
Angka yang paling nampol: 23 produk nggak bergerak selama 60 hari, dan nilainya Rp 7,4 juta. Itu setara satu setengah kali uang kas yang tersisa waktu itu.
Tindakan yang diambil: 23 produk itu didiskon buat dihabiskan, dan pelanggan dengan piutang di atas 30 hari ditagih satu per satu. Dalam sebulan, kas naik cukup buat kulakan tanpa nunda.
Nggak ada omzet baru di situ. Yang berubah cuma uang yang tadinya nyangkut jadi cair.
Kalau kamu cuma sanggup satu, ambil buku kas. Dia nyatet semua uang masuk dan keluar, dan dari situ kamu tahu posisi uangmu tiap hari. Begitu usahamu mulai ngutangin pelanggan atau punya stok besar, tambah buku utang piutang dan buku stok. Buku penjualan dan pembelian nyusul kalau kamu mau tahu produk mana yang untung.
Buku kas nyatet pergerakan uang, buku penjualan nyatet transaksi jual. Dua-duanya beda karena nggak semua penjualan langsung jadi uang. Kalau pelanggan ngutang, penjualannya kecatat di buku penjualan tapi uangnya belum masuk buku kas. Selisih itu yang nongol di buku piutang, dan itu sebabnya kamu butuh lebih dari satu buku.
Bisa buat usaha yang benar-benar kecil, misalnya di bawah 15 transaksi sehari dan semuanya tunai. Satu buku kas dengan kolom kategori udah cukup. Begitu ada utang, piutang, atau stok yang nilainya besar, satu buku mulai nyembunyiin masalah. Untung di kertas tapi kas tipis itu gejalanya, dan penyebabnya cuma kelihatan kalau bukunya dipisah.
Sekitar 15 menit kalau rutin. Buku kas dan penjualan diisi tiap tutup toko. Buku pembelian dan stok cuma diisi saat ada kulakan, jadi nggak tiap hari. Buku utang piutang diperbarui saat ada yang ngutang atau bayar. Yang bikin lama itu numpuk seminggu, bukan jumlah bukunya.
Tandanya ada tiga. Kamu mulai punya aset besar yang disusutkan kayak kendaraan atau mesin. Kamu butuh laporan keuangan resmi buat pinjaman bank atau investor. Atau transaksimu lewat 500 baris per bulan dan diinput lebih dari satu orang. Sebelum salah satu dari itu kejadian, lima buku ini masih cukup.
Tiga hal yang perlu kamu pegang. Buku kas itu pusatnya, dan saldonya harus cocok sama uang laci tiap malam. Buku piutang dan buku stok yang jawab kenapa untung tapi nggak ada uang. Dan lima buku ini muat di satu file, bukan lima file terpisah.
Mulai dari yang paling kecil malam ini: bikin sheet buku kas, isi saldo awal dari uang di lacimu, lalu catat transaksi hari ini. Empat buku lain nyusul minggu depan.
Kalau catatanmu masih di buku tulis, baca dulu cara mindahin pembukuan tulis tangan ke spreadsheet. Kalau kamu mau lihat bentuk jadinya, cek contoh pembukuan sederhana. Daftar rumus spreadsheet yang kepakai di sini bisa kamu telusuri lewat daftar fungsi resmi Google Sheets.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Punya ratusan angka dan mau tau sebarannya masuk ke rentang mana aja? FREQUENCY ngitung distribusi frekuensi sekali jalan, tanpa nulis COUNTIFS berkali-kali.
SUMIFS ribet kalau kriterianya banyak dan sering ganti. Rumus database Excel kayak DSUM baca kriteria dari sel terpisah, jadi kamu tinggal ubah tabel kecil tanpa nyentuh rumus.
DATEDIF ngasih umur bulat, tapi kadang kamu butuh angka desimal kayak 27,6 tahun buat hitung masa kerja atau bunga. YEARFRAC ngasih pecahan tahun dengan presisi.