Pembukuan Sederhana: 5 Buku Dasar yang Cukup untuk Usaha Kecil
Blog/Tutorial Excel & Sheets/Pembukuan Sederhana: 5 Buku Dasar yang Cukup untuk Usaha Kecil

Pembukuan Sederhana: 5 Buku Dasar yang Cukup untuk Usaha Kecil

BimaBima
·12 Agustus 2025·12 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Pembukuan sederhana untuk usaha kecil cukup pakai lima buku: buku kas, buku penjualan, buku pembelian, buku stok, dan buku utang piutang. Buku kas jadi pusatnya karena semua uang masuk dan keluar lewat sana, sedangkan empat buku lain ngasih rincian yang bikin angkanya bisa dijelasin. Kelimanya bisa dikerjain di satu file spreadsheet dengan lima sheet, dan waktu ngisinya sekitar 15 menit sehari.

Pembukuan sederhana untuk usaha kecil cukup pakai lima buku: kas, penjualan, pembelian, stok, dan utang piutang. Nggak perlu ngerti debit kredit dulu, nggak perlu software akuntansi.

Yang bikin banyak pemilik usaha nyerah bukan kerumitannya. Tapi karena mereka mulai dari buku besar dan jurnal umum, padahal itu bukan pintu masuknya.

Di bawah ini isi tiap buku, kolomnya apa aja, rumus yang perlu dipasang, dan ritme ngisinya. Semuanya muat di satu file spreadsheet.

Apa itu pembukuan sederhana?

Pembukuan sederhana adalah cara nyatet transaksi usaha yang cukup buat jawab empat pertanyaan: uangku sekarang berapa, bulan ini untung berapa, barangku sisa berapa, dan siapa yang belum bayar. Bentuknya catatan berkolom, bukan jurnal berpasangan debit kredit.

Bedanya sama akuntansi penuh, pembukuan sederhana nggak ngurusin penyusutan aset, penyesuaian akhir periode, atau neraca berpasangan. Buat warung, toko kelontong, katering rumahan, atau jasa perorangan, itu udah lebih dari cukup.

Yang bikin dia kepakai lama justru kesederhanaannya. Catatan yang bisa kamu isi 15 menit sehari bakal jalan setahun. Sistem rumit yang butuh sejam bakal mati dalam dua minggu.

Kenapa lima buku, bukan satu?

Karena satu buku cuma bisa jawab satu pertanyaan. Buku kas tahu uangmu berapa, tapi dia nggak tahu barang di rak sisa berapa. Buku penjualan tahu omzetmu, tapi dia nggak tahu siapa yang belum bayar.

Ada satu gejala yang hampir selalu muncul di usaha yang cuma punya satu buku: catatan bilang untung, tapi uang di laci tipis. Penyebabnya biasanya dua, stok kegedean atau piutang numpuk. Dua-duanya nggak kelihatan dari buku kas.

Lima buku itu bukan lima file. Satu file spreadsheet, lima sheet. Angka di antaranya nyambung lewat rumus, jadi kamu ngetik sekali.

Buku apa aja yang wajib kamu punya?

Lima buku berikut disusun dari yang paling wajib ke yang paling situasional. Kalau kamu baru mulai, kerjain nomor 1 dulu selama seminggu, baru tambah yang lain. Nambah lima buku sekaligus di hari pertama itu resep buat berhenti di hari ketiga.

1. Buku kas

Ini pusatnya. Semua uang yang masuk dan keluar dicatat di sini, apa pun sumbernya.

KolomIsi
TanggalFormat tanggal, bukan teks
KeteranganApa yang terjadi, singkat
KategoriDropdown: Penjualan, Kulakan, Gaji, Sewa, Prive, dll.
MasukAngka saja
KeluarAngka saja
SaldoRumus, jangan diketik
' Saldo berjalan, pasang di F3 lalu tarik ke bawah
=IF(A3="", "", F2 + N(D3) - N(E3))

Aturan mainnya satu: saldo di kolom F harus sama sama uang fisik di laci tiap malam. Kalau beda, cari hari itu juga.

2. Buku penjualan

Nyatet transaksi jual, bukan uangnya. Ini beda dari buku kas, dan bedanya penting.

Kalau pelanggan ngutang, penjualannya tetap kecatat di sini walaupun uangnya belum masuk. Kolom "cara bayar" yang ngebedain.

KolomIsi
TanggalTanggal transaksi
Nomor notaBuat ditelusuri kalau ada selisih
Nama produkAmbil dari daftar produk
QtyJumlah unit
Harga jualPer unit
TotalQty dikali harga jual
Cara bayarTunai, transfer, atau utang
' Omzet bulan berjalan
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F,
        Penjualan!$A:$A, ">="&$B$1,
        Penjualan!$A:$A, "<="&$B$2)

' Omzet yang belum jadi uang
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F, Penjualan!$G:$G, "utang")

Rumus kedua itu yang sering bikin kaget. Detail argumennya ada di halaman fungsi SUMIFS.

3. Buku pembelian

Nyatet barang yang kamu beli buat dijual lagi, plus belanja operasional. Isinya mirip buku penjualan, tapi arahnya kebalik.

Kolom yang wajib ada: tanggal, nama supplier, nama barang, qty, harga beli, total, dan cara bayar. Kolom supplier yang paling sering dilupain, padahal dia yang bikin kamu bisa jawab "supplier mana yang paling mahal buat barang yang sama".

' Total belanja per supplier bulan ini
=SUMIFS(Pembelian!$F:$F,
        Pembelian!$B:$B, $I2,
        Pembelian!$A:$A, ">="&$B$1,
        Pembelian!$A:$A, "<="&$B$2)

Harga beli di buku ini juga yang jadi dasar hitung harga pokok penjualan. Tanpa itu, laba kotormu cuma tebakan.

4. Buku stok

Nyatet barang masuk, barang keluar, dan sisa. Dia yang jawab pertanyaan "kenapa untung tapi nggak ada uang".

Struktur paling gampang: satu sheet daftar barang, satu sheet mutasi. Sheet mutasi isinya tanggal, kode barang, masuk, keluar, dan keterangan.

' Sisa stok per kode barang
=SUMIFS(Mutasi!$C:$C, Mutasi!$B:$B, $A2)
 -SUMIFS(Mutasi!$D:$D, Mutasi!$B:$B, $A2)

' Peringatan stok menipis
=IF(B2 <= C2, "Kulakan", "Aman")

Kolom C di rumus kedua itu batas minimum yang kamu tentuin sendiri per barang. Isi angkanya dari kebiasaan: berapa unit laku dalam waktu tunggu kulakan.

5. Buku utang piutang

Dua tabel terpisah dengan struktur sama. Piutang buat yang ngutang ke kamu, utang buat yang kamu utangi.

KolomIsi
TanggalKapan utangnya terjadi
NamaPelanggan atau supplier
NominalJumlah awal
Sudah bayarAkumulasi cicilan
SisaRumus
UmurRumus, dalam hari
StatusRumus
' Umur piutang dalam hari
=IF(F2=0, "Lunas", TODAY() - A2)

' Status penagihan
=IF(F2=0, "Lunas",
   IF(TODAY()-A2 > 30, "Tagih sekarang",
   IF(TODAY()-A2 > 14, "Ingatkan", "Aman")))

Kolom umur ini yang paling sering bikin orang kaget waktu pertama dipasang. Penjelasan fungsinya ada di halaman fungsi TODAY.

Gimana kelima buku itu nyambung?

Alurnya searah dan cuma tiga titik sambung. Kalau tiga titik ini kamu jaga, kelima bukumu bakal konsisten tanpa perlu rekonsiliasi ribet di akhir bulan.

  1. Penjualan tunai masuk ke buku kas. Penjualan utang masuk ke buku piutang, dan baru pindah ke buku kas pas dibayar.
  2. Pembelian ngurangi buku kas dan nambah buku stok. Kalau belinya utang, dia nambah buku utang dulu.
  3. Setiap barang yang terjual ngurangi buku stok. Ini yang paling sering kelewat, dan akibatnya stok di catatan selalu lebih besar dari kenyataan.

Buat ngecek sambungannya benar, pasang satu penjaga di sheet ringkasan.

' Omzet tunai harusnya sama dengan uang masuk kategori Penjualan
=SUMIFS(Penjualan!$F:$F, Penjualan!$G:$G, "tunai")
 -SUMIFS(Kas!$D:$D, Kas!$C:$C, "Penjualan")

Hasilnya harus nol. Kalau nggak, ada transaksi yang kecatat di satu buku doang.

Gimana ritme ngisinya?

Ritme yang realistis itu tiga lapis, dan totalnya nggak sampai sejam seminggu. Yang bikin pembukuan mati bukan beban kerjanya, tapi nggak adanya waktu tetap.

Harian, sekitar 15 menit saat tutup toko: isi buku kas dan buku penjualan, lalu cocokin saldo sama uang fisik.

Saat ada kejadian: isi buku pembelian dan mutasi stok tiap kali kulakan datang. Isi buku piutang tiap kali ada yang ngutang atau bayar.

Mingguan, sekitar 20 menit: cek daftar piutang yang umurnya lewat 14 hari, lalu cek daftar barang yang statusnya "Kulakan".

Bulanan, sekitar 30 menit: hitung omzet, harga pokok, dan beban. Cocokin stok fisik sama catatan lewat stok opname.

Contoh kasus: lima buku di toko_berkah

Dataset ngulikdata punya catatan toko_berkah, warung kelontong di Semarang dengan 142 produk. Tiga bulan pertama tercatat omzet Rp 183.120.000 dari 8.400 transaksi.

Sebelum lima buku ini dipasang, yang ada cuma catatan penjualan harian. Untung keliatan sehat, tapi pemiliknya sering kehabisan uang buat kulakan.

Begitu buku piutang dan buku stok jalan, penyebabnya kelihatan dalam dua minggu:

TemuanNilaiArtinya
Piutang warung langgananRp 8.700.000Omzet yang belum jadi uang
Piutang umur di atas 30 hariRp 3.150.00036% dari total piutang
Nilai stok di rakRp 62.500.000Uang yang nganggur di barang
Produk yang nggak laku 60 hari23 dari 142 itemRp 7,4 juta stok mati

Angka yang paling nampol: 23 produk nggak bergerak selama 60 hari, dan nilainya Rp 7,4 juta. Itu setara satu setengah kali uang kas yang tersisa waktu itu.

Tindakan yang diambil: 23 produk itu didiskon buat dihabiskan, dan pelanggan dengan piutang di atas 30 hari ditagih satu per satu. Dalam sebulan, kas naik cukup buat kulakan tanpa nunda.

Nggak ada omzet baru di situ. Yang berubah cuma uang yang tadinya nyangkut jadi cair.

Kesalahan umum di pembukuan sederhana

  • Nyampur uang usaha dan uang pribadi. Ambil uang laci buat belanja rumah harus tetap dicatat sebagai Prive. Kalau nggak, saldomu nggak akan pernah cocok.
  • Cuma nyatet penjualan, nggak nyatet harga pokok. Tanpa harga beli, laba kotormu cuma tebakan. Buku pembelian yang nutup lubang ini.
  • Piutang cuma diinget di kepala. "Bu Ani ngutang kemarin" bakal hilang dalam seminggu. Tulis tanggal dan nominalnya.
  • Stok nggak dikurangi waktu barang terjual. Catatan bakal selalu lebih besar dari kenyataan, dan kamu nggak sadar sampai stok opname.
  • Ngetik "Rp" di dalam sel. Isinya jadi teks dan nggak bisa dijumlahin. Pakai format Accounting.
  • Nunda input seminggu. Yang numpuk bukan cuma pekerjaannya, tapi juga ingatanmu soal transaksi kecil.
  • Nggak pernah stok opname. Sebagus apa pun catatanmu, hitung fisik tetap perlu minimal sebulan sekali.

FAQ

Pembukuan sederhana itu minimal harus ada buku apa aja?

Kalau kamu cuma sanggup satu, ambil buku kas. Dia nyatet semua uang masuk dan keluar, dan dari situ kamu tahu posisi uangmu tiap hari. Begitu usahamu mulai ngutangin pelanggan atau punya stok besar, tambah buku utang piutang dan buku stok. Buku penjualan dan pembelian nyusul kalau kamu mau tahu produk mana yang untung.

Bedanya buku kas sama buku penjualan apa?

Buku kas nyatet pergerakan uang, buku penjualan nyatet transaksi jual. Dua-duanya beda karena nggak semua penjualan langsung jadi uang. Kalau pelanggan ngutang, penjualannya kecatat di buku penjualan tapi uangnya belum masuk buku kas. Selisih itu yang nongol di buku piutang, dan itu sebabnya kamu butuh lebih dari satu buku.

Pembukuan sederhana bisa nggak cuma pakai satu buku aja?

Bisa buat usaha yang benar-benar kecil, misalnya di bawah 15 transaksi sehari dan semuanya tunai. Satu buku kas dengan kolom kategori udah cukup. Begitu ada utang, piutang, atau stok yang nilainya besar, satu buku mulai nyembunyiin masalah. Untung di kertas tapi kas tipis itu gejalanya, dan penyebabnya cuma kelihatan kalau bukunya dipisah.

Perlu berapa lama sehari buat ngisi lima buku ini?

Sekitar 15 menit kalau rutin. Buku kas dan penjualan diisi tiap tutup toko. Buku pembelian dan stok cuma diisi saat ada kulakan, jadi nggak tiap hari. Buku utang piutang diperbarui saat ada yang ngutang atau bayar. Yang bikin lama itu numpuk seminggu, bukan jumlah bukunya.

Kapan usaha kecil perlu naik dari pembukuan sederhana ke akuntansi lengkap?

Tandanya ada tiga. Kamu mulai punya aset besar yang disusutkan kayak kendaraan atau mesin. Kamu butuh laporan keuangan resmi buat pinjaman bank atau investor. Atau transaksimu lewat 500 baris per bulan dan diinput lebih dari satu orang. Sebelum salah satu dari itu kejadian, lima buku ini masih cukup.

Penutup

Tiga hal yang perlu kamu pegang. Buku kas itu pusatnya, dan saldonya harus cocok sama uang laci tiap malam. Buku piutang dan buku stok yang jawab kenapa untung tapi nggak ada uang. Dan lima buku ini muat di satu file, bukan lima file terpisah.

Mulai dari yang paling kecil malam ini: bikin sheet buku kas, isi saldo awal dari uang di lacimu, lalu catat transaksi hari ini. Empat buku lain nyusul minggu depan.

Kalau catatanmu masih di buku tulis, baca dulu cara mindahin pembukuan tulis tangan ke spreadsheet. Kalau kamu mau lihat bentuk jadinya, cek contoh pembukuan sederhana. Daftar rumus spreadsheet yang kepakai di sini bisa kamu telusuri lewat daftar fungsi resmi Google Sheets.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)
Tutorial Excel & Sheets
19 Juli 2026•9 menit baca

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)

INDEX MATCH gabung dua fungsi buat lookup yang bisa nyari ke kiri dan nggak gampang rusak. Ini alasan banyak analis pindah dari VLOOKUP.

BimaBima
SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)
Tutorial Excel & Sheets
18 Juli 2026•8 menit baca

SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)

SUMPRODUCT ngaliin dua kolom atau lebih baris per baris, terus jumlahin hasilnya. Cocok buat total qty kali harga sampai hitungan bersyarat.

BimaBima
REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)
Tutorial Excel & Sheets
17 Juli 2026•8 menit baca

REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)

REGEXMATCH ngecek apakah teks cocok sama pola tertentu dan balikin TRUE atau FALSE. Cocok buat validasi nomor HP, email, sampai filter data berantakan.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore