Laporan Penjualan Produk: Analisis Pareto dan ABC di Spreadsheet
Blog/Tutorial Excel & Sheets/Laporan Penjualan Produk: Analisis Pareto dan ABC di Spreadsheet

Laporan Penjualan Produk: Analisis Pareto dan ABC di Spreadsheet

BimaBima
·4 Juli 2025·11 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Analisis Pareto mengurutkan produk dari omzet terbesar lalu menghitung kontribusi kumulatifnya, sehingga kelihatan produk mana yang menghasilkan sebagian besar penjualan. Klasifikasi ABC melanjutkan hasil itu dengan membagi produk jadi tiga kelas: A untuk produk sampai kontribusi kumulatif 80 persen, B sampai 95 persen, dan C sisanya. Tiga kelas itu dipakai buat menentukan prioritas stok, frekuensi pengecekan, dan besarnya modal yang ditanam per produk.

Analisis Pareto mengurutkan produk dari omzet terbesar lalu menghitung kontribusi kumulatifnya, sehingga kelihatan produk mana yang beneran menopang penjualanmu.

Klasifikasi ABC melanjutkan hasil itu dengan memberi label kelas, dan kelas itulah yang dipakai buat nentuin berapa banyak modal yang layak kamu tanam di tiap produk.

Di bawah ini langkahnya di spreadsheet, rumus lengkapnya, batas tiap kelas, plus contoh 12 produk toko sembako yang hasilnya bisa kamu tiru.

Apa itu analisis Pareto dan klasifikasi ABC?

Analisis Pareto adalah teknik mengurutkan item dari kontribusi terbesar ke terkecil, lalu menghitung persentase kumulatifnya buat melihat seberapa terpusat kontribusi itu. Klasifikasi ABC adalah pembagian item ke tiga kelas berdasarkan batas kumulatif, umumnya 80 persen untuk kelas A dan 95 persen untuk kelas B.

Dua-duanya bekerja pada data yang sama dan biasanya dipakai berurutan.

AspekAnalisis ParetoKlasifikasi ABC
HasilnyaUrutan dan persentase kumulatifLabel kelas A, B, atau C
Pertanyaan yang dijawabSeberapa terpusat penjualankuProduk ini masuk prioritas mana
Bentuk penyajianGrafik batang plus kurva kumulatifTabel dengan kolom kelas
Dipakai buatMenemukan produk penentuMengatur stok dan modal

Cara bikin grafiknya dibahas terpisah di cara membuat Pareto chart di Excel. Artikel ini fokus ke tabel dan klasifikasinya.

Gimana langkah analisis Pareto di spreadsheet?

Lima langkah. Rekap omzet per produk, urutkan dari besar ke kecil, hitung porsi tiap produk terhadap total, hitung kontribusi kumulatif, lalu beri label kelas berdasarkan batas 80 dan 95 persen.

  1. Rekap omzet per produk dari sheet transaksi. Jangan rekap manual, pakai SUMIFS supaya angkanya ikut berubah kalau ada transaksi baru.
  2. Urutkan hasilnya dari omzet terbesar ke terkecil.
  3. Hitung porsi tiap produk: omzet produk dibagi total omzet.
  4. Hitung kontribusi kumulatif: jumlahkan porsi dari baris pertama sampai baris itu.
  5. Beri label kelas pakai IF bertingkat berdasarkan kolom kumulatif.

Rumusnya:

' Sheet pareto, kolom A = nama produk, kolom B = omzet

' Langkah 1: rekap omzet per produk dari sheet transaksi
B2  =SUMIFS(transaksi!$I:$I, transaksi!$D:$D, $A2,
            transaksi!$A:$A, ">=2025-06-01",
            transaksi!$A:$A, "<=2025-06-30")

' Langkah 2: urutkan menurun (Excel 365 atau Google Sheets)
E2  =SORT(A2:B13, 2, FALSE)

' Langkah 3: porsi tiap produk
G2  =F2/SUM($F$2:$F$13)

' Langkah 4: kontribusi kumulatif
H2  =SUM($G$2:G2)

' Langkah 5: label kelas ABC
I2  =IF(H2<=0.8, "A", IF(H2<=0.95, "B", "C"))

Kunci langkah 4 ada di tanda dolar yang cuma dipasang di sisi awal rentang. Penulisan $G$2:G2 bikin rentangnya melebar sendiri saat rumusnya ditarik ke bawah.

Fungsi SUMIFS yang ngerjain rekap per produk, dan SORT yang mengurutkan tanpa mengacak data aslinya. Sintaks versi Google Sheets ada di dokumentasi resmi Google Sheets untuk SORT.

Kalau versi spreadsheetmu belum punya SORT, pakai menu Data, Sort, lalu pilih kolom omzet secara menurun. Hasilnya sama, cuma nggak ikut berubah otomatis.

Contoh kasus: 12 produk toko_berkah Juni 2025

Ini dataset contoh ngulikdata toko_berkah dengan total omzet Juni 2025 sebesar Rp 48.750.000 dari 12 produk.

#ProdukOmzetPorsiKumulatifKelas
1Beras Pandan Wangi 5 kgRp 14.625.00030,0%30,0%A
2Minyak goreng 2 LRp 9.750.00020,0%50,0%A
3Mi instan gorengRp 6.825.00014,0%64,0%A
4Gula pasir 1 kgRp 4.387.5009,0%73,0%A
5Telur ayam 1 kgRp 3.412.5007,0%80,0%A
6Tepung terigu 1 kgRp 2.925.0006,0%86,0%B
7Kopi sachetRp 1.950.0004,0%90,0%B
8Sabun mandi batangRp 1.462.5003,0%93,0%B
9Deterjen sachetRp 1.218.7502,5%95,5%C
10Kecap manis 275 mlRp 975.0002,0%97,5%C
11Garam 500 gRp 731.2501,5%99,0%C
12Teh celupRp 487.5001,0%100,0%C

Ringkasannya: 5 produk dari 12, atau 42 persen jenis barang, menghasilkan 80 persen omzet. Kelas B berisi 3 produk dengan 13 persen omzet, dan kelas C berisi 4 produk dengan 7 persen.

Sekarang bagian yang sering kelewat. Jalankan ulang analisis yang sama, tapi pakai laba kotor sebagai dasar urutannya:

ProdukMarginLaba kotorPeringkat omzetPeringkat laba
Mi instan goreng24%Rp 1.638.00031
Beras Pandan Wangi 5 kg10%Rp 1.462.50012
Minyak goreng 2 L14%Rp 1.365.00023
Gula pasir 1 kg20%Rp 877.50044
Telur ayam 1 kg8%Rp 273.00057

Beras turun dari peringkat 1 ke peringkat 2, dan mi instan naik ke puncak. Telur, yang di versi omzet masuk lima besar, jatuh ke peringkat tujuh di versi laba.

Kesimpulan praktis buat toko ini: beras tetap harus selalu ada karena dia yang narik orang masuk, tapi modal tambahan lebih layak ditaruh di mi instan dan gula yang marginnya dua kali lipat.

Cara membaca omzet berdampingan dengan laba dibahas lebih lengkap di struktur dan metrik laporan penjualan.

Apa yang kamu lakukan setelah tau kelas ABC?

Tiap kelas punya perlakuan berbeda dalam tiga hal: seberapa sering stoknya dicek, seberapa besar cadangan yang disimpan, dan seberapa ketat harganya dipantau.

KelasCek stokCadangan stokPerlakuan harga
ATiap hariAman, jangan sampai kosongPantau harga pesaing tiap minggu
BTiap mingguSecukupnyaCek bulanan
CTiap bulanMinimumJarang perlu diubah

Produk kelas A yang kosong itu kerugian ganda. Kamu kehilangan penjualannya sekaligus kehilangan alasan pembeli datang ke tokomu.

Produk kelas C jangan buru-buru dihapus. Sebagian dari mereka barang pelengkap, artinya orang datang buat beras tapi tetap butuh garam ada di rak. Yang perlu dikurangi adalah modal yang tertanam, bukan keberadaannya.

Cara mengecek apakah suatu produk kelas C berfungsi sebagai pelengkap: lihat berapa persen transaksinya muncul bareng produk kelas A di struk yang sama.

Kesalahan umum saat analisis Pareto dan ABC

1. Rekap manual, bukan pakai rumus. Angkanya jadi basi begitu ada transaksi baru masuk. Pakai SUMIFS yang menarik dari sheet transaksi.

2. Cuma pakai omzet. Produk bermargin tipis selalu menang di versi omzet. Jalankan versi laba juga, dan bandingkan peringkatnya.

3. Ngurutin berdasarkan jumlah unit, bukan nilai. Mi instan terjual ribuan pcs sementara beras cuma ratusan sak, tapi nilai rupiahnya jauh beda. Urutkan pakai nilai kecuali kamu memang lagi menghitung kapasitas rak.

4. Menganggap 80/20 sebagai target. Angka itu cuma pola yang sering muncul. Di dataset contoh tadi hasilnya 42/80, bukan 20/80, dan itu wajar buat toko sembako.

5. Menghapus semua produk kelas C sekaligus. Cek dulu apakah mereka sering muncul bareng produk kelas A di struk yang sama.

6. Menjalankan analisis sekali lalu ditinggal. Yang berguna bukan hasil sekali jalan, tapi perpindahan kelas antar bulan. Produk yang turun dari A ke B dua bulan berturut-turut butuh diperiksa.

7. Periode kependekan. Data satu minggu terlalu berisik. Pakai minimal satu bulan penuh supaya efek hari besar dan hari gajian saling menutup.

FAQ

Apa bedanya analisis Pareto dan klasifikasi ABC?

Analisis Pareto adalah cara melihat sebaran kontribusi, hasilnya berupa urutan produk beserta persentase kumulatifnya. Klasifikasi ABC adalah langkah lanjutan yang memberi label kelas pada tiap produk berdasarkan batas kumulatif tertentu, biasanya 80 dan 95 persen. Pareto menjawab seberapa terpusat penjualanmu, sedangkan ABC menjawab produk mana yang masuk prioritas mana.

Analisis ABC sebaiknya pakai omzet atau laba?

Jalankan dua-duanya, karena hasilnya sering beda. Versi omzet menunjukkan produk mana yang paling banyak menarik uang masuk, sementara versi laba menunjukkan produk mana yang paling banyak menyisakan untung. Produk bermargin tipis seperti beras biasanya peringkat satu di versi omzet tapi turun beberapa tingkat di versi laba. Keputusan stok sebaiknya melihat dua-duanya.

Apakah produk kelas C sebaiknya dihapus dari daftar jualan?

Belum tentu. Sebagian produk kelas C berfungsi sebagai pelengkap, artinya pembeli datang untuk barang utama tapi tetap butuh barang kecil itu ada. Yang perlu kamu kurangi adalah modal yang tertanam di sana, misalnya dengan stok lebih sedikit dan pemesanan lebih jarang. Pertimbangkan menghapus produk cuma kalau perputarannya lambat sekaligus jarang dibeli bersamaan dengan produk lain.

Seberapa sering analisis Pareto perlu diulang?

Sebulan sekali cukup untuk toko dengan katalog stabil, dan dua minggu sekali untuk usaha yang produknya musiman seperti fashion atau makanan. Yang perlu kamu perhatikan bukan urutannya berubah atau nggak, melainkan produk yang pindah kelas. Produk yang turun dari kelas A ke kelas B dua bulan berturut-turut biasanya menandakan ada masalah harga, stok kosong, atau pesaing baru.

Apakah aturan 80/20 selalu berlaku?

Nggak. Angka 80/20 cuma pola yang sering muncul, bukan hukum. Di toko sembako sebaran kontribusinya biasanya lebih rata karena orang membeli banyak jenis barang sekaligus, sementara di toko elektronik atau furnitur konsentrasinya bisa jauh lebih tajam. Yang penting kamu hitung angka aslinya di datamu sendiri, bukan mengasumsikan rasionya.

Penutup

Analisis Pareto cuma butuh dua kolom tambahan di tabel rekapmu: porsi dan kontribusi kumulatif. Klasifikasi ABC cuma butuh satu rumus IF bertingkat setelahnya.

Yang bikin hasilnya berguna adalah menjalankan dua versi. Versi omzet nunjukin produk penarik pembeli, versi laba nunjukin produk penghasil untung. Di toko_berkah, dua daftar itu punya juara yang beda.

Buka rekap penjualan bulan lalu, tambahkan kolom kumulatif dan kelas, lalu lihat berapa produk yang masuk kelas A. Kalau kamu mau menyajikannya dalam bentuk grafik, langkahnya ada di cara membuat Pareto chart di Excel.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)
Tutorial Excel & Sheets
19 Juli 2026•9 menit baca

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)

INDEX MATCH gabung dua fungsi buat lookup yang bisa nyari ke kiri dan nggak gampang rusak. Ini alasan banyak analis pindah dari VLOOKUP.

BimaBima
SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)
Tutorial Excel & Sheets
18 Juli 2026•8 menit baca

SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)

SUMPRODUCT ngaliin dua kolom atau lebih baris per baris, terus jumlahin hasilnya. Cocok buat total qty kali harga sampai hitungan bersyarat.

BimaBima
REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)
Tutorial Excel & Sheets
17 Juli 2026•8 menit baca

REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)

REGEXMATCH ngecek apakah teks cocok sama pola tertentu dan balikin TRUE atau FALSE. Cocok buat validasi nomor HP, email, sampai filter data berantakan.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore