TL;DR
Kuesioner penelitian kuantitatif dengan skala Likert disusun dari indikator tiap variabel, lalu tiap indikator diturunkan jadi dua sampai tiga butir pernyataan. Skala lima titik dari Sangat Tidak Setuju sampai Sangat Setuju paling umum dipakai di penelitian Indonesia, dengan koding angka 1 sampai 5 dan pembalikan skor untuk butir bernada negatif. Rata-rata skor ditafsirkan pakai rentang kelas selebar 0,8 poin, misalnya 4,21 sampai 5,00 berarti sangat tinggi.
Kuesioner penelitian kuantitatif dengan skala Likert disusun dari indikator, bukan dari daftar pertanyaan yang langsung dikarang.
Urutan yang benar: variabel, indikator, baru butir pernyataan. Kalau kamu mulai dari butir, hampir pasti ada indikator yang kelewat dan ada yang kepakai dua kali.
Skala Likert sendiri dibikin Rensis Likert pada 1932 buat ngukur sikap. Bentuknya deretan pernyataan, dan responden nyatain seberapa setuju mereka.
Di bawah ini contoh butir siap pakai, cara koding jawabannya, dan cara nafsirin skornya.
Skala Likert adalah skala pengukuran sikap yang ngasih responden beberapa tingkat persetujuan atas sebuah pernyataan, biasanya lima titik dari Sangat Tidak Setuju sampai Sangat Setuju. Tiap titik dikasih angka 1 sampai 5 buat diolah. Skala ini dipakai buat ngukur hal yang nggak bisa diukur langsung, misalnya kepuasan kerja, motivasi, atau persepsi kualitas layanan.
Satu hal yang sering salah kaprah: skala Likert itu gabungan beberapa butir, bukan satu butir tunggal. Satu butir namanya Likert item, gabungan beberapa butir yang ngukur satu konstruk namanya Likert scale.
Itu bukan cuma soal istilah. Skor satu butir nggak stabil. Skor gabungan dari enam butir jauh lebih tahan terhadap jawaban asal.
Ambil definisi operasional variabelmu, pecah jadi tiga sampai lima indikator, lalu turunkan tiap indikator jadi dua sampai tiga butir pernyataan. Satu butir hanya boleh berisi satu gagasan. Total butir per variabel biasanya jatuh di kisaran 6 sampai 15.
Contoh buat variabel Kepuasan Kerja (X):
| Indikator | Kode | Butir pernyataan |
|---|---|---|
| Kepuasan atas gaji | X1.1 | Gaji yang saya terima sesuai dengan beban kerja saya |
| Kepuasan atas gaji | X1.2 | Kenaikan gaji di tempat kerja saya diberikan secara adil |
| Hubungan dengan atasan | X2.1 | Atasan saya memberi arahan yang jelas saat menugaskan pekerjaan |
| Hubungan dengan atasan | X2.2 | Saya nyaman menyampaikan pendapat kepada atasan saya |
| Kesempatan berkembang | X3.1 | Perusahaan memberi saya kesempatan mengikuti pelatihan |
| Kesempatan berkembang | X3.2 | Jalur promosi di tempat kerja saya jelas |
| Kondisi kerja | X4.1 | Peralatan kerja yang tersedia mendukung pekerjaan saya |
| Kondisi kerja | X4.2 | Beban kerja saya terasa berlebihan (butir negatif) |
Butir X4.2 sengaja bernada negatif. Skornya nanti dibalik. Gunanya buat nangkep responden yang mencentang kolom yang sama dari atas sampai bawah tanpa baca.
Kode X1.1 dan seterusnya wajib ditulis di kuesioner atau minimal di dokumen kisi-kisi. Kode itu yang nyambungin butir ke indikator waktu kamu nulis bab hasil.
Beri angka 1 sampai 5 sesuai urutan skala, lalu balik urutannya khusus buat butir bernada negatif. Pembalikan skor wajib dilakukan sebelum menghitung total maupun rata-rata, karena tanpa itu butir negatif bakal menarik skor ke arah yang salah.
| Pilihan | Butir positif | Butir negatif |
|---|---|---|
| Sangat Tidak Setuju | 1 | 5 |
| Tidak Setuju | 2 | 4 |
| Netral | 3 | 3 |
| Setuju | 4 | 2 |
| Sangat Setuju | 5 | 1 |
Di spreadsheet, pembalikan skornya satu rumus. Kalau jawaban asli ada di sel J2:
=6-J2
Angka 6 datang dari skor tertinggi ditambah satu. Buat skala 7 titik, ganti jadi 8.
Hitung skor variabel per responden pakai AVERAGE dari semua butir variabel itu:
=AVERAGE(C2:J2)
Bagi rentang skor jadi lima kelas selebar 0,8 poin. Angka 0,8 didapat dari selisih skor tertinggi dan terendah dibagi jumlah kelas, yaitu (5 dikurangi 1) dibagi 5. Rumus ini wajib kamu tulis di bab metode supaya pembaca bisa mengeceknya.
| Rentang rata-rata | Kategori |
|---|---|
| 1,00 sampai 1,80 | Sangat rendah |
| 1,81 sampai 2,60 | Rendah |
| 2,61 sampai 3,40 | Sedang |
| 3,41 sampai 4,20 | Tinggi |
| 4,21 sampai 5,00 | Sangat tinggi |
Buat lihat sebaran jawaban per butir, hitung berapa responden yang milih tiap pilihan pakai COUNTIF:
=COUNTIF(C$2:C$201, 5)
Sebaran itu sering lebih informatif dari rata-rata. Butir dengan rata-rata 3,0 bisa berarti semua orang netral, atau separuh sangat setuju dan separuh sangat menolak. Dua kondisi itu butuh rekomendasi yang beda.
Aku pernah bantu ngolah data survei kepuasan kerja karyawan sebuah koperasi di Bogor. Instrumen awalnya 32 butir, responden 187 orang.
Di uji validitas dengan taraf 5 persen, ada 4 butir dengan korelasi item total di bawah 0,30. Tiga di antaranya butir negatif.
Waktu dicek satu per satu, penyebabnya bukan responden. Butir X4.2 berbunyi "Beban kerja saya tidak terasa berlebihan", jadi ada dua negasi bertumpuk begitu skornya dibalik. Responden bingung, dan jawabannya jadi acak.
Setelah kalimatnya diperbaiki jadi bentuk positif langsung dan diuji ulang ke 40 responden, korelasi butir itu naik dari 0,18 ke 0,52. Nilai Cronbach's Alpha variabel Kepuasan Kerja ikut naik dari 0,761 ke 0,847.
Pelajaran yang aku bawa sejak itu: kalau butir negatif kalimatnya sudah mengandung kata "tidak", ubah jadi positif. Negasi ganda ngerusak lebih banyak dari yang dia deteksi.
Pengecekan data quality sebelum uji statistik selalu lebih hemat waktu dari nambal setelah bab 4 ditulis.
Tergantung apakah pilihan Netral punya arti di topikmu. Skala 5 titik memberi ruang buat yang memang nggak punya sikap. Skala 4 titik memaksa memilih arah. Buat penelitian sikap di Indonesia, 5 titik paling umum.
Dua sampai tiga butir per indikator, dan tiap variabel punya tiga sampai lima indikator. Jadi sekitar 6 sampai 15 butir per variabel.
Boleh, sekitar 15 sampai 20 persen dari total butir. Gunanya mendeteksi responden yang mencentang satu kolom terus. Skornya wajib dibalik sebelum dihitung.
Per butir sifatnya ordinal, jadi kurang pas. Praktik lazimnya, rata-ratakan dulu beberapa butir jadi skor variabel, lalu perlakukan sebagai interval. Sebagian pembimbing minta konversi lewat Method of Successive Interval.
Pakai rentang kelas 0,8 poin dari (5 dikurangi 1) dibagi 5. Hasilnya lima kategori, dari 1,00 sampai 1,80 sangat rendah hingga 4,21 sampai 5,00 sangat tinggi.
Tiga hal yang paling nentuin: susun butir dari indikator, batasi satu gagasan per butir, dan balik skor butir negatif sebelum menghitung apa pun.
Kalau kamu mau sebar instrumennya online, langkah teknisnya ada di panduan kuesioner penelitian online di Google Form.
Latihan ngolah data respon di spreadsheet, dari koding sampai rekap per indikator, bisa kamu kulik di NgulikSheet.
Ambil satu variabel penelitianmu, tulis indikatornya di kolom kiri dan dua butir per indikator di kolom kanan. Kalau ada indikator yang susah diturunkan jadi butir, biasanya definisi operasionalnya yang belum selesai.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Punya ratusan angka dan mau tau sebarannya masuk ke rentang mana aja? FREQUENCY ngitung distribusi frekuensi sekali jalan, tanpa nulis COUNTIFS berkali-kali.
SUMIFS ribet kalau kriterianya banyak dan sering ganti. Rumus database Excel kayak DSUM baca kriteria dari sel terpisah, jadi kamu tinggal ubah tabel kecil tanpa nyentuh rumus.
DATEDIF ngasih umur bulat, tapi kadang kamu butuh angka desimal kayak 27,6 tahun buat hitung masa kerja atau bunga. YEARFRAC ngasih pecahan tahun dengan presisi.