Analisis ABC Penjualan Produk di Excel plus Rumus Kumulatifnya
TL;DR
Analisis ABC penjualan adalah cara ngelompokkan produk jadi tiga kelas berdasar kontribusi omzet: kelas A nyumbang sampai 80 persen omzet, kelas B sampai 95 persen, sisanya kelas C. Di Excel kamu cuma butuh tiga kolom bantu: omzet kumulatif pakai SUM dengan referensi setengah absolut, persen kumulatif, lalu label kelas pakai IF bertingkat. Di data toko_berkah, 5 dari 12 SKU nyumbang 84,25 persen omzet November 2025.
Analisis ABC penjualan adalah cara ngelompokkan produk jadi tiga kelas berdasar kontribusi omzetnya: kelas A buat produk yang nyumbang sampai 80 persen omzet, kelas B sampai 95 persen, dan kelas C buat sisanya.
Gunanya jelas. Kamu jadi tau produk mana yang haram kosong di rak, dan produk mana yang boleh dipesan tiga bulan sekali.
Di Excel, semua ini cuma butuh tiga kolom bantu dan dua rumus. Aku bakal jalanin langkahnya pakai data penjualan toko_berkah, plus angka hasilnya biar kamu punya pembanding.
Apa itu analisis ABC penjualan?
Analisis ABC adalah metode klasifikasi persediaan yang ngurutin produk dari omzet terbesar ke terkecil, lalu misahin jadi tiga kelas pakai batas persen kumulatif. Kelas A dapat perhatian paling ketat soalnya nyumbang omzet paling besar. Kelas C dapat perlakuan paling longgar soalnya kontribusinya kecil.
Metodenya lahir dari pengelolaan gudang, tapi sekarang dipakai juga buat ngatur prioritas promosi dan ruang display.
Intinya kamu lagi bikin segmentation sederhana dengan satu variabel. Satu angka omzet, tiga kelompok, aturan kerja yang beda per kelompok.
Kenapa tiga kelas, bukan dua? Soalnya kelas B itu ruang tunggu. Isinya produk yang belum penting banget tapi juga belum boleh dilupain. Kalau cuma ada dua kelas, produk-produk ini bakal kelempar ke C dan pelan-pelan hilang dari radar.
Kenapa toko kecil butuh analisis ABC?
Karena modal kerja itu terbatas dan rak juga terbatas.
Waktu kamu punya 12 SKU, kamu masih bisa hafal mana yang laku. Waktu SKU-nya 120, ingatan udah nggak bisa diandelin. Yang kejadian biasanya kebalik: barang lambat numpuk di gudang, barang cepat malah kosong tiap akhir bulan.
Analisis ABC ngasih kamu urutan prioritas yang bisa dipertanggungjawabkan angkanya. Bukan feeling.
Sekali kelasnya kebentuk, aturan turunannya gampang disusun:
- Kelas A: cek stok mingguan, safety stock tinggi, nggak boleh kosong lebih dari sehari.
- Kelas B: cek stok dua mingguan, order rutin dengan jumlah standar.
- Kelas C: cek bulanan, order sekalian banyak biar hemat ongkos kirim.
Gimana cara bikin analisis ABC di Excel?
Siapin dua kolom dasar dulu: nama produk di kolom A, total omzet di kolom B. Data mulai dari baris 2.
- Rekap omzet per produk. Kalau sumbernya masih data transaksi mentah, tarik totalnya pakai SUMIF atau pivot table.
- Sortir omzet dari besar ke kecil. Blok datanya, lalu Data > Sort > Largest to Smallest. Langkah ini wajib. Rumus kumulatif nggak ada artinya kalau urutannya acak.
- Bikin kolom omzet kumulatif di kolom C.
- Bikin kolom persen kumulatif di kolom D.
- Kasih label kelas di kolom E.
- Rekap per kelas di tabel kecil di samping.
Rumus omzet kumulatif
Ini rumus yang paling sering salah ketik. Kuncinya ada di dolar.
C2: =SUM($B$2:B2)
Ujung atas dikunci di $B$2, ujung bawah dibiarkan bergerak. Waktu rumusnya kamu tarik ke bawah, rangenya melebar sendiri: B2:B2, lalu B2:B3, lalu B2:B4, dan seterusnya.
Hasilnya total berjalan dari baris pertama sampai baris yang lagi kamu lihat.
Rumus persen kumulatif
D2: =C2/SUM($B$2:$B$13)
Penyebutnya total seluruh omzet, jadi semua referensinya dikunci penuh. Format kolom D jadi Percentage dengan dua angka desimal.
Kalau kamu mau satu rumus tanpa kolom bantu C, gabungin aja:
D2: =SUM($B$2:B2)/SUM($B$2:$B$13)
Aku sendiri lebih suka pisah. Waktu angkanya aneh, kolom C bikin kamu langsung tau salahnya di pembilang atau di penyebut.
Rumus label kelas
E2: =IF(D2<=80%,"A",IF(D2<=95%,"B","C"))
Fungsi IF dicek berurutan. Kalau persen kumulatifnya di bawah atau sama dengan 80 persen, hasilnya A. Kalau lolos dari situ tapi masih di bawah 95 persen, hasilnya B. Sisanya C.
Ada satu detail yang bikin orang berdebat: produk yang persen kumulatifnya nyeberang garis 80 persen itu masuk A atau B?
Aturan yang lebih umum dipakai di gudang: produk yang bikin kumulatif nyeberang batas tetap dihitung masuk kelas atas. Alasannya, tanpa produk itu batas 80 persen nggak akan pernah kecapai. Versi rumusnya:
E2: =IF(D1<80%,"A",IF(D1<95%,"B","C"))
Perhatiin bedanya. Yang dicek bukan persen kumulatif baris ini, tapi persen kumulatif baris sebelumnya. Buat baris 2, D1 masih header, jadi Excel bakal baca sebagai 0 dan hasilnya tetap A. Kalau kamu risih sama itu, bungkus pakai IFERROR.
Rekap per kelas
Jumlah SKU kelas A : =COUNTIF($E$2:$E$13,"A")
Omzet kelas A : =SUMIF($E$2:$E$13,"A",$B$2:$B$13)
Persen omzet A : =SUMIF($E$2:$E$13,"A",$B$2:$B$13)/SUM($B$2:$B$13)
COUNTIF ngitung berapa produk yang masuk tiap kelas. SUMIF nariknya nilai rupiahnya. Tinggal ganti "A" jadi "B" dan "C" buat dua baris berikutnya.
Sintaks lengkap kedua fungsi ini ada di daftar fungsi resmi Microsoft Excel kalau kamu mau cek argumen opsionalnya.
Contoh kasus: 12 SKU toko_berkah
Ini data penjualan November 2025 dari dataset toko_berkah yang aku pakai di materi latihan. Total omzet Rp 143.500.000 dari 12 SKU.
| Produk | Omzet | % Kumulatif | Kelas |
|---|---|---|---|
| Beras Premium 5kg | Rp 48.600.000 | 33,87% | A |
| Minyak Goreng 2L | Rp 31.200.000 | 55,61% | A |
| Gula Pasir 1kg | Rp 18.900.000 | 68,78% | A |
| Tepung Terigu 1kg | Rp 12.400.000 | 77,42% | A |
| Telur 1kg | Rp 9.800.000 | 84,25% | A |
| Kopi Sachet | Rp 6.750.000 | 88,95% | B |
| Mie Instan | Rp 5.400.000 | 92,72% | B |
| Sabun Mandi | Rp 3.600.000 | 95,23% | B |
| Kecap Manis | Rp 2.850.000 | 97,21% | C |
| Sampo Sachet | Rp 1.950.000 | 98,57% | C |
| Pasta Gigi | Rp 1.200.000 | 99,41% | C |
| Pewangi Pakaian | Rp 850.000 | 100,00% | C |
Hasil rekapnya:
- Kelas A: 5 SKU (41,7% katalog), omzet Rp 120.900.000 atau 84,25%.
- Kelas B: 3 SKU (25,0% katalog), omzet Rp 15.750.000 atau 10,98%.
- Kelas C: 4 SKU (33,3% katalog), omzet Rp 6.850.000 atau 4,77%.
Angka yang paling menarik buat aku ada di baris terakhir. Empat produk kelas C makan sepertiga slot katalog, tapi cuma balikin 4,77 persen omzet.
Bukan berarti empat produk itu harus dibuang. Pewangi pakaian sering jadi barang pelengkap yang dibeli bareng sabun. Yang harus berubah cuma perlakuannya: jangan restock mingguan, jangan kasih rak sejajar mata.
Perhatiin juga kelas A-nya yang gendut. Lima dari dua belas SKU itu 41,7 persen katalog, jauh dari citra klasik "20 persen produk nyumbang 80 persen omzet". Ini normal buat toko sembako yang katalognya pendek dan harga per unitnya mirip-mirip. Makin sedikit SKU, makin rata sebarannya.
Kesalahan umum waktu bikin analisis ABC
Lupa sortir sebelum hitung kumulatif. Ini penyakit nomor satu. Rumusnya tetap ngasih angka, jadi kamu nggak sadar salah. Cara ceknya gampang: lihat kolom omzet, harus turun terus dari atas ke bawah.
Nyampur periode. Produk baru yang cuma jualan 10 hari bakal otomatis kelempar ke kelas C. Kalau ada SKU yang umurnya beda jauh, hitung omzet rata-rata harian dulu, baru dikali jumlah hari yang sama.
Ngandelin omzet doang buat produk beda margin. Beras premium omzetnya paling gede, tapi marginnya biasanya paling tipis di toko sembako. Kalau keputusan yang mau kamu ambil soal untung, ganti kolom omzet jadi laba kotor lalu ulang prosesnya.
Nge-hardcode total di penyebut. Nulis =C2/143500000 memang jalan hari ini. Bulan depan waktu datanya nambah, semua persen kumulatifnya salah dan nggak ada yang ngasih tau. Pakai SUM dengan range terkunci.
Nggak nyimpen hasil bulan lalu. Kelas produk itu berguna waktu dibandingin antarwaktu. Simpan kolom kelas tiap bulan di sheet terpisah, lalu tarik pakai VLOOKUP buat lihat siapa yang naik dan siapa yang turun.
FAQ
Analisis ABC itu sama nggak sama aturan Pareto 80/20?
Mirip tapi nggak persis sama. Pareto cuma bilang sebagian kecil penyebab ngasih sebagian besar hasil. Analisis ABC ngambil ide itu lalu bikin tiga kelas dengan batas yang kamu tentukan sendiri, biasanya 80 persen dan 95 persen. Jadi ABC lebih operasional soalnya tiap kelas punya aturan kerja yang beda, mulai dari frekuensi cek stok sampai jatah rak.
Batas 80 dan 95 persen itu wajib dipakai?
Nggak wajib. Itu cuma titik awal yang paling umum. Kalau toko kamu jual barang yang omzetnya rata, batas 80 persen bisa bikin kelas A kegedean sampai separuh katalog. Coba geser ke 70 dan 90 persen, lalu lihat berapa SKU yang masuk A. Patokan yang enak dipakai: kelas A idealnya di bawah 25 persen jumlah SKU biar tim gudang masih sanggup ngawasin satu per satu.
Kenapa rumus kumulatifku nggak jalan pas data ditambah?
Biasanya gara-gara referensi absolutnya kebalik. Rumus kumulatif yang bener itu =SUM($B$2:B2), jadi ujung atas dikunci dan ujung bawah ikut turun. Kalau kamu nulis =SUM(B$2:B2) tanpa kunci kolom, rumusnya bakal geser waktu di-copy ke kanan. Dan kalau kamu lupa sortir omzet dari besar ke kecil dulu, angkanya tetap kehitung tapi kelasnya jadi ngaco.
Analisis ABC pakai omzet atau pakai jumlah unit?
Pakai omzet kalau tujuan kamu ngamanin pendapatan, misalnya nentuin barang mana yang haram kosong. Pakai jumlah unit kalau masalahnya kapasitas gudang atau tenaga bongkar muat. Kalau kamu jual barang dengan margin yang beda jauh, coba versi ketiga: pakai laba kotor. Produk omzet gede tapi margin tipis sering turun kelas waktu dihitung pakai laba.
Seberapa sering analisis ABC perlu diulang?
Sebulan sekali cukup buat toko retail, tiap kuartal buat bisnis yang penjualannya stabil. Yang penting kamu catat pergerakan kelas, bukan cuma hasil terakhir. Produk yang loncat dari C ke B dua bulan berturut-turut itu sinyal permintaan naik. Kalau kamu cuma lihat snapshot bulan ini, pola kayak gitu kelewat.
Rangkuman
Tiga hal yang perlu kamu bawa dari sini:
- Sortir dulu dari omzet terbesar, baru hitung kumulatif pakai
=SUM($B$2:B2). - Batas 80 dan 95 persen itu titik awal, bukan harga mati. Geser sampai kelas A-nya masuk akal buat kapasitas tim kamu.
- Kelasnya baru berguna waktu diterjemahkan jadi aturan restock. Tanpa itu, kamu cuma punya tabel berwarna.
Coba jalanin ke data penjualan kamu sendiri bulan ini. Butuh 15 menit, dan hasilnya biasanya bikin kaget.
Mau latihan rumusnya langsung tanpa install apa-apa? Buka NgulikSheet dan kerjain latihan SUMIF dan IF bertingkat di sana.
Lanjut baca: template Excel stok barang buat nerapin hasil kelas ABC ke kartu stok, dan cara memilih chart yang tepat kalau kamu mau bikin diagram Pareto dari tabel ini.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel terkait
INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)
INDEX MATCH gabung dua fungsi buat lookup yang bisa nyari ke kiri dan nggak gampang rusak. Ini alasan banyak analis pindah dari VLOOKUP.
SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)
SUMPRODUCT ngaliin dua kolom atau lebih baris per baris, terus jumlahin hasilnya. Cocok buat total qty kali harga sampai hitungan bersyarat.
REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)
REGEXMATCH ngecek apakah teks cocok sama pola tertentu dan balikin TRUE atau FALSE. Cocok buat validasi nomor HP, email, sampai filter data berantakan.