TL;DR
SWOT memetakan posisi satu organisasi dari sisi internal dan eksternal sekaligus. PESTEL cuma mengurai faktor makro di luar organisasi seperti politik, ekonomi, dan regulasi. Porter Five Forces mengukur seberapa ketat persaingan di satu industri. Urutan pakainya: PESTEL dan Porter dulu untuk mengumpulkan bahan eksternal, baru hasilnya masuk ke kotak Opportunity dan Threat di SWOT.
SWOT, PESTEL, dan Porter Five Forces sering dipakai buat tujuan yang sama padahal ngukur hal yang berbeda.
Singkatnya: SWOT motret posisi organisasimu, PESTEL motret kondisi makro di luar, Porter motret ketatnya persaingan di satu industri.
Salah pilih bikin kamu ngerjain dua kali. Aku pernah lihat tim nyusun PESTEL 12 halaman buat mutusin apakah harus buka cabang kedua di kota yang sama. Isinya bahas kurs rupiah dan tren demografi nasional, sementara pertanyaan aslinya bisa dijawab dari data penjualan cabang pertama.
Berikut cara milih yang tepat, plus urutan pakainya kalau kamu butuh ketiganya.
| Aspek | SWOT | PESTEL | Porter Five Forces |
|---|---|---|---|
| Yang dianalisis | Satu organisasi | Lingkungan makro | Satu industri |
| Cakupan | Internal dan eksternal | Eksternal saja | Eksternal saja |
| Jumlah bagian | 4 kotak | 6 faktor | 5 kekuatan |
| Menjawab | Kita harus ngapain? | Apa yang bergerak di luar? | Seberapa berat persaingannya? |
| Langsung jadi rencana | Bisa | Nggak | Nggak |
| Waktu pengerjaan | 2 sampai 4 jam | 4 sampai 8 jam | 3 sampai 6 jam |
Perbedaan paling penting ada di baris terakhir sebelum waktu. Cuma SWOT yang bisa langsung diubah jadi daftar tindakan, karena cuma dia yang menilai kemampuan internal.
SWOT adalah pemetaan kekuatan dan kelemahan internal, digabung dengan peluang dan ancaman dari luar. Empat kotak, dan hasilnya disilangkan buat dapat prioritas tindakan.
Pakai SWOT kalau:
Jangan pakai SWOT sebagai satu-satunya alat kalau kamu masuk ke pasar yang belum kamu kenal. Kotak Opportunity dan Threat bakal diisi tebakan.
Contoh isian lengkapnya, termasuk versi buat karier pribadi, ada di analisis SWOT diri sendiri. Buat versi bisnis yang tiap poinnya didukung angka, cek analisis SWOT berbasis data.
PESTEL nguraikan faktor makro di luar kendali organisasi ke enam kelompok: Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Environment (lingkungan), dan Legal (hukum). Hasilnya berupa daftar kondisi luar yang berpotensi ngaruh ke usahamu.
Pakai PESTEL kalau:
Yang bikin PESTEL sering jadi sia-sia: isinya berita nasional yang gak ada hubungannya sama keputusan yang lagi dihadapi.
Aturan yang aku pakai buat nyaring: kalau satu poin gak bisa diikuti kalimat "maka kami perlu...", buang poin itu.
Buat bagian Legal dan Politik di Indonesia, sumber primernya ada di JDIH BPK. Buat bagian Ekonomi dan Sosial, data resminya dari BPS. Jangan pakai artikel opini sebagai dasar.
Porter Five Forces ngukur seberapa berat persaingan di satu industri lewat lima kekuatan: ancaman pendatang baru, kekuatan tawar pemasok, kekuatan tawar pembeli, ancaman produk pengganti, dan persaingan antar pemain yang udah ada.
Pakai Porter kalau:
Kekuatan tawar pemasok itu yang paling sering nampilin masalah tersembunyi di UMKM Indonesia. Kalau 70 persen barangmu datang dari satu distributor, kamu gak punya ruang tawar sama sekali.
Nilai tiap kekuatan pakai skala 1 sampai 5, dan wajib tulis satu bukti per nilai. Tanpa bukti, penilaiannya cuma perasaan.
Banyak yang ngerjain tiga-tiganya terpisah lalu bingung nyatuinnya. Padahal urutannya jelas.
Dengan urutan ini, kotak eksternal SWOT gak lagi diisi tebakan. Isinya hasil dua analisis sebelumnya.
Kalau waktumu terbatas, lompati PESTEL dan langsung Porter lalu SWOT. Buat keputusan jangka pendek, faktor makro jarang berubah cukup cepat buat ngaruh.
Satu warung kopi di Bandung, omzet Rp92 juta per bulan, mau buka cabang kedua. Aku bantu mereka pakai ketiga kerangka ini.
PESTEL nghasilkan 14 poin awal. Setelah disaring pakai aturan "maka kami perlu...", sisa 3 poin:
Porter nghasilkan penilaian ini:
| Kekuatan | Nilai | Bukti |
|---|---|---|
| Ancaman pendatang baru | 5 | Ada 7 kedai kopi baru dalam radius 1 km di 18 bulan terakhir |
| Kekuatan tawar pemasok | 4 | 82% biji kopi dari 1 pemasok, gak ada kontrak harga |
| Kekuatan tawar pembeli | 4 | Selisih harga antar kedai cuma Rp2.000 sampai Rp4.000 |
| Ancaman produk pengganti | 2 | Kopi sachet gak menyasar pelanggan yang datang buat nongkrong |
| Persaingan pemain lama | 5 | 4 kedai sejenis dalam radius 500 m |
Total 20 dari 25. Persaingannya berat.
SWOT kemudian diisi dengan bahan itu. Kotak Threat langsung terisi dari Porter: ketergantungan pemasok tunggal dan kepadatan pesaing.
Yang menarik muncul waktu menyilangkan Strength dengan Threat. Kekuatan terbesar mereka ternyata bukan rasa kopinya, tapi 1.240 pelanggan yang nomornya udah tercatat dan 31 persen di antaranya beli minimal 4 kali per bulan.
Keputusan akhirnya berubah. Cabang kedua ditunda. Uangnya dipakai buat program pelanggan tetap di cabang pertama dan nyari pemasok kopi kedua.
Enam bulan setelahnya, omzet cabang pertama naik 21 persen tanpa nambah sewa tempat.
Kerangka analisis gak selalu bilang "lanjutkan". Kadang jawabannya "belum", dan itu juga hasil yang berguna.
Dari yang aku lihat, SWOT jauh paling sering muncul, terutama di proposal usaha dan skripsi. Alasannya sederhana: paling gampang dijelaskan dan paling cepat diisi.
Masalahnya, kemudahan itu juga yang bikin SWOT sering diisi asal. Empat kotak berisi kata sifat tanpa angka.
Kalau kamu mau SWOT-mu beda dari kebanyakan, satu langkah aja: kasih angka di tiap poin. "Pelanggan setia banyak" jadi "1.240 pelanggan tercatat, 31 persen beli minimal 4 kali per bulan".
Buat yang butuh template siap isi, ada di template SWOT Google Sheets. Buat yang mau bikin versi visualnya, cek diagram analisis SWOT.
SWOT, karena dia satu-satunya yang mencakup sisi internal dan eksternal sekaligus, jadi hasilnya bisa langsung diubah jadi rencana. PESTEL dan Porter cuma memotret kondisi luar, dan tanpa penilaian kemampuan internal kamu gak bisa mutusin harus ngapain. Kekurangannya, SWOT yang diisi tanpa bahan dari luar sering jadi tebakan.
Cocok, terutama buat mutusin masuk atau gak ke satu bidang usaha. Kekuatan pemasok dan hambatan masuk itu isu nyata buat UMKM. Yang sering gak relevan cuma ancaman produk substitusi kalau usahamu di bidang kebutuhan pokok. Sederhanakan aja: nilai tiap kekuatan dengan skala 1 sampai 5 dan tulis satu bukti per nilai.
Sekitar 8 sampai 12 jam kalau datanya harus dicari dulu. PESTEL paling lama karena butuh nyari regulasi dan data ekonomi, sekitar 4 jam. Porter sekitar 3 jam kalau kamu sudah kenal pesaingnya. SWOT paling cepat, 2 jam, karena bahannya sebagian besar sudah terkumpul dari dua yang lain.
Data pesaing. Harga, jumlah cabang, dan pangsa pasar pesaing jarang tersedia terbuka di Indonesia, terutama untuk usaha kecil. Cara paling praktis itu survei langsung: catat harga 10 produk yang sama di 5 pesaing terdekat. Butuh dua jam jalan kaki, tapi hasilnya jauh lebih akurat dari tebakan di ruang rapat.
Masih relevan sebagai daftar periksa supaya gak ada faktor penting yang kelewat. Yang berubah itu cara ngisinya. Dulu diisi dari diskusi ruang rapat, sekarang tiap poin sebaiknya punya angka pendukung. Kerangkanya sendiri gak bikin keputusan bagus. Kualitas datanya yang nentuin.
Pilih berdasarkan pertanyaanmu, bukan berdasarkan mana yang paling sering dipakai orang lain.
Mau tau harus ngapain 6 bulan ke depan? SWOT. Mau tau apa yang berubah di luar sana? PESTEL. Mau tau kenapa marjinmu tipis? Porter.
Kalau butuh ketiganya, kerjakan dari yang paling luas ke yang paling sempit, dan bermuara di SWOT.
Ambil satu keputusan yang lagi menggantung di mejamu sekarang. Tentukan satu kerangka yang paling cocok, lalu isi dengan angka yang kamu punya hari ini.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Kolom datetime nyimpen tanggal, jam, hari, semuanya nempel jadi satu. Accessor .dt di pandas ngeluarin tiap bagian jadi kolom sendiri buat dianalisa.
Nama toko ketik campur huruf besar-kecil, spasi nyasar di ujung, atau kode produk nempel jadi satu. Accessor .str di pandas ngerapiin semua itu tanpa loop.
Model machine learning cuma ngerti angka, bukan teks kayak merah atau biru. get_dummies ngubah kolom kategori jadi kolom 0/1 dalam satu baris kode.