TL;DR
Rumus IFS di Excel ngecek beberapa kondisi berurutan dan ngembaliin hasil dari kondisi pertama yang bernilai TRUE. Sintaksnya =IFS(kondisi1; hasil1; kondisi2; hasil2; ...), satu fungsi, tanpa IF bersarang dan tanpa tumpukan kurung tutup. IFS tersedia mulai Excel 2019, Microsoft 365, dan Google Sheets.
Rumus IFS di Excel ngecek beberapa kondisi berurutan, lalu ngembaliin hasil dari kondisi pertama yang bernilai TRUE. Satu fungsi, tanpa IF bersarang.
Kalau kamu pernah nulis rumus grading nilai atau kategori pelanggan pakai IF di dalam IF di dalam IF, kamu tau rasanya. Kurung tutupnya numpuk di ujung, dan satu kurung kurang bikin Excel ngomel.
IFS ngilangin masalah itu. Kamu tulis pasangan kondisi dan hasil berurutan, kayak daftar belanja. Excel baca dari atas ke bawah, berhenti di kondisi pertama yang cocok.
IFS adalah fungsi logika Excel yang ngevaluasi beberapa kondisi secara berurutan dan ngembaliin nilai yang dipasangkan sama kondisi TRUE pertama yang dia temuin. Kalau nggak ada kondisi yang TRUE, hasilnya error #N/A.
Fungsi ini masuk ke Excel mulai versi 2019 dan Microsoft 365. Google Sheets udah punya IFS lebih dulu dan gratis buat semua akun.
Kuncinya di kata "berurutan". Excel nggak nyari kondisi yang paling cocok. Dia berhenti di kondisi pertama yang benar, dan kondisi setelahnya diabaikan total. Ini yang bikin urutan penulisan menentukan hasil.
=IFS(kondisi1; hasil1; kondisi2; hasil2; ...; kondisi127; hasil127)
Argumennya selalu berpasangan: kondisi dulu, baru hasilnya. Maksimal 127 pasangan, walau kenyataannya kamu jarang butuh lebih dari 5.
Contoh paling pendek:
=IFS(A2>=90; "A"; A2>=80; "B"; A2>=70; "C")
Nilai 85 di sel A2 bakal ngasih hasil "B". Kondisi pertama (>=90) FALSE, kondisi kedua (>=80) TRUE, Excel berhenti di situ.
Catatan pemisah argumen: kalau regional setting laptop kamu Indonesia, pemisahnya titik koma (;). Kalau setting-nya English (US), pemisahnya koma (,). Rumus yang sama, pemisah beda.
Bandingin dua rumus ini. Keduanya ngasih hasil yang persis sama.
IF bertingkat:
=IF(A2>=90; "A"; IF(A2>=80; "B"; IF(A2>=70; "C"; IF(A2>=60; "D"; "E"))))
IFS:
=IFS(A2>=90; "A"; A2>=80; "B"; A2>=70; "C"; A2>=60; "D"; TRUE; "E")
Yang atas butuh 4 kurung tutup beruntun di ujung. Yang bawah cuma satu.
| Aspek | IF bertingkat | IFS |
|---|---|---|
| Jumlah kurung tutup (5 kondisi) | 5 | 1 |
| Nilai default kalau nggak ada yang cocok | Otomatis, di argumen terakhir | Harus ditulis manual pakai TRUE |
| Kompatibel Excel 2016 ke bawah | Ya | Nggak |
| Enak dibaca orang lain | Susah kalau lebih dari 3 tingkat | Gampang, kayak baca daftar |
| Nambah kondisi baru di tengah | Riskan, kurung gampang kacau | Tinggal sisipin 2 argumen |
Kalau kamu masih perlu kompatibel sama Excel 2016 atau lebih lama, tetap pakai IF bertingkat. Di luar itu, IFS menang.
Ini kasus paling sering. Kamu punya kolom nilai angka, mau diubah jadi huruf.
=IFS(B2>=90; "A"; B2>=80; "B"; B2>=70; "C"; B2>=60; "D"; TRUE; "E")
Kenapa urutan harus dari tinggi ke rendah? Soalnya nilai 95 juga memenuhi kondisi B2>=60. Kalau kondisi >=60 ditulis duluan, Excel berhenti di situ dan ngasih "D" buat siswa yang harusnya "A".
Aturan yang gampang diinget: di IFS, kondisi paling ketat selalu ditulis paling awal.
Toko Berkah itu dataset latihan yang aku pakai di NgulikSheet, toko kelontong online dengan 1.240 transaksi selama 6 bulan. Salah satu tugas rutinnya: ngasih label segmen ke tiap pelanggan berdasarkan total belanja.
Aturan yang dipakai pemilik toko:
Kalau kolom D isinya total belanja per pelanggan, rumusnya:
=IFS(D2>5000000; "Platinum"; D2>=2000000; "Gold"; D2>=500000; "Silver"; TRUE; "Reguler")
Dari 312 pelanggan unik di dataset itu, hasilnya: 11 Platinum, 47 Gold, 138 Silver, 116 Reguler. Yang menarik, 11 pelanggan Platinum doang nyumbang 31% dari total omzet. Angka kayak gini yang bikin pemilik toko akhirnya bikin program loyalitas khusus buat 11 orang itu.
Tanpa IFS, kamu bakal nulis 4 IF bersarang cuma buat dapet label yang sama. Dengan IFS, satu baris dan langsung kebaca.
IFS nggak punya slot "kalau semua gagal" kayak IF. Jadi kamu bikin sendiri pakai trik TRUE.
=IFS(A2>=90; "A"; A2>=80; "B"; TRUE; "Belum lulus")
Kondisi TRUE itu, ya, selalu TRUE. Jadi kalau semua kondisi di atasnya FALSE, Excel pasti nyampe ke sini dan ngasih hasil terakhir.
Taruh TRUE di pasangan paling akhir. Kalau ditaruh di tengah, semua kondisi setelahnya jadi sia-sia. Excel udah berhenti duluan.
Ini penyebab bug nomor satu. Nulis kondisi longgar (>=60) sebelum kondisi ketat (>=90) bikin semua nilai tinggi kena label rendah. Selalu urut dari ketat ke longgar.
Error #N/A di IFS artinya nggak ada kondisi yang kepenuhan. Bukan rumusnya rusak. Tambahin pasangan TRUE di akhir, beres.
Kalau kamu mau hasil kosong daripada tulisan, pakai string kosong:
=IFS(A2>=90; "A"; A2>=80; "B"; TRUE; "")
Cara lain, bungkus pakai IFERROR. Tapi hati-hati, IFERROR juga bakal nutupin error lain kayak #VALUE!, jadi bug beneran bisa ketutup diam-diam.
IFS butuh pasangan. Kalau kamu nulis 5 argumen (kondisi-hasil-kondisi-hasil-kondisi), Excel nolak rumusnya. Hitung ulang: jumlah argumen harus genap.
Kalau kolom nilai kamu hasil copy-paste dari sistem lain, angkanya sering kesimpan sebagai teks. Kondisi B2>=90 bakal ngasih hasil aneh soalnya teks selalu dianggap lebih besar dari angka di Excel. Cek dulu pakai ISNUMBER, atau konversi pakai VALUE.
Secara teknis boleh sampai 127. Praktisnya, kalau kondisimu udah lebih dari 6, mending bikin tabel bantu terus panggil pakai XLOOKUP. Rumus panjang di satu sel itu mimpi buruk buat orang yang ngewarisin file kamu.
SWITCH juga fungsi logika Excel 2019 ke atas, tapi dia cuma bisa nyocokin nilai persis. IFS bisa nangani perbandingan rentang (lebih besar dari, lebih kecil dari).
| Kebutuhan | Pakai |
|---|---|
| Nilai 0-100 jadi huruf A-E (rentang) | IFS |
| Kode "JKT" jadi "Jakarta" (cocok persis) | SWITCH |
| Gabungan dua syarat sekaligus | IFS + AND/OR |
Buat detail argumen resminya, kamu bisa cek dokumentasi fungsi IFS di Microsoft Support.
IF bertingkat itu satu IF ditaruh di dalam IF lain, jadi kamu harus nutup semua kurungnya di akhir. IFS cuma satu fungsi: kamu tulis pasangan kondisi dan hasil berurutan, selesai. Hasil akhirnya sama persis, tapi IFS jauh lebih gampang dibaca dan diedit. Kalau ada 5 kondisi, IF bertingkat butuh 5 kurung tutup, IFS cuma butuh satu.
Error #N/A muncul kalau nggak ada satu pun kondisi di IFS yang bernilai TRUE. Excel nggak punya nilai cadangan otomatis. Solusinya, tambahin pasangan terakhir berupa TRUE dan nilai default, misalnya TRUE;"Lainnya". Kondisi TRUE selalu benar, jadi dia jadi penampung buat semua data yang nggak kena kondisi di atasnya.
Nggak ada. IFS baru muncul di Excel 2019 dan Microsoft 365. Kalau file kamu dibuka di Excel 2016 atau lebih lama, rumusnya bakal berubah jadi _xlfn.IFS dan hasilnya #NAME?. Buat file yang dishare ke tim yang masih pakai Excel lama, tetap pakai IF bertingkat. Di Google Sheets, IFS udah tersedia buat semua akun.
IFS nerima maksimal 127 pasangan kondisi dan hasil. Praktisnya kamu nggak akan pernah nyentuh angka itu. Kalau kondisimu udah lebih dari 6-7, biasanya lebih rapi pindah ke tabel bantu plus XLOOKUP daripada nulis rumus panjang. Tabel bantu lebih gampang diaudit orang lain dan bisa diubah tanpa nyentuh rumus.
Bisa. Setiap kondisi di IFS boleh berupa rumus logika apa pun, termasuk AND dan OR. Contohnya =IFS(AND(A2>100;B2="Jakarta");"Prioritas";TRUE;"Biasa"). Yang penting hasil kondisinya TRUE atau FALSE. Ini berguna kalau satu kategori butuh dua syarat sekaligus, kayak target penjualan tercapai dan wilayahnya tertentu.
Cara paling cepat nguasain IFS? Buka spreadsheet kamu sekarang, cari satu kolom yang selama ini kamu kategorikan manual, terus ganti pakai IFS. Lima menit, dan kamu udah punya rumus yang bisa dipakai ulang tiap bulan.
Mau latihan pakai dataset beneran? Halaman fungsi IFS di NgulikData punya contoh yang bisa langsung kamu copy ke sheet sendiri.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Cara pakai rumus FV dan PV Excel buat hitung nilai uang di masa depan dan sekarang. Lengkap dengan contoh tabungan dan target modal UMKM.
Investasi kelihatan untung di atas kertas, tapi nilai uang berubah tiap tahun. NPV dan IRR Excel bantu kamu nilai apakah proyek beneran layak, bukan cuma kelihatan untung.
Sebelum ambil pinjaman, kamu bisa hitung sendiri cicilan bulanannya pakai satu rumus. Ini cara PMT Excel bekerja, lengkap dengan contoh modal usaha dan jebakan bunga tahunan.