Prinsip Desain Dashboard: 9 Aturan biar Gak Bikin Pusing
TL;DR
Prinsip desain dashboard yang paling menentukan ada tiga: taruh angka terpenting di kiri atas karena di situ mata orang mendarat pertama kali, batasi jumlah chart maksimal 5 sampai 7 dalam satu layar, dan pakai warna cuma buat nandain hal yang perlu perhatian. Dashboard yang kepakai biasanya bisa dibaca dalam 5 detik tanpa perlu dijelasin. Kalau pembaca harus nanya angka ini maksudnya apa, desainnya yang gagal.
Dashboard yang bagus bisa dibaca dalam 5 detik tanpa perlu dijelasin.
Kalau orang yang buka dashboard kamu harus nanya "ini angka apa ya", desainnya yang gagal, bukan orangnya yang kurang pintar.
Aku pernah bikin dashboard 14 chart yang kata aku lengkap banget. Tiga bulan kemudian aku cek log-nya: dibuka 4 kali. Empat. Dashboard penggantinya cuma 5 chart, dibuka 200-an kali sebulan. Ini 9 aturan yang aku pelajari dari kegagalan itu.
1. Angka paling penting taruh di kiri atas
Mata orang mendarat pertama kali di kiri atas, terus nyapu ke kanan, turun, lalu ke kanan lagi. Pola huruf Z.
Kalau kamu taruh KPI utama di pojok kanan bawah, itu tempat terakhir yang dilihat orang, dan sering gak kelihat sama sekali.
Aturan praktisnya: satu angka utama di kiri atas, ukuran font paling gede di seluruh halaman. Kalau atasan cuma sempat lihat 2 detik, itu angka yang dia bawa pulang.
2. Maksimal 5–7 chart per layar
Lebih dari itu, mata gak tau harus mendarat di mana. Semua chart jadi sama gak pentingnya.
Kalau kamu punya 15 metrik, jangan dijejelin. Pecah jadi beberapa halaman, tiap halaman jawab satu pertanyaan.
Halaman 1: gimana penjualan bulan ini. Halaman 2: produk mana yang jalan. Halaman 3: wilayah mana yang bermasalah.
Satu dashboard, satu pertanyaan.
3. Warna cuma buat hal yang butuh perhatian
Kalau semua chart warna-warni, gak ada yang menonjol. Warna kehilangan fungsinya sebagai penanda.
Pakai satu warna netral (abu-abu, biru muda) buat mayoritas elemen. Simpan satu warna mencolok (oranye, merah) khusus buat hal yang lagi bermasalah atau butuh keputusan.
Hindari juga kombinasi merah-hijau sebagai satu-satunya pembeda. Sekitar 8 persen laki-laki punya kesulitan bedain dua warna itu. Kalau butuh nandain baik dan buruk, tambahin ikon panah atau posisi, jangan cuma andelin warna.
4. Sumbu Y bar chart wajib mulai dari nol
Ini bukan soal estetika, ini soal jujur.
Yang dibaca mata dari bar chart itu panjang batangnya. Kalau sumbu Y dimulai dari 90 dan datanya 92 lawan 94, batang kedua bakal keliatan dua kali lebih tinggi. Padahal selisihnya cuma 2 persen.
Buat line chart yang nunjukin tren, sumbu dipotong masih boleh, asal dikasih tanda yang jelas.
5. Pie chart cuma buat 2–3 slice
Mata manusia payah ngebandingin luas sudut. Kamu bisa lihat satu potongan lebih gede, tapi susah bilang seberapa gede.
Pie chart 8 slice itu teka-teki, bukan visualisasi.
Ganti bar chart. Panjang batang gampang dibandingin, dan urutannya langsung kebaca.
| Mau nunjukin apa | Chart yang cocok |
|---|---|
| Perbandingan antar kategori | Bar chart horizontal |
| Tren sepanjang waktu | Line chart |
| Komposisi (2–3 bagian) | Stacked bar atau pie |
| Satu angka penting | Big number / KPI card |
| Hubungan dua variabel | Scatter plot |
| Distribusi | Histogram atau box plot |
6. Buang chart junk
Chart junk itu semua elemen visual yang gak nambah informasi. Edward Tufte yang ngasih istilahnya.
Yang termasuk chart junk: efek 3D, bayangan, gradient di batang, grid line tebal, border di tiap kotak, background bertekstur, dan gauge yang mirip spidometer mobil.
Tes gampangnya: hapus satu elemen. Kalau informasinya masih sama, elemen itu gak perlu ada.
7. Kasih konteks di sebelah angka
Angka "Rp 142 juta" itu gak berarti apa-apa sendirian.
Bagus atau jelek? Naik atau turun? Sesuai target atau nggak?
Tiap KPI utama minimal punya satu pembanding di sebelahnya: target, periode sebelumnya, atau rata-rata. Contoh yang kepakai:
Omzet Mei 2026
Rp 142,3 juta
↑ 20,1% vs Mei 2025 | 94% dari target
Baris kedua itu yang bikin angkanya bisa dipakai buat ngambil keputusan. Cara ngitung pembanding tahun lalu ada di YoY growth SQL.
8. Urutkan bar chart dari besar ke kecil
Bar chart yang diurut alfabetis itu bikin pembaca kerja dua kali. Mereka harus scan semua batang dulu buat nemu yang paling tinggi.
Urutkan dari nilai terbesar ke terkecil. Yang paling penting langsung nangkring di atas.
Pengecualian: kalau kategorinya punya urutan alami (Senin sampai Minggu, Januari sampai Desember), pakai urutan alaminya.
9. Kasih judul yang ngasih tau kesimpulan
Judul chart "Penjualan per Kategori" itu cuma ngasih tau isinya apa.
Judul "Minuman Nyumbang 61% Pertumbuhan April" ngasih tau kesimpulannya.
Kalau kamu udah tau ceritanya, tulis di judul. Pembaca gak perlu nebak-nebak lagi.
Contoh kasus: dashboard toko_berkah yang dirombak
Dashboard lama toko_berkah punya 14 chart di satu halaman. Ada 3 gauge, 2 pie chart dengan 9 slice, dan 1 tabel 40 baris.
Dari log Looker Studio: rata-rata orang buka 12 detik terus tutup. Ada 6 user yang gak pernah buka lagi setelah kunjungan pertama.
Aku rombak jadi 5 elemen:
- Kiri atas: omzet bulan berjalan, font gede, plus baris pembanding YoY dan pencapaian target.
- Kanan atas: 3 KPI card kecil (jumlah transaksi, nilai keranjang rata-rata, jumlah pelanggan aktif).
- Tengah kiri: line chart omzet 13 bulan terakhir.
- Tengah kanan: bar chart horizontal top 8 kategori, diurut dari besar.
- Bawah: tabel 5 baris berisi wilayah yang paling jauh dari target.
Hasil setelah 2 bulan: rata-rata durasi buka naik jadi 1 menit 48 detik, dan jumlah kunjungan bulanan naik dari 31 ke 214.
Yang paling ngefek dari semua perubahan? Judul chart yang diubah jadi kesimpulan. Manajer bilang dia akhirnya ngerti dashboard-nya lagi ngomong apa tanpa harus nanya aku.
Kesalahan umum waktu bikin dashboard
Bikin dashboard buat diri sendiri. Kamu paham semua angkanya karena kamu yang bikin query-nya. Pembacamu nggak. Tanya dulu ke mereka: keputusan apa yang mau kamu ambil dari dashboard ini?
Nambahin filter 12 biji. Filter itu bagus, tapi kalau ada 12, orang bakal bingung mulai dari mana. Kasih 2–3 filter yang paling sering dipakai, sisanya taruh di halaman detail.
Lupa keadaan kosong. Apa yang muncul kalau filternya gak ngasilin data? Kalau chartnya kosong tanpa keterangan, orang bakal ngira dashboard-nya rusak.
Gak nulis kapan terakhir di-refresh. Taruh timestamp kecil di pojok. Ini nyelametin kamu dari 20 pesan WhatsApp yang nanya "datanya udah update belum?"
Kalau mau dalemin dasar teorinya, panduan visual dari Tableau gratis dan enak dibaca.
FAQ
Berapa jumlah chart ideal dalam satu dashboard?
Lima sampai tujuh chart dalam satu layar tanpa scroll. Lebih dari itu, mata pembaca gak tau harus mendarat di mana dan semua chart jadi sama gak pentingnya. Kalau kamu punya 15 metrik, pecah jadi beberapa halaman dashboard yang masing-masing jawab satu pertanyaan. Satu dashboard, satu pertanyaan utama.
Kenapa pie chart sering dilarang?
Mata manusia payah banget ngebandingin luas sudut. Kamu bisa lihat bahwa satu potongan lebih besar, tapi susah bilang seberapa besar. Bar chart bikin perbandingan itu langsung kebaca dari panjangnya. Pie chart masih boleh dipakai kalau slice-nya cuma dua atau tiga dan angkanya beda jauh. Lebih dari itu, ganti bar chart.
Sumbu Y harus selalu mulai dari nol?
Buat bar chart, iya wajib. Panjang batang itu yang dibaca mata, jadi kalau sumbunya dipotong, selisih 2 persen bisa keliatan kayak selisih 200 persen. Buat line chart yang nunjukin tren, sumbu dipotong masih boleh asal dikasih tanda jelas. Yang penting pembaca gak salah nangkap besarnya perubahan.
Warna apa yang aman buat dashboard?
Pakai satu warna netral buat mayoritas elemen, plus satu warna aksen buat hal yang butuh perhatian. Hindari merah-hijau sebagai satu-satunya pembeda, soalnya sekitar 8 persen laki-laki punya kesulitan bedain dua warna itu. Kalau butuh nandain baik dan buruk, tambahin ikon atau posisi, jangan cuma andalkan warna.
Gimana cara tau dashboard aku bagus atau nggak?
Kasih ke satu orang yang belum pernah lihat, terus diem aja selama 5 detik. Habis itu tanya: menurut kamu ini soal apa, dan mana angka yang paling penting. Kalau dia bisa jawab dua-duanya, desainmu jalan. Kalau dia balik nanya, ada yang perlu dirapiin. Tes ini gratis dan lebih jujur dari opini apa pun.
Penutup
Kalau kamu cuma inget 3 hal dari 9 aturan di atas, ambil yang ini.
Angka paling penting di kiri atas, font paling gede. Itu yang dibawa pulang orang.
Maksimal 5–7 chart. Sisanya pindah ke halaman lain.
Judul chart tulis kesimpulannya, bukan isinya.
Coba tes 5 detik ke dashboard yang lagi kamu pegang sekarang. Kasih ke temen, diem 5 detik, tanya apa kesimpulannya. Jawaban dia bakal ngasih tau mana yang perlu dirapiin.
Butuh angka pembanding buat KPI card? Latihan query-nya bisa mulai dari SUM dan KPI.
Lanjut baca: AI untuk visualisasi data — buat bikin draf chart-nya lebih cepat sebelum kamu rapiin sendiri.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel Terkait
Apache Superset untuk Pemula: Alternatif BI Gratis
Apache Superset itu tool BI open-source yang dipakai Airbnb dan Netflix. Gratis, jalan di server sendiri, dan dashboard pertama bisa jadi dalam satu sore.
Metabase vs Looker Studio: Pilih Mana buat Tim Kecil
Metabase dan Looker Studio sama-sama bisa bikin dashboard tanpa bayar lisensi. Bedanya di mana data kamu duduk, siapa yang boleh lihat, dan berapa jam kamu rela ngurus server.
Metabase untuk Pemula: BI Open Source yang Gampang Dipakai
Metabase kasih kamu dashboard yang layak dipakai tim tanpa bayar lisensi dan tanpa nunggu vendor. Ini panduan dari install sampai dashboard pertama yang jalan.