Populasi dan Sampel Penelitian: Konsep, Contoh, dan Cara Menentukannya
Blog/Tips & Trik/Populasi dan Sampel Penelitian: Konsep, Contoh, dan Cara Menentukannya

Populasi dan Sampel Penelitian: Konsep, Contoh, dan Cara Menentukannya

BimaBima
·16 Agustus 2025·9 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Populasi adalah seluruh kelompok yang mau kamu simpulkan dalam penelitian, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi itu yang benar-benar kamu ukur. Kesimpulan sampel cuma berlaku buat populasi yang kerangka sampelnya kamu pakai. Ukuran sampel dihitung dari tingkat kepercayaan dan batas galat yang kamu pilih, bukan dari persentase populasi.

Populasi adalah seluruh kelompok yang mau kamu simpulkan. Sampel adalah bagian dari kelompok itu yang beneran kamu ukur.

Kedengarannya sepele. Tapi kesalahan paling mahal di bab metodologi biasanya lahir di sini: batas populasi ditulis terlalu luas, sementara datanya diambil dari lingkaran yang jauh lebih sempit.

Di bawah ini definisi kerjanya, cara nentuin ukuran sampel, dan contoh nyata dari survei UMKM.

Apa itu populasi dan sampel dalam penelitian?

Populasi adalah seluruh unit yang punya ciri sesuai batasan penelitian kamu dan jadi sasaran kesimpulan. Sampel adalah sebagian unit dari populasi itu yang diambil buat diukur. Kamu ngukur sampel, tapi yang kamu bicarakan di kesimpulan adalah populasi.

Unitnya gak selalu orang. Bisa toko, transaksi, dokumen, sekolah, atau hari kerja. Yang penting kamu bisa nulis satu kalimat yang bikin orang lain tau unit mana yang masuk dan mana yang keluar.

Contoh batasan yang cukup tajam: seluruh usaha mikro bidang makanan yang punya izin NIB dan beroperasi di Kota Bandung per Juni 2025.

Contoh yang kelewat longgar: pelaku UMKM di Indonesia. Batas ini gak nyebutin sektor, wilayah, skala, maupun waktu, jadi gak ada yang bisa ngecek siapa yang seharusnya masuk.

Apa bedanya populasi target dan populasi terjangkau?

Populasi target itu kelompok yang idealnya mau kamu simpulkan. Populasi terjangkau itu bagian dari target yang beneran bisa kamu daftar dan hubungi.

Daftar nama unit yang bisa kamu hubungi itu namanya kerangka sampel. Ini yang paling nentuin kualitas penelitian kamu.

IstilahArtinyaContoh
Populasi targetSasaran kesimpulan idealSemua UMKM makanan di Jawa Barat
Populasi terjangkauBagian yang bisa diaksesUMKM makanan terdaftar di dinas koperasi 5 kota
Kerangka sampelDaftar nama unit yang bisa dihubungiBasis data 2.400 UMKM dengan kontak aktif
SampelUnit yang beneran diukur210 UMKM yang ngisi kuesioner

Aturan mainnya: kesimpulan kamu berlaku buat populasi yang kerangka sampelnya kamu pakai. Kalau kerangka sampel kamu cuma UMKM yang terdaftar resmi, kamu gak bisa ngomongin UMKM yang belum terdaftar, walaupun jumlah mereka jauh lebih banyak.

Data jumlah usaha per wilayah dan sektor bisa kamu ambil dari Badan Pusat Statistik buat nyusun angka populasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Teknik sampling apa yang bisa dipakai?

Dua keluarga besar: yang tiap unit punya peluang terpilih terukur (probability), dan yang gak (non-probability).

TeknikCara kerjaCocok kalau
Simple randomUndi acak dari kerangka sampelKerangka sampel lengkap dan populasi homogen
SystematicAmbil tiap unit ke-k dari daftar berurutanDaftar panjang dan urutannya gak berpola
StratifiedBagi populasi jadi lapisan, ambil acak di tiap lapisanAda kelompok penting yang jumlahnya timpang
ClusterAmbil acak kelompok utuh, misalnya kelurahanPopulasi tersebar luas dan biaya lapangan mahal
PurposivePilih unit sesuai kriteria penelitiRiset kualitatif atau kasus khusus
QuotaIsi kuota per kelompok sampai penuhRiset pasar cepat dengan target proporsi tertentu
ConvenienceAmbil siapa yang gampang dijangkauUji coba kuesioner, riset eksplorasi
SnowballResponden nunjuk responden berikutnyaPopulasi tersembunyi atau susah didaftar

Stratified paling sering nyelametin penelitian UMKM. Kalau kamu ambil acak murni dari populasi yang 80% usaha mikro, usaha menengah bisa cuma kebagian beberapa responden dan analisis per skala jadi gak bisa dipercaya.

Cara mecah populasi jadi kelompok yang masuk akal aku bahas dari sisi analisis data di glosarium segmentation. Teknik pengambilan sampel dari sisi olah data ada di sampling data.

Berapa jumlah sampel yang cukup?

Ukuran sampel dihitung dari tiga hal: tingkat kepercayaan, batas galat yang kamu terima, dan seberapa beragam populasinya. Ukuran populasi cuma ngasih koreksi kecil, dan pengaruhnya makin kecil kalau populasinya makin besar.

Buat memperkirakan proporsi, rumus dasarnya:

n0 = z^2 x p x (1 - p) / e^2

Keterangan: z nilai baku sesuai tingkat kepercayaan (1,96 buat 95%), p perkiraan proporsi (pakai 0,5 kalau belum ada dugaan, ini yang paling aman), e batas galat dalam desimal.

Dengan 95% dan galat 5%:

n0 = 1,96^2 x 0,5 x 0,5 / 0,05^2
   = 3,8416 x 0,25 / 0,0025
   = 384,16  ->  385 responden

Kalau populasinya terbatas, pakai koreksi populasi terbatas:

n = n0 / (1 + (n0 - 1) / N)

Buat N = 2.400:

n = 384,16 / (1 + 383,16 / 2400) = 331,3  ->  332 responden

Banyak skripsi di Indonesia pakai rumus Slovin: n = N / (1 + N x e^2). Buat N = 2.400 dan e = 5%, hasilnya 343. Angkanya dekat, dan buat riset deskriptif itu masih masuk akal.

Yang perlu kamu tau, Slovin adalah penyederhanaan yang diam-diam pakai anggapan tingkat kepercayaan 95% dan proporsi 0,5. Kalau pembimbing kamu minta dasar yang lebih kuat, pakai rumus proporsi tadi dan tulis semua asumsinya.

Kalau tujuan kamu bukan memperkirakan proporsi tapi ngebandingin dua kelompok, hitungannya beda lagi dan berdasar kekuatan uji. Contohnya ada di ukuran sampel A/B test.

Contoh kasus: survei 210 pemilik UMKM

Dataset ngulikdata punya file survei_umkm_2025. Ini catatan lapangannya, termasuk bagian yang gak ideal.

  1. Populasi target: UMKM sektor makanan dan minuman di Jawa Barat.
  2. Populasi terjangkau: UMKM sektor sama yang terdaftar dengan kontak aktif di lima kota. Kerangka sampelnya berisi 2.400 nama.
  3. Target sampel: 332 responden, dari hitungan 95% dan galat 5% dengan koreksi populasi terbatas.
  4. Teknik: stratified proporsional per kota, biar kota kecil gak tenggelam sama kota besar.
  5. Kuesioner disebar: 520 undangan, mengantisipasi banyak yang gak balas.
  6. Kuesioner kembali dan lolos pemeriksaan: 210 responden, alias 40,4% dari yang disebar.

Dengan 210 responden, batas galat sebenarnya melebar dari 5% jadi sekitar 6,4% pada tingkat kepercayaan 95%.

Ini yang harus ditulis apa adanya di bab metodologi, bukan disembunyiin. Penelitian yang jujur soal batas galatnya jauh lebih kuat di sidang daripada yang ngaku-ngaku 5% padahal responden kurang.

Satu temuan tambahan dari data ini: dari 210 responden, 118 masih nyatat penjualan pakai buku tulis. Kalau kelompok yang balas cenderung yang lebih melek administrasi, angka 56,2% itu kemungkinan besar malah lebih rendah dari kondisi sebenarnya di lapangan.

Pemeriksaan isian kosong dan jawaban ganda juga wajib sebelum analisis. Patokannya ada di glosarium data quality.

Kesalahan umum soal populasi dan sampel

  • Nulis populasi "seluruh masyarakat Indonesia" padahal responden dari satu kampus. Ini yang paling sering kena di sidang. Sempitkan batas populasi sampai sesuai kenyataan pengambilan data.
  • Ngambil 10% populasi tanpa alasan. Persentase bukan dasar hitungan. Sebutin tingkat kepercayaan dan batas galat yang kamu pakai.
  • Nyamain jumlah kuesioner disebar dengan ukuran sampel. Ukuran sampel itu yang kembali dan lolos pemeriksaan, bukan yang dikirim.
  • Ngaku random padahal nyebar di grup WhatsApp. Kalau gak ada kerangka sampel dan undian, itu convenience sampling. Tulis jujur, dan batasi kesimpulannya.
  • Lupa nyebut waktu. Populasi UMKM Juni 2025 beda isinya dari populasi Desember 2025. Cantumkan periodenya.
  • Buang responden yang jawabannya gak sesuai harapan. Kalau ada data yang dibuang, sebutin jumlah dan alasannya di laporan.

Yang perlu kamu siapin sebelum ngambil data

Tulis tiga kalimat ini sebelum nyebar kuesioner pertama: batas populasi kamu, kerangka sampel yang dipakai, dan ukuran sampel beserta asumsinya.

Kalau tiga kalimat itu susah ditulis, penelitian kamu belum siap jalan, dan itu justru kabar bagus. Jauh lebih murah benerin sekarang daripada waktu data udah kekumpul.

Buat memahami cara ngeringkas data setelah terkumpul, lanjut ke statistik deskriptif. Kalau kamu mau lihat perbandingan dua konsep ini dalam bentuk tabel plus sepuluh contoh siap pakai, baca perbedaan populasi dan sampel.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
Tips & Trik
20 Juli 2026•9 menit baca

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)

groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.

BimaBima
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
Tips & Trik
18 Juli 2026•8 menit baca

Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)

to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.

BimaBima
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
Tips & Trik
16 Juli 2026•8 menit baca

Pandas read_excel: Baca File Excel di Python

pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore