Matriks SWOT IFAS EFAS: Cara Memberi Bobot dan Skor Secara Kuantitatif
TL;DR
IFAS dan EFAS adalah tabel yang ngubah daftar SWOT jadi skor angka. Tiap faktor dikasih bobot (total 1,00) dan rating (1-4), lalu dikali jadi skor tertimbang. Selisih kekuatan dikurangi kelemahan jadi sumbu X, selisih peluang dikurangi ancaman jadi sumbu Y, dan titik potongnya nunjukin kuadran strategi yang cocok.
Matriks IFAS dan EFAS adalah cara ngubah daftar SWOT jadi angka. Tiap faktor dikasih bobot kepentingan dan rating kondisi, dikali, lalu dijumlah jadi satu skor yang bisa dibandingin antar periode.
SWOT versi daftar poin punya satu masalah besar. Semua poin kelihatan setara. "Lokasi strategis" ditulis sejajar sama "punya akun Instagram", padahal dampaknya beda jauh.
IFAS EFAS nutup lubang itu. Kamu maksa diri sendiri jawab: dari semua faktor ini, mana yang beneran nentuin?
Di bawah ini aku pakai contoh toko_berkah, distributor sembako grosir di Sidoarjo dengan omzet Rp 4,1 miliar setahun. Semua tabelnya bisa kamu tiru di Google Sheets atau Excel.
Apa itu matriks IFAS dan EFAS?
IFAS (Internal Factor Analysis Summary) adalah tabel yang ngumpulin kekuatan dan kelemahan internal, masing-masing dikasih bobot dan rating. EFAS (External Factor Analysis Summary) ngerjain hal yang sama buat peluang dan ancaman dari luar. Dua tabel ini dikembangkan Fred David sebagai bagian dari kerangka perumusan strategi, dan sampai sekarang jadi metode SWOT kuantitatif yang paling sering dipakai di skripsi maupun rencana bisnis.
Kolomnya sama buat kedua tabel: faktor, bobot, rating, skor tertimbang.
Bedanya cuma sumber faktornya. IFAS dari dalam perusahaan (hal yang bisa kamu kontrol). EFAS dari luar (hal yang cuma bisa kamu antisipasi).
Kenapa SWOT biasa perlu diangkakan?
Tiga alasan yang aku temuin waktu bantu UMKM nyusun rencana tahunan.
Pertama, SWOT daftar poin nggak bisa dibandingin antar tahun. Tahun lalu 8 poin kekuatan, tahun ini 11. Membaik atau cuma lebih rajin nulis?
Kedua, nggak ada urutan prioritas. Kalau semua kelemahan setara, tim bakal benerin yang paling gampang, bukan yang paling merugikan.
Ketiga, gampang dibantah di rapat. "Menurutku itu bukan kelemahan" susah dilawan kalau nggak ada angka. Dengan bobot yang disepakati bareng, debatnya pindah ke depan, sebelum kesimpulan diambil.
Langkah 1: Kumpulin faktor internal dan eksternal
Tulis dulu faktornya tanpa mikirin angka. Aturan mainnya cuma satu: tiap faktor harus bisa dijelasin pakai bukti, bukan perasaan.
"Pelayanan bagus" itu perasaan. "Waktu tanggap pesanan WhatsApp rata-rata 8 menit" itu faktor.
Buat toko_berkah, faktor internalnya:
| Kekuatan | Kelemahan |
|---|---|
| Punya 3 gudang di radius 12 km dari pasar induk | Pencatatan stok masih manual di buku |
| Harga beli lebih murah 4% karena volume | Bergantung ke 2 supplier untuk 61% barang |
| 412 pelanggan tetap dengan repeat order bulanan | Nggak ada pengganti kalau pemilik sakit |
| Armada 5 mobil box milik sendiri | Piutang macet Rp 190 juta |
| Waktu tanggap pesanan 8 menit | Belum ada sistem pemesanan online |
| Modal kerja lancar, rasio lancar 2,1 | Cabang Porong rugi 4 bulan berturut-turut |
Faktor eksternalnya beda. Ini hal yang terjadi terlepas dari apa yang kamu lakuin: pertumbuhan pasar, aturan baru, pesaing masuk, perubahan perilaku pembeli.
Aturan yang sering dilanggar: jangan taruh hal internal di EFAS. "Karyawan kurang terlatih" itu kelemahan, bukan ancaman. Ancamannya "upah minimum kabupaten naik 6,5%".
Langkah 2: Kasih bobot ke tiap faktor
Bobot nunjukin seberapa penting faktor itu buat keberhasilan di industri kamu. Bukan seberapa bagus posisi kamu.
Aturannya:
- Rentang 0,00 sampai 1,00 per faktor.
- Total semua bobot di satu tabel harus pas 1,00.
- Kekuatan dan kelemahan berbagi total 1,00 yang sama di IFAS. Jangan bikin 1,00 sendiri-sendiri.
Cara paling praktis: kasih dulu nilai kasar 1-10 buat tiap faktor, baru dibagi totalnya.
=B2/SUM($B$2:$B$13)
Formula ini otomatis bikin totalnya 1,00 tanpa kamu perlu ngutak-atik desimal manual.
Kunci hasilnya pakai pengecekan:
=IF(ABS(SUM(C2:C13)-1)<0,001;"OK";"Total bobot belum 1,00")
Fungsi IF di sini nyelametin kamu dari kesalahan paling umum di seluruh metode ini. Bobot yang totalnya 0,97 bikin semua skor akhirnya meleset.
Langkah 3: Kasih rating 1 sampai 4
Rating nunjukin kondisi perusahaan kamu di faktor itu. Skalanya beda antara IFAS dan EFAS, dan ini yang paling sering ketuker.
| Tabel | Jenis faktor | Arti rating |
|---|---|---|
| IFAS | Kekuatan | 3 = kuat, 4 = kuat banget |
| IFAS | Kelemahan | 1 = lemah banget, 2 = lemah |
| EFAS | Peluang & ancaman | 1-4 = seberapa bagus respons kamu saat ini |
Perhatiin baris kelemahan. Ratingnya cuma boleh 1 atau 2. Kalau kamu ngasih rating 3 ke sebuah kelemahan, berarti itu sebenernya bukan kelemahan.
Di EFAS, rating nggak ngukur seberapa besar peluangnya. Besarnya peluang udah kehitung di bobot. Rating ngukur seberapa siap kamu nanggepin. Ancaman besar yang udah kamu antisipasi bisa dapet rating 4.
Ini bagian yang paling sering salah di skripsi. Ancaman otomatis dikasih rating 1, padahal harusnya dinilai dari kesiapan.
Langkah 4: Hitung skor tertimbang
Kali bobot dengan rating. Satu kolom, satu formula.
=C2*D2
Buat total keseluruhan, SUMPRODUCT ngerjain kali dan jumlah sekaligus:
=SUMPRODUCT(C2:C13;D2:D13)
Ini tabel IFAS toko_berkah lengkap:
| Faktor internal | Bobot | Rating | Skor |
|---|---|---|---|
| 3 gudang dekat pasar induk | 0,12 | 4 | 0,48 |
| Harga beli 4% lebih murah | 0,11 | 4 | 0,44 |
| 412 pelanggan tetap | 0,10 | 4 | 0,40 |
| Armada 5 mobil box | 0,08 | 3 | 0,24 |
| Waktu tanggap 8 menit | 0,06 | 3 | 0,18 |
| Rasio lancar 2,1 | 0,07 | 3 | 0,21 |
| Subtotal kekuatan | 0,54 | 1,95 | |
| Stok manual di buku | 0,11 | 1 | 0,11 |
| 61% barang dari 2 supplier | 0,10 | 1 | 0,10 |
| Nggak ada pengganti pemilik | 0,07 | 2 | 0,14 |
| Piutang macet Rp 190 juta | 0,09 | 1 | 0,09 |
| Belum ada pemesanan online | 0,05 | 2 | 0,10 |
| Cabang Porong rugi | 0,04 | 2 | 0,08 |
| Subtotal kelemahan | 0,46 | 0,62 | |
| Total IFAS | 1,00 | 2,57 |
Skor 2,57 tipis di atas titik tengah 2,50. Artinya posisi internal toko_berkah cuma sedikit lebih kuat dari lemah.
Yang lebih berguna dari angka total: lihat tiga skor kelemahan terendah. Stok manual (0,11), ketergantungan supplier (0,10), dan piutang macet (0,09) itu tiga hal yang kalau dibenerin naikin skor paling banyak.
Langkah 5: Tentuin kuadran strateginya
Setelah IFAS dan EFAS jadi, hitung dua koordinat:
Sumbu X = skor kekuatan - skor kelemahan
Sumbu Y = skor peluang - skor ancaman
Buat toko_berkah: X = 1,95 - 0,62 = 1,33. Skor EFAS-nya peluang 1,71 dan ancaman 0,94, jadi Y = 0,77.
Titik (1,33 ; 0,77) jatuh di kuadran kanan atas.
| Kuadran | Posisi | Strategi |
|---|---|---|
| I (X+, Y+) | Kuat dan banyak peluang | Agresif: perluas pasar, tambah kapasitas |
| II (X-, Y+) | Lemah tapi banyak peluang | Benahi internal dulu sebelum ekspansi |
| III (X-, Y-) | Lemah dan banyak ancaman | Bertahan: potong biaya, fokus ke lini yang untung |
| IV (X+, Y-) | Kuat tapi banyak ancaman | Diversifikasi: cari sumber pemasukan baru |
Buat gambar kuadrannya, pakai Scatter chart dengan satu titik, lalu tambahin garis sumbu di angka 0.
Kalau kamu bikin ini tiap tahun, plot semua titiknya di satu grafik. Arah pergerakannya lebih ngasih informasi daripada posisi satu tahun.
Contoh kasus: apa yang berubah setelah toko_berkah pakai IFAS
Sebelum pakai bobot, rencana kerja mereka tahun 2025 punya 9 prioritas. Nomor satunya bikin website.
Setelah tabel IFAS jadi, "belum ada pemesanan online" cuma dapet bobot 0,05 dan skor 0,10. Pelanggan mereka pemilik warung yang pesen lewat WhatsApp, dan 412 pelanggan tetap itu udah jalan tanpa website.
Yang naik ke atas: pencatatan stok manual, bobot 0,11.
Mereka ganti buku catatan jadi spreadsheet stok sederhana di bulan September. Tiga bulan kemudian, selisih stok fisik dengan catatan turun dari 7,4% jadi 1,9% dari nilai persediaan. Dengan persediaan rata-rata Rp 620 juta, itu setara Rp 34 juta barang yang tadinya nggak ketauan ke mana.
Website-nya sampai sekarang belum dibikin. Dan omzetnya naik 11% tahun itu.
Nilai IFAS EFAS ada di situ. Dia nggak ngasih ide baru. Dia ngurutin ide yang udah ada berdasarkan bobot yang disepakati, bukan berdasarkan siapa yang paling semangat di rapat.
Kesalahan umum waktu nyusun IFAS EFAS
Bobot dan rating diisi sama satu orang di hari yang sama. Hasilnya cenderung ngikutin kesimpulan yang udah ada di kepala. Pisahkan: bobot diisi bareng tim, rating diisi terpisah, digabung belakangan.
Total bobot nggak pas 1,00. Ini kesalahan teknis nomor satu. Pasang formula pengecekan di sel paling atas.
Kelemahan dikasih rating 3 atau 4. Kalau ini terjadi, faktornya salah kategori. Pindahin ke kekuatan atau ubah rumusan kalimatnya.
Faktor internal nyasar ke EFAS. Cek dengan satu pertanyaan: kalau perusahaan ini bubar besok, faktor ini tetap ada nggak? Kalau iya, itu eksternal.
Faktornya terlalu banyak. 20 faktor per tabel bikin bobot per faktor rata-rata 0,05, dan semuanya jadi kelihatan sama pentingnya. Batasi 6 per kategori.
Dibikin sekali lalu ditinggal. Nilai terbesar metode ini muncul di tahun kedua, waktu kamu bisa bandingin skornya. Simpan file-nya, kasih tanggal.
FAQ
Bobot dan rating itu bedanya apa?
Bobot ngukur seberapa penting satu faktor buat industri kamu, angkanya 0,00 sampai 1,00 dan total satu tabel harus pas 1,00. Rating ngukur seberapa baik posisi perusahaan kamu di faktor itu, angkanya 1 sampai 4. Satu faktor bisa penting banget (bobot 0,15) tapi kamu lemah di situ (rating 1). Hasil kalinya yang jadi skor.
Berapa faktor yang ideal per tabel?
Antara 5 sampai 10 per tabel. Kurang dari 5 bikin tiap faktor kebagian bobot terlalu besar, jadi satu penilaian yang meleset bisa ngubah kesimpulan. Lebih dari 10 bikin bobot per faktor jadi terlalu kecil buat ngebedain mana yang penting. Aku biasanya pakai 6 kekuatan, 6 kelemahan, 6 peluang, 6 ancaman.
Rating 1-4 atau 1-5 yang benar?
Skala 1-4 yang paling umum di literatur David, dan alasannya masuk akal: skala genap maksa penilai milih sisi, nggak bisa kabur ke nilai tengah. Kalau kamu pakai 1-5, biasanya sebagian besar faktor bakal dikasih 3 dan tabelnya jadi nggak ngebedain apa-apa. Pakai 1-4.
Total skor IFAS 2,5 itu artinya apa?
Angka 2,5 adalah titik tengah, soalnya rating jalan dari 1 sampai 4. Skor IFAS di atas 2,5 artinya secara keseluruhan kekuatan internal kamu lebih besar dari kelemahan. Di bawah 2,5 berarti kebalikannya. Tapi angka totalnya kurang berguna dibanding lihat faktor mana yang skornya paling rendah.
Bisa nggak bobot ditentuin sendirian?
Bisa, tapi hasilnya rawan bias. Minimal libatkan tiga orang yang ngerti operasional, isi bobotnya masing-masing tanpa lihat punya orang lain, lalu ambil rata-ratanya. Kalau ada faktor yang selisih penilaiannya lebih dari 0,10 antar orang, itu tanda kalian belum sepakat soal definisi faktornya, dan itu perlu dibahas sebelum lanjut.
Mulai dari mana
Tiga hal yang paling nentuin hasil. Faktornya harus punya bukti angka, bukan opini. Total bobot harus pas 1,00, dan itu dijaga formula. Dan rating kelemahan cuma boleh 1 atau 2.
Buka spreadsheet, bikin empat kolom (faktor, bobot, rating, skor), lalu isi 6 kekuatan dan 6 kelemahan dulu. IFAS aja udah cukup buat rapat pertama.
Setelah kamu tau KPI mana yang paling perlu dibenerin, lanjut ke segmentasi pelanggan RFM di spreadsheet buat lihat siapa yang paling ngaruh ke omzet.
Buat rujukan formula dasarnya, dokumentasi resmi SUMPRODUCT dari Microsoft ngejelasin cara kerja perkalian antar rentangnya.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel terkait
Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.