TL;DR
Laporan penjualan Shopee ditarik dari menu Pesanan di Seller Centre dalam bentuk file Excel berisi satu baris per produk per pesanan. Angka penjualan yang muncul di dashboard adalah nilai kotor sebelum voucher penjual, biaya administrasi, dan biaya layanan dipotong, jadi kamu perlu ngurangin sendiri kolom-kolom biaya itu buat dapet omzet bersih. Setelah export dirapiin jadi satu tabel, rekapnya cukup pakai pivot table atau SUMIFS.
Laporan penjualan Shopee ditarik dari menu Pesanan di Seller Centre, dan isinya satu baris untuk tiap produk di tiap pesanan.
Masalahnya, angka penjualan yang kamu lihat di dashboard bukan uang yang masuk ke rekening.
Di antara dua angka itu ada voucher, biaya administrasi, dan biaya layanan yang nggak ditampilin di halaman depan. Artikel ini nunjukin cara narik export-nya, ngerapiin di spreadsheet, dan ngitung omzet bersih yang beneran kamu terima.
Export laporan penjualan Shopee diambil lewat Seller Centre di menu Pesanan. Kamu pilih rentang tanggal, pilih status pesanan, lalu klik tombol export. Filenya nggak langsung terunduh, tapi masuk antrean dulu dan muncul di halaman riwayat export beberapa menit kemudian dalam format Excel.
Tampilan menu Seller Centre kadang berubah antar versi. Kalau posisi tombolnya geser, patokannya tetap sama: menu Pesanan, filter tanggal, tombol export.
Buat data yang lebih ringkas kayak jumlah pengunjung dan tingkat konversi, sumbernya beda lagi, ada di menu Data Bisnis. File export pesanan nggak nyimpen angka trafik.
File export pesanan Shopee biasanya punya lebih dari 40 kolom. Kamu nggak butuh semuanya. Ini yang beneran kepakai buat laporan penjualan:
| Kolom | Isinya apa | Dipakai buat |
|---|---|---|
| No. Pesanan | Kode unik tiap pesanan | Hitung jumlah pesanan (harus di-dedup) |
| Status Pesanan | Selesai, Batal, Dalam Pengembalian | Filter wajib di awal |
| Waktu Pesanan Dibuat | Tanggal dan jam | Rekap harian dan bulanan |
| Nama Produk | Judul listing | Rekap per produk |
| Nomor Referensi SKU | Kode barang versi kamu | Sambungin ke data stok |
| Jumlah | Qty per item | Hitung unit terjual |
| Total Harga Produk | Nilai kotor barang | Titik awal hitungan omzet |
| Voucher Ditanggung Penjual | Diskon dari kantong kamu | Pengurang omzet |
| Biaya Administrasi | Komisi marketplace | Pengurang omzet |
| Biaya Layanan | Program gratis ongkir dan sejenisnya | Pengurang omzet |
| Provinsi / Kota | Alamat pembeli | Rekap wilayah |
Nama kolomnya bisa beda tipis tergantung versi Seller Centre dan bahasa akunmu. Yang penting kamu kenali fungsinya, bukan hafal judulnya.
Satu hal yang bikin orang salah hitung: satu pesanan bisa jadi beberapa baris. Kalau pembeli beli 3 produk berbeda dalam satu keranjang, di file kamu bakal ada 3 baris dengan No. Pesanan yang sama.
Karena dashboard nampilin nilai kotor. Angka penjualan di halaman depan Seller Centre itu total harga produk sebelum voucher penjual dan biaya marketplace dipotong. Uang yang masuk ke saldo penjual selalu lebih kecil. Selisihnya di banyak toko ada di kisaran 10 sampai 20 persen dari nilai kotor.
Rumus omzet bersihnya begini:
Omzet bersih = Total Harga Produk
- Voucher Ditanggung Penjual
- Biaya Administrasi
- Biaya Layanan
Ongkos kirim yang dibayar pembeli sengaja nggak dimasukin. Itu uang jasa kirim yang cuma numpang lewat, bukan penjualan kamu.
File mentahnya nggak siap dipivot. Ada lima langkah yang harus kamu jalanin dulu, dan urutannya penting.
tbl_shopee. Ini yang bikin laporan bulan depan tinggal paste.Habis itu tambahin dua kolom bantu:
bulan:
=TEXT([@[Waktu Pesanan Dibuat]], "yyyy-mm")
omzet_bersih:
=[@[Total Harga Produk]] - [@[Voucher Ditanggung Penjual]]
- [@[Biaya Administrasi]] - [@[Biaya Layanan]]
Dua kolom ini yang bakal kamu pakai terus di semua rekap berikutnya.
Tiga rumus nutupin hampir semua kebutuhan laporan bulanan.
=SUMIFS(tbl_shopee[omzet_bersih], tbl_shopee[bulan], A2)
Taruh kode bulan di kolom A, rumusnya di kolom B. Penjelasan tiap argumennya ada di halaman fungsi SUMIFS.
Ini yang paling sering salah. Kalau kamu pakai COUNTA di kolom No. Pesanan, satu pesanan berisi 3 produk kehitung 3 kali.
=SUMPRODUCT((tbl_shopee[bulan]=A2)/
COUNTIFS(tbl_shopee[bulan], tbl_shopee[bulan],
tbl_shopee[No. Pesanan], tbl_shopee[No. Pesanan]))
Kalau versi Excel kamu punya UNIQUE, jalan yang lebih pendek: =COUNTA(UNIQUE(FILTER(tbl_shopee[No. Pesanan], tbl_shopee[bulan]=A2))).
=SUMIFS(tbl_shopee[Jumlah], tbl_shopee[Nomor Referensi SKU], A2)
Buat narik nama produk dan harga modal dari sheet master barang, pakai XLOOKUP. Buat ngitung jumlah baris dengan syarat tertentu, pakai COUNTIFS.
Buat rekap yang sifatnya eksplorasi, pivot table lebih cepat dari rumus. Caranya udah aku tulis terpisah di panduan pivot table Excel.
Aku pakai dataset toko_berkah, toko sembako dan perlengkapan rumah tangga yang jualan online dari Bekasi. Data Mei 2025: 1.842 pesanan selesai, 4.106 baris produk.
| Komponen | Nilai | % dari nilai kotor |
|---|---|---|
| Total harga produk (kotor) | Rp 214.600.000 | 100% |
| Voucher ditanggung penjual | Rp 12.400.000 | 5,8% |
| Biaya layanan (gratis ongkir) | Rp 9.100.000 | 4,2% |
| Biaya administrasi | Rp 8.600.000 | 4,0% |
| Omzet bersih | Rp 184.500.000 | 86,0% |
Angka yang paling bikin kaget bukan totalnya. Tapi urutannya.
Biaya terbesar bukan komisi marketplace. Yang paling gede justru voucher yang ditanggung sendiri sama penjual, Rp 12,4 juta, satu setengah kali lipat biaya administrasi.
Dilihat per pesanan, ceritanya makin jelas:
Nilai kotor per pesanan = 214.600.000 / 1.842 = Rp 116.500
Omzet bersih per pesanan = 184.500.000 / 1.842 = Rp 100.200
Selisih Rp 16.300
Rp 16.300 per pesanan itu yang hilang di antara dashboard dan rekening. Kalau margin kotor produkmu cuma 20 persen dari harga jual, potongan segini udah makan tiga perempat untungmu.
Tindak lanjutnya konkret. Toko ini nurunin ambang minimum belanja untuk voucher dari Rp 50.000 ke Rp 90.000 di bulan berikutnya. Nilai voucher yang keluar turun, sementara jumlah pesanan cuma turun tipis, soalnya rata-rata belanja pelanggan mereka emang udah di atas Rp 100.000.
Insight kayak gini nggak akan muncul kalau laporan kamu berhenti di angka penjualan kotor.
1. Ngitung pesanan pakai jumlah baris. Satu pesanan bisa jadi beberapa baris produk. Di data toko_berkah, 1.842 pesanan jadi 4.106 baris. Kalau kamu pakai jumlah baris, angka pesananmu meleset lebih dari dua kali lipat.
2. Masukin ongkir sebagai omzet. Ongkos kirim yang dibayar pembeli itu numpang lewat ke jasa ekspedisi. Masukin dia ke omzet bikin margin kamu kelihatan lebih sehat dari aslinya.
3. Nggak filter pesanan batal. Status Batal dan Dalam Pengembalian ikut ke-export. Kalau nggak difilter, laporanmu ngitung uang yang nggak pernah masuk.
4. Nyimpen angka dalam bentuk teks. Kolom rupiah dari export sering kebaca teks. SUMIFS bakal balikin nol tanpa kasih pesan error, dan kamu baru sadar pas laporannya udah dikirim.
5. Nyampur data beberapa bulan tanpa kolom bulan. Begitu kamu gabung tiga file export, tanpa kolom bulan kamu nggak bisa misahin lagi. Bikin kolom itu sebelum digabung, bukan sesudah.
6. Ngedit file export aslinya. Simpan mentahannya utuh di satu folder. Kerjakan salinannya. Sekali kamu timpa file asli dan hasilnya kacau, nggak ada jalan balik selain export ulang.
Bikin satu tabel gabungan dengan kolom channel. Struktur kolomnya samain dulu di tiap sumber, baru ditumpuk.
tanggal | channel | sku | qty | kotor | potongan | bersih
Tujuh kolom itu cukup buat bandingin kinerja antar marketplace. Yang penting definisi tiap kolom sama persis di semua channel, terutama kolom potongan.
Kalau kamu mau langsung pakai kerangka laporan yang lebih lengkap, ada di template laporan penjualan Excel.
Dua angka itu ngitung hal yang beda. Dashboard biasanya nampilin nilai kotor pesanan pada periode tertentu, sementara file export punya kolom biaya dan voucher yang belum dipotong dari angka itu. Beda periode potong tanggal juga ngaruh, soalnya dashboard sering pakai waktu pembayaran dan export pakai waktu pesanan dibuat. Samain dulu definisi tanggalnya sebelum kamu nyalahin salah satu angka.
Seller Centre biasanya ngasih batas rentang tanggal per sekali export, jadi buat setahun penuh kamu perlu narik beberapa file lalu digabung. Cara paling gampang, simpan tiap file bulanan di satu folder, lalu gabungin pakai Power Query Get Data From Folder. Sekali kamu set, bulan depan tinggal taruh file baru di folder itu dan klik Refresh.
Mulai dari total harga produk, lalu kurangi voucher yang ditanggung penjual, biaya administrasi, dan biaya layanan. Ongkos kirim yang dibayar pembeli jangan kamu masukin sebagai omzet, soalnya itu uang jasa kirim, bukan penjualanmu. Kalau kamu ikut program gratis ongkir, cek juga potongan subsidinya, karena itu sering jadi biaya terbesar kedua setelah voucher.
Hitung cuma pesanan yang selesai. Pesanan batal dan dalam pengembalian bikin omzetmu kelihatan lebih besar dari kenyataan, dan biasanya jumlahnya nggak kecil di kategori fashion. Tambahin filter status di awal proses, jangan di akhir. Kalau kamu mau tau seberapa besar kebocorannya, bikin satu kolom bantu yang misahin selesai dan batal, lalu bandingin dua totalnya.
Dua-duanya bisa. Excel unggul kalau file exportmu besar dan kamu mau pakai Power Query buat gabung banyak bulan sekaligus. Google Sheets lebih enak kalau kamu kerja bareng orang lain atau mau laporannya bisa dibuka dari HP. Rumus SUMIFS dan pivot table jalan di dua-duanya dengan sintaks yang hampir sama, jadi kamu nggak perlu belajar ulang.
Tiga hal yang bikin laporan penjualan Shopee kamu beneran kepakai:
Coba tarik export bulan lalu punyamu sekarang, lalu hitung satu angka doang: berapa persen nilai kotor yang nyampe ke saldo penjual. Angka itu yang bakal ngasih tau kamu harus benerin apa duluan.
Buat penjelasan resmi tiap argumen SUMIFS, cek dokumentasi Microsoft. Kalau tokomu juga jualan di marketplace lain, lanjut ke panduan pivot table Excel buat gabungin semuanya dalam satu rekap.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Punya ratusan angka dan mau tau sebarannya masuk ke rentang mana aja? FREQUENCY ngitung distribusi frekuensi sekali jalan, tanpa nulis COUNTIFS berkali-kali.
SUMIFS ribet kalau kriterianya banyak dan sering ganti. Rumus database Excel kayak DSUM baca kriteria dari sel terpisah, jadi kamu tinggal ubah tabel kecil tanpa nyentuh rumus.
DATEDIF ngasih umur bulat, tapi kadang kamu butuh angka desimal kayak 27,6 tahun buat hitung masa kerja atau bunga. YEARFRAC ngasih pecahan tahun dengan presisi.