Laporan Penjualan Produk Makanan untuk Usaha F&B Skala Rumahan
Blog/Tutorial Excel & Sheets/Laporan Penjualan Produk Makanan untuk Usaha F&B Skala Rumahan

Laporan Penjualan Produk Makanan untuk Usaha F&B Skala Rumahan

BimaBima
·6 Juli 2025·9 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Laporan penjualan produk makanan buat usaha rumahan minimal punya kolom tanggal, menu, porsi terjual, harga jual, HPP per porsi, porsi sisa, dan kanal penjualan. Bedanya sama laporan toko biasa ada di dua angka: sisa produksi yang nggak kejual dan komisi platform pesan antar. Tanpa dua kolom itu, menu yang keliatan paling laku bisa jadi menu yang paling bikin rugi.

Laporan penjualan produk makanan punya dua angka yang nggak ada di laporan toko kelontong: porsi yang nggak kejual, dan potongan komisi dari aplikasi pesan antar.

Dua angka itu yang bikin menu paling laku kadang jadi menu paling bikin rugi.

Kamu masak 40 porsi, kejual 34, sisa 6 masuk tempat sampah. Uang bahannya udah keluar duluan buat 40.

Di bawah ini aku susun format laporannya buat usaha rumahan, lengkap sama rumus Excel dan contoh angka dari dapur katering beneran.

Apa bedanya laporan penjualan makanan sama laporan toko biasa?

Bedanya ada di tiga hal: barang dagangan punya umur pendek, biaya modal keluar sebelum barangnya laku, dan harga jual dipotong komisi kalau lewat aplikasi. Toko kelontong bisa nyimpen minyak goreng sampai berbulan-bulan. Ayam geprek yang nggak kejual hari ini jadi nol nilainya besok pagi.

Efeknya ke laporan jelas. Kamu nggak cukup nyatet berapa yang kejual, tapi juga berapa yang kamu bikin.

Kalau kamu baru mau mulai dan belum punya struktur laporan sama sekali, mulai dulu dari enam metrik laporan penjualan harian, baru tambahin kolom khusus makanan di bawah ini.

Kolom apa aja yang wajib ada di laporan penjualan produk makanan?

Ada tujuh kolom inti: tanggal, nama menu, porsi diproduksi, porsi terjual, harga jual per porsi, HPP per porsi, dan kanal penjualan. Dari tujuh kolom itu kamu bisa turunin semua angka lain, mulai dari omzet, margin bersih, sampai persentase sisa produksi.

KolomIsiContoh
A. TanggalFormat tanggal beneran2025-07-06
B. MenuNama menu, tulisannya konsistenAyam Geprek Sambal Bawang
C. Porsi produksiBerapa yang kamu masak40
D. Porsi terjualBerapa yang laku34
E. Harga jualHarga per porsi di kanal itu22.000
F. HPP per porsiBahan, kemasan, gas8.500
G. KanalWA, GoFood, ShopeeFood, offlineGoFood

Nama menu yang ditulis beda-beda itu penyakit paling umum di laporan makanan. "Ayam geprek", "ageprek", dan "Ayam Geprek Sambal Bawang" bakal kehitung tiga menu berbeda sama rumus apa pun.

Solusinya pakai Data Validation. Blok kolom B, masuk Data > Data Validation > List, lalu tunjuk ke daftar menu di sheet terpisah. Sekarang kolom itu cuma bisa diisi dari dropdown.

Kolom hitungan yang nyusul otomatis

Empat kolom ini isinya rumus, jadi kamu nggak perlu ngitung manual.

H (Omzet)        =D2*E2
I (Total HPP)    =C2*F2
J (Porsi sisa)   =C2-D2
K (Persen sisa)  =IFERROR(J2/C2; 0)

Perhatiin kolom I. Total HPP dikali porsi produksi, bukan porsi terjual. Ini yang paling sering salah, dan salahnya bikin untungmu keliatan lebih besar dari kenyataan.

Bahan buat 40 porsi udah kamu bayar, mau lakunya 34 atau 40. Jadi biaya yang dicatat harus 40 porsi.

Gimana cara ngitung margin bersih tiap kanal?

Margin bersih dihitung dari omzet dikurangi komisi platform, lalu dikurangi total HPP. Harga jual yang sama kasih untung yang beda di tiap kanal, karena aplikasi pesan antar motong komisi sementara pesanan lewat WhatsApp masuk penuh.

Bikin sheet kecil bernama Kanal isinya dua kolom.

KanalKomisi
WA0%
Offline0%
GoFood20%
ShopeeFood20%

Angka komisi merchant di aplikasi pesan antar Indonesia umumnya ada di kisaran 20 persen, dan bisa beda tergantung paket serta program promo yang kamu ikuti. Cek angka pastinya di perjanjian merchant-mu, lalu isi sheet ini sesuai kenyataan.

Habis itu tarik komisinya ke tabel utama.

L (Komisi)        =H2*VLOOKUP(G2; Kanal!A:B; 2; FALSE)
M (Margin bersih) =H2-L2-I2
N (Margin persen) =IFERROR(M2/H2; 0)

Cara kerja VLOOKUP di sini gampang: dia nyari nama kanal di sheet Kanal, lalu balikin angka komisinya. Kalau kamu ganti komisi GoFood jadi 22 persen, seluruh laporan ikut nyesuain sendiri.

Buat rekap per menu atau per kanal, pakai SUMIFS di sheet ringkasan.

=SUMIFS(Detail!M:M; Detail!G:G; "GoFood")

Gimana cara ngukur sisa produksi biar nggak kebablasan?

Ukur persentase sisa per menu per hari, bukan totalnya. Sisa 8 porsi dari total 200 porsi keliatan kecil, tapi kalau delapan-delapannya dari satu menu yang cuma diproduksi 15 porsi, menu itu sisanya 53 persen dan jelas ada yang salah di perkiraan produksinya.

Rumus rata-rata sisa per menu selama sebulan.

=IFERROR(SUMIFS(Detail!J:J; Detail!B:B; A2) / SUMIFS(Detail!C:C; Detail!B:B; A2); 0)

Format hasilnya jadi Percentage. Menu yang angkanya di atas 10 persen selama dua minggu berturut-turut itu kandidat buat dikurangi produksinya.

Buat ngerapiin angka rupiah biar nggak ada koma panjang, bungkus rumusnya pakai ROUND. Contohnya =ROUND(M2; 0).

Contoh kasus: dapur katering rumahan 62 hari

Aku pakai data 62 hari dari dapur rumahan di Depok yang jual empat menu lewat WhatsApp dan dua aplikasi pesan antar. Datanya bagian dari dataset toko_berkah.

Ini ringkasan per menu selama periode itu.

MenuPorsi terjualHargaHPPRata-rata sisa
Ayam Geprek Sambal Bawang2.18422.0008.5004,1%
Nasi Bakar Ayam Suwir96818.0007.2006,3%
Ayam Bakar Madu74225.00011.40013,7%
Es Teh Manis Jumbo1.9066.0001.8001,2%

Kalau dilihat dari omzet, Ayam Bakar Madu menu ketiga terlaris dan harganya paling mahal. Kesannya menu andalan.

Tapi begitu sisa produksi dan komisi dimasukin, ceritanya berubah. Margin bersih Ayam Bakar Madu cuma 21,4 persen, sementara Ayam Geprek 38,6 persen.

Penyebabnya dua. Sisa 13,7 persen artinya satu dari tujuh porsi yang dimasak kebuang, dan 71 persen penjualannya datang dari aplikasi yang kepotong komisi.

Angka lain yang menarik dari 62 hari itu: Es Teh Manis Jumbo cuma nyumbang 8,4 persen omzet, tapi 14,2 persen margin bersih total. Minuman dengan HPP 1.800 dan sisa nyaris nol ternyata penopang untung yang selama ini nggak keitung.

Pemiliknya lalu ngurangin produksi Ayam Bakar Madu dari 24 jadi 16 porsi per hari, dan mulai nawarin paket ayam plus es teh di WhatsApp. Ini angka original dari dataset ngulikdata.

Kesalahan umum di laporan penjualan makanan

  • HPP dikali porsi terjual. Bahan yang udah dimasak itu biaya, mau laku atau nggak. Kali porsi produksi, bukan porsi terjual.
  • Lupa biaya kemasan. Box, sendok, plastik, dan karet total bisa 800 sampai 1.500 rupiah per porsi. Di menu harga 18 ribu, itu 8 persen dari harga jual.
  • Nyampur semua kanal jadi satu angka. Omzet 10 juta dari WhatsApp dan 10 juta dari aplikasi itu untungnya beda 2 juta. Pisahin kanalnya sejak kolom pertama.
  • Nama menu ditulis bebas. Satu menu jadi tiga baris berbeda di rekap. Pakai dropdown Data Validation.
  • HPP nggak pernah diupdate. Harga ayam dan cabai gerak tiap minggu. HPP yang dihitung tiga bulan lalu bikin marginmu di laporan cuma karangan.
  • Sisa produksi nggak dicatat. Ini angka yang paling males dicatat dan paling mahal kalau dibiarin.

Kalau kamu mau rekap per menu tanpa nulis rumus baru tiap kali, pivot table lebih cepat. Microsoft sendiri nyebut pivot table sebagai cara utama buat nganalisis data worksheet.

FAQ

Kolom apa yang paling sering kelupaan di laporan penjualan makanan?

Porsi sisa dan kanal penjualan. Porsi sisa itu bahan yang udah kamu masak tapi nggak kejual, dan uangnya udah keluar duluan. Kanal penting karena harga sama kasih untung beda: lewat WhatsApp masuk penuh, lewat aplikasi kepotong komisi. Tanpa dua kolom itu, untungmu keliatan lebih besar dari kenyataan.

Gimana cara ngitung HPP per porsi buat makanan?

Jumlahin semua biaya bahan buat satu batch, lalu bagi jumlah porsi yang jadi. Satu batch habis 340 ribu dan jadi 40 porsi berarti HPP-nya 8.500 per porsi. Masukin bahan kecil kayak minyak, gas, dan kemasan, karena totalnya bisa 10 sampai 15 persen dari biaya. Hitung ulang tiap harga bahan naik.

Berapa komisi aplikasi pesan antar dan gimana masukinnya?

Komisi merchant umumnya di kisaran 20 persen dari harga jual, dan bisa beda tergantung paket serta promo yang kamu ikuti. Cek angka pasti di perjanjian merchant-mu. Di laporan, bikin kolom persentase komisi per kanal, lalu kurangi dari harga jual sebelum dikurangi HPP.

Porsi sisa berapa persen yang masih wajar?

Banyak usaha rumahan pakai patokan di bawah 10 persen dari porsi yang diproduksi. Di atas itu, masalahnya biasanya di perkiraan produksi. Catat sisa per menu dan per hari, bukan totalnya. Sisa yang numpuk di satu menu jauh lebih gampang dibenerin daripada angka rata-rata yang nggak nunjuk siapa-siapa.

Perlu pakai aplikasi kasir atau cukup Excel?

Buat usaha rumahan di bawah 100 porsi per hari, satu file Excel udah cukup dan lebih fleksibel. Aplikasi kasir mulai kepakai kalau ada lebih dari satu orang yang nginput atau kamu butuh cetak struk otomatis. Yang bikin laporan berguna itu kelengkapan kolom dan kebiasaan ngisi, bukan mahalnya alat.

Lanjut ke mana habis ini?

Tujuh kolom inti plus empat kolom rumus udah cukup buat tau menu mana yang beneran ngasih untung. Yang bikin bedanya cuma dua kolom yang sering dilewatin: porsi sisa dan kanal penjualan.

Mulai catat dua minggu dulu. Pola menu yang sisanya kebanyakan biasanya udah kelihatan di hari kesepuluh.

Habis datanya numpuk, rekap per menu dan per kanal jauh lebih cepat pakai pivot table. Lanjut ke panduan pivot table Excel dan latihan langsung di NgulikSheet.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)
Tutorial Excel & Sheets
19 Juli 2026•9 menit baca

INDEX MATCH Google Sheets: Lookup Lebih Fleksibel dari VLOOKUP (2026)

INDEX MATCH gabung dua fungsi buat lookup yang bisa nyari ke kiri dan nggak gampang rusak. Ini alasan banyak analis pindah dari VLOOKUP.

BimaBima
SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)
Tutorial Excel & Sheets
18 Juli 2026•8 menit baca

SUMPRODUCT Google Sheets: Hitung Berbobot Tanpa Ribet (2026)

SUMPRODUCT ngaliin dua kolom atau lebih baris per baris, terus jumlahin hasilnya. Cocok buat total qty kali harga sampai hitungan bersyarat.

BimaBima
REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)
Tutorial Excel & Sheets
17 Juli 2026•8 menit baca

REGEXMATCH Google Sheets: Cek Kecocokan Pola Teks (2026)

REGEXMATCH ngecek apakah teks cocok sama pola tertentu dan balikin TRUE atau FALSE. Cocok buat validasi nomor HP, email, sampai filter data berantakan.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore