Dashboard Seller Marketplace: Metrik Iklan, Ongkir, dan Margin
TL;DR
Dashboard seller marketplace yang berguna harus nurunin omzet kotor sampai ke laba bersih per produk, bukan berhenti di angka penjualan. Tiga blok wajibnya: biaya iklan (ROAS dan ACOS per SKU), beban ongkir (selisih ongkir dibayar pembeli vs subsidi seller), dan margin bersih setelah potongan admin plus biaya program. Susun jadi tiga baris dari kiri ke kanan: ringkasan, penyebab, lalu daftar produk yang rugi.
Omzet 180 juta sebulan, tapi saldo yang cair cuma 12 juta. Cerita ini aku denger berulang dari seller marketplace.
Penyebabnya hampir selalu sama: dashboard yang mereka pantau berhenti di angka penjualan. Biaya iklan, subsidi ongkir, dan potongan admin nggak pernah masuk satu tampilan yang sama.
Dashboard seller yang berguna harus nurunin omzet kotor sampai ke laba bersih per produk. Di bawah ini struktur yang aku pakai, rumusnya, dan urutan bikin dari data mentah seller center.
Kenapa laporan bawaan marketplace nggak cukup?
Laporan bawaan seller center misahin tiga hal yang seharusnya kamu lihat bareng: penjualan ada di satu menu, biaya iklan di menu lain, dan potongan biaya di laporan penghasilan. Nggak ada satu layar yang ngasih tau produk mana yang bikin rugi setelah semua biaya masuk.
Yang kamu butuh itu satu baris per produk dengan kolom laba bersih di ujung kanan. Sisanya penjelas.
Kalau kamu belum kenal cara nyusun tampilan yang fokus ke satu keputusan, konsep dashboard di ngulikdata ngejelasin bedanya laporan sama dashboard.
Metrik apa aja yang wajib ada di dashboard seller?
Sebelas metrik ini yang aku pakai. Sisanya hiasan.
| Blok | Metrik | Cara hitung |
|---|---|---|
| Penjualan | Omzet kotor | Jumlah harga jual pesanan selesai |
| Penjualan | Pesanan selesai | Hitung nomor pesanan status selesai |
| Penjualan | AOV | Omzet kotor dibagi pesanan selesai |
| Iklan | Belanja iklan | Jumlah biaya iklan per produk |
| Iklan | ROAS | Omzet dari iklan dibagi belanja iklan |
| Iklan | ACOS | Belanja iklan dibagi omzet dari iklan |
| Ongkir | Beban ongkir seller | Ongkir asli dikurangi ongkir dibayar pembeli dikurangi subsidi platform |
| Ongkir | Rasio beban ongkir | Beban ongkir seller dibagi omzet kotor |
| Margin | Potongan admin | Jumlah biaya layanan dan komisi dari laporan settlement |
| Margin | Laba kotor | Omzet kotor dikurangi HPP |
| Margin | Laba bersih | Laba kotor dikurangi iklan dikurangi beban ongkir dikurangi potongan admin |
ACOS dan ROAS itu angka yang sama dibalik. Aku tetap tampilin dua-duanya karena tim iklan biasanya mikir pakai ACOS, sementara pemilik toko lebih gampang baca ROAS.
Gimana cara nyiapin datanya dari seller center?
Unduh tiga laporan, lalu gabung. Urutannya begini.
- Laporan pesanan selesai. Ambil kolom nomor pesanan, tanggal, kode produk, jumlah, harga jual, ongkir dibayar pembeli, dan status.
- Laporan penghasilan atau settlement. Ambil nomor pesanan, biaya admin, biaya program gratis ongkir, dan nominal yang cair.
- Laporan iklan per produk. Ambil kode produk, tanggal, biaya, dan omzet dari iklan.
- Tabel HPP manual. Ini kamu bikin sendiri: kode produk dan harga modal per unit. Update tiap kali harga beli berubah.
- Gabung. Laporan pesanan jadi tabel utama. Tarik biaya admin pakai nomor pesanan, tarik HPP pakai kode produk.
Buat langkah lima, rumus di Google Sheets atau Excel-nya sederhana.
=XLOOKUP([@[nomor_pesanan]]; settlement!A:A; settlement!D:D; 0)
Nol di argumen terakhir penting. Pesanan yang belum cair bakal kosong di laporan settlement, dan kamu mau angkanya nol, bukan error. Detail argumennya ada di halaman XLOOKUP.
Buat biaya iklan yang tercatat per produk per hari, jumlahin dulu pakai SUMIFS sebelum digabung.
=SUMIFS(iklan!C:C; iklan!A:A; [@kode_produk]; iklan!B:B; ">="&$B$1; iklan!B:B; "<="&$B$2)
Sel B1 dan B2 itu tanggal awal dan akhir periode. Bikin sekali, dipakai seterusnya.
Gimana layout dashboardnya?
Tiga baris. Baca dari atas ke bawah, kiri ke kanan.
Baris 1: ringkasan. Empat kartu angka besar. Omzet kotor, laba bersih, margin bersih persen, dan pesanan selesai. Tiap kartu kasih perbandingan periode sebelumnya.
Baris 2: penyebab. Satu grafik waterfall dari omzet kotor turun ke laba bersih. Batangnya: omzet kotor, minus HPP, minus potongan admin, minus beban ongkir, minus iklan, sisa laba bersih. Ini bagian yang paling sering bikin seller kaget waktu pertama lihat.
Baris 3: daftar produk. Tabel per produk diurut dari laba bersih terkecil. Kolom: nama produk, qty terjual, omzet, iklan, beban ongkir, laba bersih, margin persen. Kasih warna merah buat laba bersih negatif.
Kalau kamu bikin di Looker Studio, pusat bantuan resmi Looker Studio punya panduan buat scorecard dan tabel dengan conditional formatting. Cara bikin grafik waterfall-nya kalau kamu masih di spreadsheet ada di tutorial waterfall chart Excel.
Contoh kasus: toko_berkah jualan di marketplace
Dataset latihan toko_berkah di ngulikdata punya versi marketplace dengan 1.204 pesanan selesai dalam satu bulan dan 38 SKU aktif.
Omzet kotor 214,7 juta rupiah. Kelihatan sehat.
Turunannya begini:
- HPP: 148,1 juta, sisa laba kotor 66,6 juta (margin kotor 31 persen)
- Potongan admin dan biaya program: 15,3 juta (7,1 persen dari omzet)
- Beban ongkir seller: 9,8 juta (4,6 persen dari omzet)
- Belanja iklan: 27,4 juta
- Laba bersih: 14,1 juta, margin bersih 6,6 persen
Yang menarik ada di baris ketiga dashboard. Dari 38 SKU, 9 SKU laba bersihnya negatif, dan sembilan produk itu total nyedot 6,2 juta rupiah.
Delapan dari sembilan produk rugi itu punya ROAS di bawah 3,1. Padahal margin kotor rata-ratanya 31 persen, artinya titik impas ROAS mereka ada di 3,2.
Sisanya satu produk rugi bukan gara-gara iklan, tapi gara-gara beban ongkir. Produk itu berat 4,8 kg dengan harga jual 89 ribu, dan tiap pesanan nombok ongkir rata-rata 11.400 rupiah.
Setelah iklan sembilan produk itu dimatiin dan satu produk berat dinaikin harganya, margin bersih bulan berikutnya naik dari 6,6 persen ke 9,3 persen tanpa nambah omzet sama sekali.
Gimana cara baca angka ROAS biar nggak salah keputusan?
ROAS impas kamu itu 1 dibagi margin kotor. Hitung per produk, jangan pakai satu angka buat semua.
| Margin kotor | ROAS impas | Artinya |
|---|---|---|
| 15% | 6,7 | Produk margin tipis, iklan hampir selalu rugi |
| 25% | 4,0 | Butuh ROAS di atas 4 baru untung |
| 35% | 2,9 | Ruang iklan lumayan lega |
| 50% | 2,0 | Bisa agresif pasang iklan |
Tabel ini yang aku tempel di sisi kanan dashboard. Tanpa itu, orang gampang bilang "ROAS 3 kan bagus" padahal produknya margin 20 persen.
Angka ROAS juga belum motong potongan admin dan beban ongkir. Kalau mau ketat, pakai margin kotor setelah potongan admin buat ngitung ROAS impas.
Kesalahan umum waktu bikin dashboard seller
Pakai omzet kotor sebagai KPI utama. Omzet gampang naik: turunin harga, gedein iklan. Laba bersih yang susah.
Ngitung pesanan yang belum selesai. Pesanan batal dan retur bikin angka kamu kegedean di awal bulan, lalu anjlok waktu direkonsiliasi. Filter status selesai dari awal.
Lupa biaya program gratis ongkir. Biaya ini sering ditagih terpisah dari potongan admin dan gampang kelewat. Di kasus toko_berkah tadi, nilainya 2,9 juta dari total 15,3 juta potongan.
HPP nggak pernah diupdate. Harga beli naik 8 persen tapi tabel HPP masih pakai angka enam bulan lalu. Semua margin di dashboard jadi salah, dan kamu nggak sadar.
Nggak misahin omzet organik dan omzet iklan. ROAS jadi nggak bisa dihitung, dan kamu nggak tau apakah iklan itu narik pembeli baru atau cuma nagih pembeli yang tetap bakal beli.
Bikin dashboard yang terlalu rame. Kalau ada 22 grafik dan kamu nggak bisa jawab "produk mana yang harus aku stop minggu ini", dashboardnya gagal.
Seberapa sering dashboard ini perlu diupdate?
Mingguan buat blok iklan, bulanan buat blok margin.
Data iklan bergerak cepat dan keputusannya juga cepat: naikin bid, matiin kampanye, ganti kata kunci. Data margin baru akurat setelah settlement masuk, dan itu biasanya butuh satu sampai dua minggu setelah pesanan selesai.
Kalau kamu update margin harian, angkanya bakal loncat-loncat dan kamu bikin keputusan dari data yang belum lengkap.
FAQ
Data apa aja yang perlu aku unduh dari seller center?
Minimal tiga file: laporan pesanan selesai (berisi harga jual, ongkir, dan status), laporan penghasilan atau settlement (berisi potongan admin dan biaya program), dan laporan iklan per produk. Tiga file ini kamu gabung pakai nomor pesanan dan kode produk. Tanpa file settlement kamu nggak akan tau potongan sebenarnya, jadi jangan dilewat.
ROAS bagus itu berapa?
Nggak ada angka universal, karena tergantung margin kamu. Hitung dulu titik impasnya: 1 dibagi margin kotor persen. Kalau margin kotor kamu 25 persen, ROAS impas ada di angka 4. Di bawah itu iklan kamu bakar uang. Di atas itu baru untung. Makanya ROAS 3 bisa bagus buat produk margin tinggi dan buruk buat produk margin tipis.
Kenapa margin di dashboard aku beda sama saldo yang masuk?
Paling sering karena tiga hal: pesanan yang sudah dihitung tapi belum selesai masa pengembalian, biaya program gratis ongkir yang ditagih terpisah dari potongan admin, dan pesanan retur yang uangnya ditarik balik. Rekonsiliasi bulanan wajib. Bandingin total laba bersih di dashboard sama total settlement, lalu cari selisihnya per pesanan.
Perlu Looker Studio atau cukup spreadsheet?
Kalau kamu jualan di satu marketplace dan pesanan di bawah 1.000 per bulan, spreadsheet udah cukup. Pivot table plus beberapa grafik selesai. Looker Studio kepakai kalau kamu jualan di dua marketplace atau lebih dan mau satu tampilan gabungan, atau kalau ada orang lain yang perlu lihat tanpa kamu kirim file tiap minggu.
Gimana cara tau produk mana yang harus aku stop?
Urutkan produk dari laba bersih paling kecil, bukan dari margin persen. Produk margin 5 persen dengan volume besar bisa nyumbang lebih banyak dari produk margin 40 persen yang laku 3 biji. Setelah itu cek dua hal per produk: apakah ruginya karena iklan atau karena ongkir. Kalau karena iklan, matiin iklannya dulu sebelum matiin produknya.
Penutup
Dua hal yang bikin dashboard seller ini beda dari laporan bawaan: laba bersih per produk ada di satu kolom, dan grafik waterfall nunjukin uangnya lari ke mana.
Mulai dari yang paling kecil dulu. Gabungin laporan pesanan sama settlement bulan lalu, tambahin kolom HPP, lalu urutkan dari laba bersih terkecil. Biasanya di sepuluh baris teratas kamu langsung nemu produk yang selama ini diam-diam nombok.
Kalau mau lanjut ke tampilan yang lebih rapi, baca dulu cara memilih chart yang tepat biar tiap grafik di dashboard kamu punya alasan buat ada di situ.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel terkait
Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets, tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.