Diagnostic Analytics adalah tipe analitik yang menjawab pertanyaan 'kenapa ini terjadi?' - menggali lebih dalam ke data buat nemuin root cause di balik suatu pola atau anomali yang kamu temukan.
Kalau Descriptive Analytics ngasih tau "apa yang terjadi", Diagnostic Analytics selangkah lebih jauh: "kenapa itu bisa terjadi?"
Bayangin kamu lihat di dashboard bahwa revenue bulan ini turun 20% dibanding bulan lalu. Descriptive Analytics udah ngasih tau fakta itu. Sekarang giliran Diagnostic Analytics buat investigasi: apakah karena volume order yang turun? Conversion rate yang jelek? Atau ada kategori produk tertentu yang anjlok?
Pertanyaan yang dijawab: "Kenapa ini terjadi?"
| Tipe Analitik | Pertanyaan | Pendekatan Utama |
|---|---|---|
| Descriptive | Apa yang terjadi? | Merangkum data historis |
| Diagnostic | Kenapa terjadi? | Drill-down, correlation, root cause |
| Predictive | Apa yang akan terjadi? | Model statistik dan ML |
| Prescriptive | Apa yang harus dilakukan? | Optimisasi dan rekomendasi |
Mulai dari angka agregat, lalu pecah ke level yang lebih granular. Contoh: revenue total → per kategori produk → per brand → per SKU. Terus pecah sampai ketemu di mana anomali bermula.
Cari hubungan antara dua variabel. Misalnya: "apakah hari hujan berkorelasi dengan penurunan order delivery?" atau "apakah waktu loading halaman berkorelasi dengan bounce rate?"
Ingat: korelasi bukan kausalitas. Dua hal yang bergerak bersamaan belum tentu satu menyebabkan yang lain.
Bandingkan performa antar segmen: new users vs returning users, mobile vs desktop, wilayah A vs wilayah B. Cari di segmen mana anomali paling kelihatan.
Teknik terstruktur buat nemuin akar masalah. Metode populer:
Situasi: Conversion rate toko online turun dari 3,2% ke 2,1% bulan ini.
Alur Diagnostic Analytics:
Tanpa Diagnostic Analytics, tim mungkin buang waktu berhari-hari nebak-nebak penyebabnya.
Buat Diagnostic Analytics yang efektif, kamu butuh:
Udah paham Diagnostic Analytics? Lanjut latihan SQL dan Excel yuk!
Latihan interaktif, langsung di browser.