Uji Autokorelasi Durbin-Watson: Rentang Nilai dan Cara Menafsirkannya
Blog/Tips & Trik/Uji Autokorelasi Durbin-Watson: Rentang Nilai dan Cara Menafsirkannya

Uji Autokorelasi Durbin-Watson: Rentang Nilai dan Cara Menafsirkannya

BimaBima
·9 Juli 2025·9 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

Terakhir diperbarui: 20 Juli 2026

TL;DR

Uji autokorelasi Durbin-Watson ngecek apakah residual model regresi saling nyambung antar periode, dengan nilai di rentang 0 sampai 4. Angka sekitar 2 berarti nggak ada autokorelasi, mendekati 0 berarti autokorelasi positif, mendekati 4 berarti negatif. Buat kesimpulan resmi, bandingkan nilai d sama batas dL dan dU dari tabel Durbin-Watson sesuai jumlah sampel dan jumlah variabel bebas.

Uji autokorelasi Durbin-Watson ngecek apakah residual di model regresimu saling nyambung antar periode, dan nilainya selalu jatuh di rentang 0 sampai 4.

Angka dekat 2 berarti aman. Dekat 0 berarti autokorelasi positif. Dekat 4 berarti autokorelasi negatif.

Rentang itu doang belum cukup buat nulis kesimpulan di bab 4. Kamu masih butuh nilai dL dan dU dari tabel, dan ada zona ragu yang bikin banyak orang salah nyimpulin.

Di bawah ini rumusnya, cara baca tabelnya, langkah di SPSS dan Excel, plus contoh angka dari data penjualan 24 bulan.

Apa itu uji autokorelasi Durbin-Watson?

Uji Durbin-Watson adalah tes yang ngukur seberapa mirip residual satu periode sama residual periode sebelumnya. Hasilnya satu angka di rentang 0 sampai 4. Angka di sekitar 2 nunjukin residual bebas dari pola berulang. Uji ini dipakai buat regresi data runtun waktu, dan masuk daftar asumsi klasik sebelum hasil regresi boleh ditafsirkan.

Residual itu selisih antara nilai asli dan nilai yang diprediksi model. Kalau modelnya udah nangkep pola yang bener, sisa selisih ini harusnya acak.

Autokorelasi kejadian pas selisih itu nggak acak lagi. Bulan yang meleset ke atas diikuti bulan yang juga meleset ke atas. Polanya berulang, dan itu tanda modelmu kelewatan sesuatu.

Kenapa autokorelasi bikin hasil regresi nyesatin?

Yang rusak duluan bukan koefisiennya, tapi standard error-nya. Standard error itu ukuran seberapa presisi koefisien yang kamu dapat. Kalau residual saling nyambung, angka ini kecil palsu.

Efek berantainya kelihatan di tabel output: nilai t membesar, p-value mengecil, dan variabel yang sebenernya biasa aja jadi keliatan berpengaruh nyata. Kamu bisa nulis kata signifikan di skripsi padahal buktinya rapuh. Arti angka p-value-nya aku bahas terpisah di glossary p-value.

Jadi jalanin uji ini dulu, baru nafsirin tabel koefisien.

Gimana rumus Durbin-Watson?

Rumusnya ngebandingin selisih antar residual berurutan sama total kuadrat residual:

d = Σ (e_t - e_(t-1))² / Σ (e_t)²

e_t     = residual periode t
e_(t-1) = residual periode sebelumnya

Pembilangnya ngukur seberapa jauh residual loncat dari satu periode ke periode berikutnya. Kalau loncatannya kecil terus, artinya residual gerak searah, dan nilai d jadi kecil.

Ada hubungan pendek yang enak diinget:

d ≈ 2 (1 - r)

r = korelasi antar residual berurutan

Kalau r nol (residual nggak berhubungan), d keluar di angka 2. Kalau r satu (residual gerak persis searah), d turun ke 0. Kalau r minus satu, d naik ke 4. Dari sini rentang 0 sampai 4 itu muncul.

Berapa rentang nilai Durbin-Watson dan artinya?

Nilai Durbin-Watson selalu ada di antara 0 dan 4. Nilai mendekati 0 nunjukin autokorelasi positif, artinya residual gerak searah dari periode ke periode. Nilai sekitar 2 nunjukin nggak ada autokorelasi. Nilai mendekati 4 nunjukin autokorelasi negatif, di mana residual gantian naik turun tiap periode.

Nilai dKondisi residualArtinya buat model
0 sampai 1,5Gerak searah kuatAutokorelasi positif, ada pola yang kelewat
1,5 sampai 2,5AcakAman menurut aturan praktis
2,5 sampai 4Gantian naik turunAutokorelasi negatif, sering gara-gara over-differencing

Rentang 1,5 sampai 2,5 itu aturan praktis, bukan aturan resmi. Dosen penguji yang teliti bakal minta kamu bandingin sama tabel dL dan dU.

Gimana cara baca tabel dL dan dU?

Tabel Durbin-Watson kasih dua batas: dL (batas bawah) dan dU (batas atas). Dua angka ini kamu cari pakai tiga informasi: taraf nyata (biasanya 0,05), jumlah sampel n, dan jumlah variabel bebas k.

Habis dapat dL dan dU, pakai lima aturan ini urut:

  1. Kalau d < dL, ada autokorelasi positif.
  2. Kalau dL ≤ d ≤ dU, hasilnya masuk zona ragu dan nggak bisa disimpulin.
  3. Kalau dU < d < (4 - dU), nggak ada autokorelasi. Ini yang kamu mau.
  4. Kalau (4 - dU) ≤ d ≤ (4 - dL), zona ragu lagi.
  5. Kalau d > (4 - dL), ada autokorelasi negatif.

Zona ragu itu yang paling sering bikin bingung. Uji Durbin-Watson emang punya dua area di mana dia angkat tangan. Kalau nilaimu jatuh di situ, kamu nggak boleh maksa nulis kesimpulan bebas autokorelasi.

Gimana cara uji Durbin-Watson di SPSS?

SPSS ngeluarin nilai Durbin-Watson sebagai bagian dari output regresi, bukan sebagai menu terpisah. Jalanin urut:

  1. Pastikan datamu terurut menurut waktu. Baris pertama periode paling awal, baris terakhir periode paling baru.
  2. Klik Analyze, pilih Regression, lalu Linear.
  3. Masukin variabel terikat ke kotak Dependent, variabel bebas ke kotak Independent(s).
  4. Klik tombol Statistics di kanan atas.
  5. Di bagian Residuals, centang Durbin-Watson. Sekalian centang Estimates dan Model fit kalau belum.
  6. Klik Continue, terus OK.
  7. Lihat tabel Model Summary. Nilai Durbin-Watson ada di kolom paling kanan.

Kalau kolom Durbin-Watson nggak muncul, biasanya kamu lupa centang di langkah 5. Jalanin ulang, jangan ngarang angkanya.

Satu hal yang sering kelewat: urutan data. SPSS ngitung d berdasarkan urutan baris di Data View. Kalau datamu keurut berdasarkan nama toko atau nilai omzet, angka Durbin-Watson yang keluar nggak ada artinya.

Gimana cara hitung Durbin-Watson di Excel?

Excel nggak punya fungsi khusus buat ini, tapi dua fungsi bawaan udah cukup. Anggap residual kamu ada di kolom C, baris 2 sampai 25.

  1. Jalanin regresi lewat Data, Data Analysis, Regression, dan centang Residuals.
  2. Salin kolom residual dari output ke kolom C, tetap dalam urutan waktu aslinya.
  3. Tulis rumus ini di sel kosong:
=SUMXMY2(C3:C25;C2:C24)/SUMSQ(C2:C25)

SUMXMY2 ngitung jumlah kuadrat selisih antara dua rentang yang digeser satu baris, persis pembilang di rumus tadi. SUMSQ ngitung jumlah kuadrat semua residual buat penyebutnya.

Kalau Excel kamu pakai koma sebagai pemisah argumen, ganti titik koma di rumus itu jadi koma.

Buat yang kerja di Python, statsmodels punya fungsinya langsung lewat durbin_watson(residuals). Detail parameternya ada di dokumentasi statsmodels.

Contoh kasus: omzet bulanan toko_berkah

Ini data 24 bulan toko_berkah, toko kelontong di Semarang. Semua angka dari dataset ngulikdata. Modelnya sederhana: omzet bulanan diprediksi dari belanja iklan bulanan.

Hasil regresi pertama kelihatan menggoda. R kuadrat 0,64, koefisien iklan positif, p-value 0,001. Kalau berhenti di sini, kesimpulannya iklan naikin omzet dan selesai.

Tapi nilai Durbin-Watson-nya 1,12. Buat n = 24 dan k = 1 di taraf 5 persen, tabel kasih dL 1,273 dan dU 1,446. Nilai 1,12 ada di bawah dL, jadi ada autokorelasi positif.

Waktu aku plot residualnya per bulan, polanya kelihatan jelas. Dari 24 bulan, ada 17 bulan yang residualnya searah sama bulan sebelumnya. Kalau residual beneran acak, angka itu harusnya di kisaran 12.

Sumber masalahnya ketemu setelah lihat kalender. Omzet toko_berkah naik tajam di bulan Ramadan dan seminggu sebelum Lebaran, dan model awal nggak tau apa-apa soal itu.

Perbaikannya satu kolom: variabel dummy bernilai 1 buat bulan Ramadan dan Lebaran, 0 buat bulan lain. Setelah regresi diulang dengan dua variabel bebas:

ModelVariabel bebasR kuadratDurbin-WatsonKesimpulan
AwalBelanja iklan0,641,12Autokorelasi positif (d < dL 1,273)
RevisiBelanja iklan + dummy Ramadan0,811,89Bebas autokorelasi (dU 1,546 < d < 2,454)

Yang berubah bukan cuma angka d. Koefisien belanja iklan turun sekitar 30 persen di model revisi. Artinya model pertama tadi ngasih kredit ke iklan buat kenaikan omzet yang sebenernya datang dari Ramadan.

Kalau pemilik toko ngambil keputusan dari model pertama, dia bakal naikin budget iklan di bulan biasa dan kecewa sama hasilnya.

Apa yang harus dilakukan kalau autokorelasi kedeteksi?

Jangan langsung buang datanya. Empat langkah ini urut dari yang paling sering berhasil:

  1. Cari variabel yang kelewat. Ini penyebab paling umum di data Indonesia. Ramadan, Lebaran, gajian akhir bulan, tahun ajaran baru, dan musim hujan semuanya bikin pola berulang.
  2. Tambah variabel tren waktu. Kolom berisi 1, 2, 3, sampai n sering cukup buat nyerap kenaikan bertahap yang bikin residual searah.
  3. Pakai selisih antar periode. Ganti nilai asli jadi selisih bulan ini dikurangi bulan lalu, buat variabel terikat maupun bebas. Hati-hati, langkah ini kadang malah bikin autokorelasi negatif.
  4. Pakai standard error yang tahan autokorelasi. Newey-West ngoreksi standard error tanpa ngubah koefisien. Ini pilihan kalau kamu udah yakin modelnya bener tapi polanya tetap ada.

Kesalahan umum waktu uji Durbin-Watson

Ngejalanin uji ini di data kuesioner. Durbin-Watson cuma masuk akal kalau baris datamu punya urutan waktu. Jawaban responden nomor 12 nggak datang setelah responden nomor 11 dalam arti apa pun. Acak barisnya, nilai d berubah, dan itu bukti angkanya nggak bermakna.

Lupa ngurutin data menurut tanggal. Kalau data keurut menurut nama cabang, nilai d yang keluar cuma angka acak. Urutin dulu sebelum jalanin regresi.

Maksa nyimpulin dari zona ragu. Kalau d jatuh antara dL dan dU, tulis aja hasilnya nggak konklusif, atau pindah ke uji Breusch-Godfrey. Nulis bebas autokorelasi di situ nggak jujur.

Pakai batas 1,5 sampai 2,5 tanpa cek tabel. Aturan praktis ini kepakai buat sanity check cepat. Buat skripsi, sebutin nilai dL dan dU-nya lengkap sama n dan k yang kamu pakai.

Nyalahin outlier padahal masalahnya musiman. Satu bulan Lebaran yang omzetnya meledak sering dikira outlier terus dihapus. Padahal itu kejadian nyata yang berulang tiap tahun, dan harusnya dimodelkan, bukan dibuang.

FAQ

Berapa nilai Durbin-Watson yang dianggap aman?

Aturan praktis yang paling sering dipakai: nilai antara 1,5 dan 2,5 dianggap bebas autokorelasi. Tapi ini cuma pegangan kasar. Kesimpulan yang bener dibikin dengan bandingin nilai d sama batas dU dari tabel Durbin-Watson, yang berubah tergantung jumlah sampel dan jumlah variabel bebas. Kalau d ada di antara dU dan 4 dikurangi dU, barulah kamu boleh bilang nggak ada autokorelasi.

Apa artinya kalau nilai Durbin-Watson masuk zona ragu?

Zona ragu terjadi kalau nilai d jatuh di antara dL dan dU, atau di antara 4 dikurangi dU dan 4 dikurangi dL. Di situ uji Durbin-Watson nggak bisa mutusin apa-apa. Pilihanmu ada tiga: tambah jumlah sampel, ganti pakai uji Breusch-Godfrey yang nggak punya zona ragu, atau laporkan apa adanya bahwa hasilnya nggak konklusif.

Uji Durbin-Watson cocok buat data apa?

Data yang punya urutan waktu jelas, misalnya penjualan bulanan, harga saham harian, atau produksi kuartalan. Kalau datamu kuesioner yang responden satu sama lain nggak berurutan, uji ini nggak relevan. Barisnya bisa kamu acak dan hasilnya berubah, yang artinya angkanya nggak punya makna. Buat data kuesioner, fokus aja ke uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.

Kenapa nilai Durbin-Watson saya di bawah 1?

Itu tanda autokorelasi positif yang kuat. Residual satu periode mirip banget sama residual periode sebelumnya. Biasanya penyebabnya model kamu kelewat satu variabel yang bergerak musiman, misalnya efek Ramadan, gajian akhir bulan, atau libur sekolah. Coba tambahin variabel dummy buat periode itu, terus jalanin ulang regresinya dan lihat apakah nilai d naik mendekati 2.

Bedanya Durbin-Watson sama Breusch-Godfrey apa?

Durbin-Watson cuma ngetes autokorelasi orde satu, yaitu hubungan residual sama satu periode sebelumnya. Dia juga punya zona ragu dan jadi nggak valid kalau model kamu pakai variabel terikat versi lag sebagai prediktor. Breusch-Godfrey bisa ngetes orde lebih tinggi, nggak punya zona ragu, dan tetap jalan di model dengan lag. Kalau hasil Durbin-Watson kamu abu-abu, Breusch-Godfrey jalan keluarnya.

Penutup

Tiga hal yang perlu kamu pegang:

  • Nilai d gerak di 0 sampai 4, dan sekitar 2 itu titik amannya
  • Kesimpulan resmi butuh dL dan dU dari tabel, bukan cuma aturan 1,5 sampai 2,5
  • Nilai d yang jelek biasanya sinyal ada variabel musiman yang kelewat, bukan sinyal datamu rusak

Coba buka output regresi yang udah kamu punya, catat nilai Durbin-Watson-nya, terus cek ke tabel sesuai n dan k kamu. Lima menit, dan kamu tau apakah kesimpulanmu berdiri di atas angka yang kuat.

Lanjut baca uji hipotesis buat analis kalau kamu mau ngerti logika di balik p-value tadi, atau statistik deskriptif buat ngecek datamu sebelum masuk regresi.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
Tips & Trik
20 Juli 2026•9 menit baca

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)

groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.

BimaBima
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
Tips & Trik
18 Juli 2026•8 menit baca

Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)

to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.

BimaBima
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
Tips & Trik
16 Juli 2026•8 menit baca

Pandas read_excel: Baca File Excel di Python

pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore