R untuk Analis Data: Kenapa Masih Relevan di 2025
Blog/Tips & Trik/R untuk Analis Data: Kenapa Masih Relevan di 2025

R untuk Analis Data: Kenapa Masih Relevan di 2025

BimaBima
·5 November 2025·9 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

R masih relevan di 2025 buat tiga pekerjaan: uji statistik yang udah ada di bawaan bahasanya, grafik eksplorasi yang cepat lewat ggplot2, dan laporan yang bisa dibikin ulang lewat Quarto. Buat analis yang kerjaannya banyak nguji hipotesis dan bikin laporan berkala, R sering lebih ringkas daripada Python. Buat yang kerjaannya nyambung ke aplikasi atau pipeline produksi, Python lebih pas.

R masih relevan di 2025 karena tiga hal yang belum dikalahkan: uji statistik yang udah nempel di bahasanya, grafik eksplorasi yang cepat, dan laporan yang bisa dibikin ulang persis sama tiap bulan.

Python punya lebih banyak pemakai dan lebih banyak lowongan. Itu fakta yang nggak perlu dibantah.

Tapi kalau kerjaanmu banyak nguji hipotesis dan bikin laporan berkala, R sering nyelesaiin hal yang sama dengan kode yang jauh lebih pendek. Aku bahas di mana batasnya.

Apa itu R dan buat siapa dia dibikin?

R adalah bahasa pemrograman gratis yang dirancang khusus buat komputasi statistik dan grafik. Dia lahir di lingkungan akademis dan dirawat oleh R Foundation, jadi prioritasnya beda dari bahasa umum: yang didahulukan itu ketepatan statistik dan kemudahan analisis, bukan kecepatan bikin aplikasi. Keterangan resminya ada di halaman about R Project.

Konsekuensinya kelihatan di kode. Uji t di R cuma satu baris, tanpa impor apa pun.

t.test(omzet ~ kelompok, data = toko)

Hasilnya langsung berisi nilai t, derajat kebebasan, nilai p, dan selang kepercayaan. Nggak perlu nyusun sendiri.

Kenapa R masih menang di beberapa pekerjaan?

1. Statistik yang udah jadi bawaan

Regresi linear, analisis ragam, uji proporsi, uji normalitas, semuanya ada tanpa pasang paket tambahan.

model <- lm(omzet ~ jumlah_promo + hari_libur, data = toko)
summary(model)

Keluaran summary udah nyantumin koefisien, galat baku, nilai p, dan R kuadrat dalam satu tabel yang siap dibaca. Kalau kamu belum akrab sama cara bacanya, ada di artikel cara baca nilai signifikansi dan glossary regression.

2. ggplot2 buat eksplorasi cepat

Grafik yang dipecah per kategori cuma butuh satu baris tambahan.

library(ggplot2)

ggplot(toko, aes(x = tanggal, y = omzet)) +
  geom_line(color = "#0891b2") +
  facet_wrap(~ cabang)

Tiga baris itu ngasih 12 grafik garis, satu per cabang, dengan skala sumbu yang seragam. Di matplotlib, hal yang sama biasanya makan sembilan sampai dua belas baris karena perulangan dan pengaturan sumbunya manual.

Selisih enam baris kedengeran kecil. Waktu kamu ngulangin pola ini 20 kali dalam sehari eksplorasi, selisihnya jadi terasa.

3. Laporan yang bisa dibikin ulang

Quarto dan R Markdown bikin kamu nulis analisis dan narasi di satu file, terus dicetak jadi PDF, HTML, atau Word. Angkanya dihitung ulang tiap kali dijalanin, jadi nggak ada lagi angka lama yang ketinggalan di paragraf.

Buat laporan bulanan yang isinya sama tapi datanya baru, ini menghapus seluruh kerjaan salin tempel.

4. Paket statistik khusus yang lengkap

Analisis survival, model campuran, peramalan deret waktu, analisis survei berbobot. Bidang-bidang ini punya paket R yang matang dan ditulis sama orang yang menulis metodenya.

Kapan sebaiknya pilih Python?

SituasiPilihan yang lebih pasAlasan
Analisis harus jalan di pipeline produksiPythonDukungan orkestrator dan penerapan lebih matang
Perlu nyambung ke API dan aplikasiPythonPustaka pendukungnya lebih banyak
Machine learning skala besarPythonEkosistemnya jauh lebih dalam
Uji statistik dan laporan berkalaRKode lebih pendek, hasil lebih lengkap
Eksplorasi visual yang cepatRggplot2 lebih ringkas buat grafik bertingkat
Tim kamu udah pakai salah satunyaIkut timBisa saling bantu itu lebih berharga dari pilihan optimal di kertas

Perbandingan yang lebih luas, termasuk dengan SPSS, ada di SPSS vs R vs Python.

Contoh kasus: analisis promo 12 cabang toko_berkah

Pertanyaannya sederhana: promo diskon 15% yang jalan dua minggu itu ngangkat omzet atau nggak. Datanya 12 cabang, 84 hari, satu baris per cabang per hari.

Alurnya di R:

library(dplyr)
library(ggplot2)

ringkas <- toko %>%
  group_by(cabang, periode) %>%
  summarise(rata_omzet = mean(omzet), .groups = "drop")

# Uji beda rata-rata sebelum dan selama promo
t.test(omzet ~ periode, data = toko)

ggplot(ringkas, aes(x = periode, y = rata_omzet, group = cabang)) +
  geom_line(alpha = 0.6, color = "#0891b2") +
  geom_point(color = "#f97316")

Hasilnya:

AngkaNilai
Rata-rata omzet harian sebelum promoRp 3.410.000
Rata-rata omzet harian selama promoRp 3.980.000
KenaikanRp 570.000 per hari, sekitar 17%
Cabang yang justru turun3 dari 12

Yang menarik justru tiga cabang yang turun. Grafik garis per cabang langsung nunjukin mereka, dan ketiganya ada di lokasi yang omzetnya paling tinggi sebelum promo. Diskon 15% di sana motong margin tanpa nambah pembeli.

Kalau cuma lihat rata-rata gabungan, promo ini kelihatan berhasil. Grafik yang pecah per cabang bikin ceritanya lebih jujur. Angka ekstrem semacam ini kadang juga perlu dicek sebagai outlier sebelum diambil kesimpulan.

Seluruh proses ini, dari baca CSV sampai grafik jadi, muat di 14 baris kode.

Gimana cara mulai belajar R dalam 3 minggu?

  1. Minggu 1: dasar dan data frame. Pasang R dan RStudio. Belajar baca CSV, lihat isinya pakai str dan summary, dan pahami bentuk data frame.
  2. Minggu 2: dplyr. Lima kata kerja yang nutup sebagian besar kerjaan: filter, select, mutate, group_by, dan summarise. Kalau kamu udah bisa SQL, ini gampang karena logikanya mirip.
  3. Minggu 3: ggplot2 dan Quarto. Bikin lima grafik dari data kerjaanmu sendiri, lalu bungkus jadi satu laporan yang bisa dicetak.

Uji statistik dipelajari belakangan, waktu ada pertanyaan yang beneran butuh. Belajar t.test tanpa punya hipotesis yang mau diuji bakal cepat lupa.

Kesalahan umum waktu mulai pakai R

  • Ngerjain semua di R. Ambil dan agregasi berat lebih baik di SQL. Bawa hasil yang udah kecil ke R buat statistik dan grafik.
  • Nyampur gaya lama dan tidyverse. Kode yang setengah pakai kurung siku dan setengah pakai dplyr susah dibaca. Pilih satu gaya per proyek.
  • Nyimpen ruang kerja waktu keluar. Kebiasaan ini bikin hasil analisismu bergantung pada isi memori kemarin. Matikan opsinya, biasakan skrip jalan dari nol.
  • Pasang 30 paket di awal. Empat paket udah cukup buat tiga minggu pertama: dplyr, ggplot2, readr, dan tidyr.
  • Ngeributin R lawan Python. Yang nentuin nilai kamu itu pertanyaan yang bisa kamu jawab, bukan bahasa yang kamu pakai buat jawabnya.

FAQ

R masih dipakai di industri atau cuma di kampus?

Masih dipakai di industri, cuma sebarannya nggak merata. Paling banyak di riset pasar, farmasi, keuangan, lembaga statistik, dan tim yang kerjanya nguji hipotesis. Di tim produk dan startup teknologi, Python lebih dominan karena nyambung langsung ke aplikasi. Jadi jawabannya tergantung industri tujuanmu, bukan tergantung bahasanya masih hidup atau nggak.

Belajar R dulu atau Python dulu buat pemula?

Kalau kamu belum kuat SQL dan spreadsheet, dua-duanya kecepetan. Kalau keduanya udah lancar, pilih berdasarkan kerjaan yang kamu incar. Analisis statistik, riset, dan laporan berkala condong ke R. Otomatisasi, integrasi aplikasi, dan machine learning condong ke Python. Belajar dua-duanya barengan bikin kamu setengah bisa di keduanya.

Apa kelebihan ggplot2 dibanding matplotlib?

ggplot2 nyusun grafik dari lapisan yang punya aturan tetap: data, pemetaan kolom ke sumbu, lalu bentuk geometrinya. Karena aturannya konsisten, grafik yang pecah per kategori cuma butuh satu baris tambahan. Di matplotlib, hal yang sama biasanya perlu perulangan dan pengaturan sumbu manual. Buat eksplorasi cepat, selisih ini kerasa tiap hari.

Bisa nggak R dipakai bareng SQL dan database kantor?

Bisa. Paket DBI plus driver seperti RPostgres bikin kamu bisa nulis query langsung dari R dan nerima hasilnya sebagai data frame. Banyak analis pakai pola ini: ambil dan agregasi berat di SQL, lalu bawa hasil yang udah kecil ke R buat uji statistik dan grafik. Ini juga bikin beban ke database tetap ringan.

Apa yang harus dipelajari duluan di R?

Empat hal, urut: struktur data frame, paket dplyr buat menyaring dan meringkas, ggplot2 buat grafik, lalu Quarto buat laporan. Empat ini nutup sebagian besar kerjaan analis. Fungsi statistik bawaan seperti t.test dan lm bisa dipelajari sambil jalan waktu ada pertanyaan yang butuh. Hindari mulai dari pemrograman tingkat lanjut.

Penutup

Tiga hal yang perlu nempel:

  1. R menang di uji statistik, grafik eksplorasi, dan laporan berkala yang harus bisa dibikin ulang.
  2. Python menang di penerapan produksi, integrasi aplikasi, dan machine learning.
  3. Pilih satu berdasarkan kerjaan yang kamu incar, bukan berdasarkan bahasa mana yang lagi ramai dibahas.

Kalau kamu penasaran, ambil satu data kerjaanmu minggu ini dan coba bikin grafik yang dipecah per kategori pakai ggplot2. Tiga baris. Kalau kamu suka hasilnya, lanjut. Kalau nggak, kamu cuma kehilangan setengah jam.

Lanjut baca belajar Python untuk data analyst buat lihat sisi sebelahnya, atau SQL untuk analisis data kalau kamu mau memperkuat pondasi yang paling sering kepakai dulu.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
Tips & Trik
20 Juli 2026•9 menit baca

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)

groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.

BimaBima
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
Tips & Trik
18 Juli 2026•8 menit baca

Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)

to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.

BimaBima
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
Tips & Trik
16 Juli 2026•8 menit baca

Pandas read_excel: Baca File Excel di Python

pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore