Populasi dan Sampel Penelitian Kualitatif: Informan, Saturasi, Purposive
Blog/Tips & Trik/Populasi dan Sampel Penelitian Kualitatif: Informan, Saturasi, Purposive

Populasi dan Sampel Penelitian Kualitatif: Informan, Saturasi, Purposive

BimaBima
·20 Agustus 2025·10 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Penelitian kualitatif nggak pakai istilah populasi dan sampel dalam arti statistik, tapi situasi sosial dan informan yang dipilih secara sengaja karena punya pengalaman yang kamu teliti. Jumlah informan nggak dihitung pakai rumus, melainkan ditentukan saturasi data, yaitu titik saat wawancara baru nggak nambah tema baru. Riset yang sering dikutip nemuin saturasi biasanya kejadian sekitar wawancara ke-12 buat kelompok informan yang homogen.

Penelitian kualitatif nggak nyari sampel yang mewakili populasi, tapi informan yang punya pengalaman langsung sama hal yang kamu teliti.

Ini yang bikin banyak proposal kualitatif kena coret. Bab 3-nya nulis rumus Slovin, padahal metodenya nggak butuh angka keterwakilan sama sekali.

Yang nentuin kamu berhenti wawancara bukan hasil hitungan, tapi saturasi data.

Panduan ini ngebahas istilah yang bener, cara milih informan, cara nentuin jumlahnya, dan cara bukti saturasi biar nggak cuma jadi klaim kosong di halaman metode.

Apa itu populasi dan sampel di penelitian kualitatif?

Di riset kualitatif, istilah populasi diganti situasi sosial dan sampel diganti informan atau partisipan. Situasi sosial punya tiga unsur: tempat, pelaku, dan aktivitas. Informan adalah orang yang dipilih sengaja karena pengalamannya nyambung sama pertanyaan penelitian, bukan karena kepilih acak.

Contoh situasi sosial: warung kopi di kawasan Dago Bandung (tempat), pemilik dan barista (pelaku), dan cara mereka nentuin harga menu (aktivitas).

Bandingin sama pendekatan kuantitatif yang batas populasinya harus punya angka N. Aturan mainnya beda jauh, dan itu dibahas terpisah di populasi dan sampel penelitian kuantitatif.

AspekKuantitatifKualitatif
IstilahPopulasi dan sampelSituasi sosial dan informan
Cara milihAcakSengaja, berdasar kriteria
Ukuran ditentuinRumus dan tabelSaturasi data
TujuanGeneralisasi ke populasiPemahaman mendalam satu konteks
Jumlah umumRatusanBelasan

Kenapa kualitatif nggak pakai rumus ukuran sampel?

Rumus kayak Slovin dibangun buat ngontrol margin of error, yaitu seberapa jauh angka sampel boleh meleset dari angka populasi. Riset kualitatif nggak ngitung angka populasi, jadi konsep margin of error nggak punya arti di sana. Yang dikejar adalah kelengkapan tema, bukan ketepatan angka.

Konsekuensinya, hasil riset kualitatif nggak digeneralisasi secara statistik. Yang dipakai namanya transferabilitas, yaitu pembaca yang mutusin apakah temuanmu nyambung sama konteks mereka.

Makanya deskripsi konteks di bab 4 harus tebal. Pembaca butuh tau warungnya di mana, ukurannya berapa, dan pemiliknya udah berapa lama jualan, biar mereka bisa nilai sendiri kemiripannya.

Gimana cara milih informan penelitian kualitatif?

Mulai dari kriteria, bukan dari nama. Tulis dulu syarat yang bikin seseorang layak jadi informan, misalnya pemilik warung kopi yang udah jalan minimal dua tahun dan ngatur harga sendiri. Baru setelah kriterianya jelas, kamu cari orang yang cocok.

TeknikCara kerjaCocok kalau
PurposivePilih yang paling paham topikKriteria informan udah jelas dari awal
CriterionSemua yang memenuhi syarat tertentu diambilJumlah kandidatnya sedikit dan terdefinisi
Maximum variationSengaja ambil yang beda-beda karakternyaMau lihat rentang pengalaman yang luas
SnowballInforman nunjuk informan berikutnyaKelompoknya tertutup atau susah diakses
Extreme caseAmbil kasus yang paling menonjolMau ngerti kenapa sesuatu berhasil atau gagal total
TheoreticalInforman berikutnya dipilih dari temuan sebelumnyaDesainnya grounded theory

Purposive paling sering kepakai di skripsi. Snowball biasanya jadi pelengkap waktu kamu kesulitan nemuin orang berikutnya.

Satu hal yang sering kelewat: bedain informan kunci sama informan pendukung. Informan kunci itu yang pengalamannya paling dekat sama pertanyaanmu, sedangkan informan pendukung dipakai buat ngecek cerita dari sudut lain.

Apa itu saturasi data dan gimana cara buktiinnya?

Saturasi data adalah titik saat wawancara tambahan nggak lagi ngasih tema atau kode baru. Kamu berhenti bukan karena target tercapai, tapi karena informasi barunya udah habis. Buktinya harus berupa matriks yang nunjukin jumlah kode baru per wawancara, bukan sekadar kalimat data sudah jenuh.

  1. Transkrip tiap wawancara sebelum lanjut ke informan berikutnya. Kalau kamu wawancara 10 orang dulu baru transkrip semuanya, kamu nggak bisa tau kapan saturasi kejadian.
  2. Kasih kode tiap potongan pernyataan. Satu kode satu ide, misalnya "harga ngikutin warung sebelah" atau "naikin harga pas harga biji kopi naik".
  3. Catat kode baru per wawancara. Bikin kolom di spreadsheet, isi jumlah kode yang belum pernah muncul sebelumnya.
  4. Berhenti kalau dua sampai tiga wawancara terakhir nol kode baru. Ini ambang yang paling sering dipakai.
  5. Lampirin matriksnya di bab 3 atau lampiran. Penguji bisa lihat sendiri kurvanya mendatar di wawancara ke berapa.

Buat ngitung berapa kali sebuah kode muncul di seluruh transkrip, rumus COUNTIF di spreadsheet udah cukup. Nggak wajib pakai software analisis kualitatif berbayar buat riset skala skripsi.

Riset metodologi yang sering dikutip nemuin saturasi biasanya kejadian sekitar wawancara ke-12 buat kelompok informan yang homogen, dan sebagian besar tema utama malah udah muncul di enam wawancara pertama. Angka itu patokan, bukan janji.

Berapa jumlah informan yang cukup per desain riset?

Jumlahnya beda-beda tergantung desain, soalnya tiap desain punya tujuan analisis yang beda. Fenomenologi ngejar makna pengalaman sekelompok kecil orang, sedangkan grounded theory ngejar teori baru yang butuh data lebih banyak. Angka di bawah ini titik awal perencanaan, bukan target yang harus dipenuhi.

Desain risetJumlah umumYang jadi unit
Fenomenologi5 sampai 25 informanOrang dengan pengalaman serupa
Grounded theory20 sampai 30 informanOrang, dipilih bertahap
Studi kasus3 sampai 5 kasusKasus, bukan orang
Etnografi1 kelompok budayaKelompok, diamati lama
Narrative research1 sampai 3 orangOrang, digali sangat dalam

Perhatiin baris studi kasus. Yang dihitung kasus, bukan orang, jadi satu kasus bisa aja melibatkan tujuh informan sekaligus.

Contoh kasus: riset penetapan harga di warung kopi Bandung

Misalnya kamu neliti gimana pemilik warung kopi independen nentuin harga menu. Kriteria informan: pemilik warung yang udah jalan minimal dua tahun, ngatur harga sendiri, dan lokasinya di Kota Bandung.

Ini matriks kode baru dari sembilan wawancara yang dijalanin berurutan.

WawancaraKode baruTotal kodeCatatan
11414Semua serba baru
2923Muncul tema harga pesaing
3730Muncul tema biaya sewa
4434Mulai banyak pengulangan
5337Muncul tema pelanggan mahasiswa
6239Nyaris nggak ada hal baru
7140Satu kode soal harga bundling
8040Nol kode baru
9040Nol kode baru, saturasi

Kurvanya mendatar mulai wawancara ke-8. Dari 40 kode yang kekumpul, 30 di antaranya atau 75 persen udah muncul di tiga wawancara pertama.

Angka 75 persen itu yang bikin banyak peneliti pemula salah baca. Tiga wawancara pertama terasa penuh temuan, jadi muncul godaan buat berhenti cepat.

Tapi tema pelanggan mahasiswa baru nongol di wawancara kelima, dan tema harga bundling di ketujuh. Dua tema itu justru yang paling nyambung sama pertanyaan penelitian soal strategi harga.

Sisi lain yang harus dijaga: konsistensi cara ngoding. Kalau kamu ngoding wawancara pertama dengan detail lalu makin longgar di wawancara kesembilan, kurva saturasinya palsu. Prinsip data quality berlaku juga di data teks, bukan cuma di angka.

Buat ngerti seberapa beragam pelaku usaha yang kamu masukin, konteks jumlah usaha mikro per wilayah bisa kamu cek di situs Badan Pusat Statistik.

Kesalahan umum di bab metode kualitatif

  • Nulis rumus Slovin di skripsi kualitatif. Ini tanda paling cepat kalau metodenya belum dipahami. Ganti pakai purposive plus saturasi.
  • Ngeklaim saturasi tanpa bukti. Kalimat "data telah jenuh" tanpa matriks kode itu klaim kosong. Lampirin hitungannya.
  • Wawancara semua informan dulu baru dianalisis. Kalau semua wawancara selesai sebelum transkrip pertama dibaca, kamu nggak punya dasar buat bilang kapan saturasi tercapai.
  • Kriteria informan ditulis setelah wawancara. Kriteria yang dibikin belakangan selalu pas sama siapa pun yang berhasil kamu temui. Tulis duluan, revisi kalau perlu, dan catat revisinya.
  • Semua informan dari satu jaringan. Kalau sembilan pemilik warung itu semuanya teman satu komunitas, sudut pandangnya bakal mirip dan saturasi kelihatan cepat padahal palsu.
  • Ngeklaim hasil berlaku umum. Temuan dari sembilan warung di Bandung nggak berlaku buat seluruh warung kopi Indonesia. Ganti klaim generalisasi jadi deskripsi konteks yang tebal.

Kalau kamu butuh contoh cara nulis batas unit penelitian secara umum, kumpulan 12 contoh populasi dan sampel bisa dipakai sebagai pembanding.

FAQ

Berapa jumlah informan minimal buat penelitian kualitatif?

Tergantung desain risetnya. Fenomenologi biasanya 5 sampai 25 informan, grounded theory 20 sampai 30, studi kasus 3 sampai 5 kasus, dan etnografi cukup satu kelompok budaya yang diamati lama. Angka itu titik awal, bukan target. Yang nentuin berhenti adalah saturasi data, jadi kamu bisa berhenti di 9 kalau tema baru udah nggak muncul, atau lanjut sampai 20 kalau masih muncul.

Apa itu saturasi data dan gimana cara buktiinnya?

Saturasi data adalah titik saat wawancara tambahan nggak lagi ngasih tema atau kode baru. Cara buktiinnya bikin matriks: baris berisi nomor informan, kolom berisi tema yang muncul, lalu catat berapa kode baru per wawancara. Kalau tiga wawancara terakhir nol kode baru, kamu punya bukti saturasi yang bisa ditunjukin ke penguji. Lampirin matriksnya, jangan cuma nulis kalimat sudah jenuh.

Boleh nggak penelitian kualitatif pakai rumus Slovin?

Nggak. Rumus Slovin dibangun buat nentuin ukuran sampel yang bisa digeneralisasi secara statistik ke populasi, dan itu bukan tujuan riset kualitatif. Kualitatif ngejar kedalaman pengalaman, bukan keterwakilan angka. Kalau kamu pakai Slovin di skripsi kualitatif, penguji hampir pasti nanya kenapa. Pakai purposive sampling plus saturasi data, itu yang sesuai logika metodenya.

Apa bedanya informan kunci sama informan pendukung?

Informan kunci adalah orang yang paling paham topikmu dan pengalamannya paling dekat sama pertanyaan penelitian, misalnya pemilik usaha yang kamu teliti. Informan pendukung ngasih sudut pandang lain buat ngecek konsistensi cerita, misalnya karyawan atau pelanggan tetap. Punya dua jenis ini bikin triangulasi sumber jadi mungkin, dan itu salah satu cara paling gampang naikin kepercayaan data.

Gimana kalau informan yang direncanakan nolak diwawancara?

Catat kejadiannya, lalu cari pengganti yang kriterianya sama dan tulis penyesuaian itu di bab metode. Penelitian kualitatif tetap sah walau daftar informan berubah di lapangan, asal kriteria pemilihannya konsisten. Yang bikin masalah bukan pergantian informannya, tapi laporan yang nyembunyiin perubahan itu. Penguji lebih menghargai catatan lapangan yang jujur daripada rencana rapi yang nggak kejadian.

Lanjut dari sini

Tiga hal yang bikin bab metode kualitatif kamu kuat: kriteria informan ditulis duluan, wawancara dianalisis sambil jalan, dan saturasi dibuktiin pakai matriks kode.

Coba bikin tabel kosong berisi kolom nomor informan, jumlah kode baru, dan total kode. Isi setelah tiap wawancara. Tabel sederhana itu yang bakal nyelametin kamu waktu penguji nanya kenapa berhenti di angka sembilan.

Kalau kamu masih nimbang mau pakai pendekatan apa, bandingin dulu aturan mainnya di populasi dan sampel penelitian kuantitatif.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
Tips & Trik
20 Juli 2026•9 menit baca

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)

groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.

BimaBima
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
Tips & Trik
18 Juli 2026•8 menit baca

Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)

to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.

BimaBima
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
Tips & Trik
16 Juli 2026•8 menit baca

Pandas read_excel: Baca File Excel di Python

pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore