Macam Macam Uji Statistik: 15 Uji yang Paling Sering Dipakai Skripsi
Blog/Tips & Trik/Macam Macam Uji Statistik: 15 Uji yang Paling Sering Dipakai Skripsi

Macam Macam Uji Statistik: 15 Uji yang Paling Sering Dipakai Skripsi

BimaBima
·21 Juli 2025·9 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

Terakhir diperbarui: 20 Juli 2026

TL;DR

Macam macam uji statistik dikelompokin berdasarkan tujuan analisis: uji beda rata-rata (uji t, ANOVA), uji beda non-parametrik (Mann-Whitney, Wilcoxon, Kruskal-Wallis), dan uji hubungan (Pearson, Spearman, chi-square, regresi). Pilihan ujinya ditentukan tiga hal: mau lihat beda atau hubungan, skala data variabel terikat, dan jumlah kelompok yang dibandingin. Kalau data gagal uji normalitas, ganti versi parametriknya dengan padanan non-parametrik.

Uji statistik adalah prosedur buat ngecek apakah pola di data kamu nyata secara statistik, atau cuma kebetulan dari sampel yang kepilih.

Bagian tersulitnya bukan ngitung. SPSS, JASP, dan Python udah ngerjain hitungannya dalam hitungan detik.

Yang bikin bab 4 skripsi ambyar itu salah pilih uji. Di bawah ini 15 uji yang paling sering muncul, dikelompokin berdasarkan pertanyaan penelitian yang mau kamu jawab.

Apa itu uji statistik?

Uji statistik adalah prosedur hitung yang ngebandingin data sampel kamu sama satu dugaan awal bernama hipotesis nol. Hasilnya berupa p-value, yaitu peluang ketemu pola sekuat ini kalau hipotesis nolnya benar. Kalau p-value di bawah ambang yang kamu tetapkan, biasanya 0,05, hipotesis nol ditolak.

Hipotesis nol isinya selalu sama: nggak ada beda, atau nggak ada hubungan. Kerjaan uji statistik cuma satu, nyari bukti buat nolak kalimat itu.

Kalau kamu belum pernah nyusun hipotesis dengan benar, baca dulu panduan uji hipotesis. Arti angka 0,05 juga dijelasin di glossary p-value.

Gimana cara milih uji statistik yang tepat?

Pilihan uji statistik ditentukan tiga hal: tujuan analisis (beda atau hubungan), skala data variabel terikat, dan jumlah kelompok yang dibandingin. Begitu tiga hal itu jelas, kandidat ujinya tinggal satu atau dua. Hasil uji normalitas yang nentuin kamu pakai versi parametrik atau non-parametrik.

Urutan pertanyaan yang aku pakai tiap kali bantu orang milih:

  1. Aku mau lihat perbedaan, atau hubungan?
  2. Data variabel terikatnya angka, ranking, atau kategori?
  3. Berapa kelompok yang dibandingin? Dua, atau lebih dari dua?
  4. Kelompoknya sampel bebas, atau orang yang sama diukur dua kali?
  5. Datanya lolos uji normalitas atau nggak?

Tabel ini ngeringkas jalurnya:

TujuanKondisi dataUji parametrikPadanan non-parametrik
Beda 2 kelompok bebasInterval atau rasioUji t sampel bebasMann-Whitney U
Beda 2 pengukuran pada subjek samaInterval atau rasioUji t berpasanganWilcoxon signed rank
Beda 3 kelompok atau lebihInterval atau rasioANOVA satu arahKruskal-Wallis
Hubungan 2 variabel angkaInterval atau rasioKorelasi PearsonKorelasi Spearman
Hubungan 2 variabel kategoriNominalNggak adaChi-square
Prediksi nilai dari variabel lainInterval atau rasioRegresi linearRegresi logistik (target kategori)

Uji prasyarat apa yang harus dijalankan duluan?

Uji prasyarat ngecek apakah data kamu memenuhi asumsi uji utama. Tiga yang paling sering diminta penguji: normalitas sebaran, homogenitas ragam antar kelompok, dan linearitas hubungan. Kalau prasyaratnya gagal, kesimpulan uji utamanya jadi rapuh, dan kamu harus ganti metode.

1. Shapiro-Wilk

Uji normalitas yang paling kuat buat sampel kecil sampai sedang, kira-kira di bawah 50 data. Hipotesis nolnya: data berasal dari sebaran normal. Jadi kamu justru berharap p-value di atas 0,05.

Banyak mahasiswa kebalik baca ini. Sig 0,200 di output SPSS artinya data kamu normal, dan itu kabar baik.

2. Kolmogorov-Smirnov

Uji normalitas alternatif buat sampel besar. Di SPSS versinya pakai koreksi Lilliefors, yang muncul bareng Shapiro-Wilk di menu Explore. Cara bacanya sama, p di atas 0,05 berarti normal.

3. Levene

Ngecek apakah ragam antar kelompok mirip. Ini prasyarat uji t sampel bebas dan ANOVA. Kalau Levene keluar signifikan, artinya ragamnya beda, dan kamu baca baris "equal variances not assumed" di output uji t.

Uji apa buat ngebandingin rata-rata?

Buat ngebandingin rata-rata, pilihannya ada di keluarga uji t dan ANOVA. Uji t dipakai kalau kelompoknya cuma dua, ANOVA kalau tiga atau lebih. Bedanya lagi ada di desain: sampel bebas kalau orangnya beda, sampel berpasangan kalau orangnya sama tapi diukur dua kali.

4. Uji t satu sampel

Ngebandingin rata-rata satu kelompok sama satu angka acuan. Contohnya: apakah rata-rata nilai kepuasan pelanggan beda dari target perusahaan 4,0 dari skala 5.

5. Uji t sampel bebas

Ngebandingin rata-rata dua kelompok yang isinya orang berbeda. Contoh klasik di skripsi: rata-rata omzet UMKM yang ikut pelatihan versus yang nggak ikut.

6. Uji t berpasangan

Buat data pretest dan posttest dari orang yang sama. Yang diuji bukan dua rata-rata terpisah, tapi rata-rata selisihnya. Salah pakai uji t sampel bebas di sini bikin hasilnya terlalu konservatif.

7. ANOVA satu arah

Ngebandingin rata-rata tiga kelompok atau lebih dari satu faktor. Hasilnya cuma bilang ada minimal satu pasang kelompok yang beda. Buat tau pasangan mana, kamu lanjut ke uji lanjutan kayak Tukey atau Bonferroni.

8. ANOVA dua arah

Dipakai kalau ada dua faktor sekaligus, misalnya jenis promo dan lokasi cabang. Nilai tambahnya ada di uji interaksi, yang ngecek apakah efek promo beda-beda tergantung lokasi.

Uji non-parametrik apa yang dipakai kalau data nggak normal?

Uji non-parametrik kerja pakai ranking, bukan nilai aslinya. Karena itu dia nggak butuh asumsi sebaran normal dan tahan sama outlier. Tiap uji parametrik punya padanan non-parametrik dengan tujuan yang sama persis.

9. Mann-Whitney U

Padanan uji t sampel bebas. Yang dibandingin distribusi dua kelompok lewat peringkat gabungan. Cocok buat data skala Likert yang sering muncul di kuesioner skripsi.

10. Wilcoxon signed rank

Padanan uji t berpasangan. Dipakai buat pretest posttest yang datanya kecil atau menceng.

11. Kruskal-Wallis

Padanan ANOVA satu arah buat tiga kelompok atau lebih. Sama kayak ANOVA, hasil signifikan cuma bilang ada yang beda, belum bilang siapa. Lanjutannya pakai uji Dunn.

Uji apa buat ngukur hubungan antar variabel?

Buat ngukur hubungan, pilih berdasarkan skala data kedua variabel. Dua variabel angka pakai korelasi, dua variabel kategori pakai chi-square. Kalau kamu pengin memprediksi nilai satu variabel dari variabel lain, bukan cuma ngukur keeratan, jawabannya regresi.

12. Korelasi Pearson

Ngukur keeratan hubungan lurus antara dua variabel angka. Nilainya dari -1 sampai 1. Detail cara hitung dan cara bacanya ada di artikel korelasi Pearson.

13. Korelasi Spearman

Versi berbasis peringkat. Dipakai kalau datanya ordinal atau hubungannya monoton tapi nggak lurus. Bandingannya dibahas di Spearman versus Pearson.

14. Chi-square

Ngetes hubungan antara dua variabel kategori lewat tabel silang. Contohnya jenis kelamin versus pilihan metode bayar. Pembahasan lengkapnya ada di uji chi-square.

15. Regresi linear

Bikin persamaan buat memprediksi variabel terikat dari satu atau beberapa variabel bebas. Ini uji yang paling sering jadi tulang cerita skripsi manajemen. Konsepnya dijelasin di regresi linear.

Contoh kasus: banding rata-rata belanja dua cabang toko_berkah

Dataset latihan toko_berkah di ngulikdata punya transaksi dari dua cabang. Pertanyaannya sederhana: apakah rata-rata nilai belanja di dua cabang ini beda?

CabangJumlah transaksiRata-rata belanjaSimpangan baku
Depok180Rp 84.200Rp 31.000
Bekasi165Rp 79.500Rp 31.000

Dua kelompok, orangnya beda, datanya rasio. Jadi ujinya uji t sampel bebas.

Selisih rata-ratanya Rp 4.700. Kelihatan lumayan kalau dilihat sekilas.

Tapi galat baku selisihnya Rp 3.341, jadi nilai t cuma 1,41 dengan p sekitar 0,16. Di atas 0,05, jadi hipotesis nol nggak ditolak.

Terjemahan bisnisnya: dengan jumlah transaksi segitu, selisih Rp 4.700 masih masuk rentang kebetulan. Kalau manajer toko mau ngambil keputusan buka cabang baru cuma dari angka ini, dia lagi baca noise.

Sekarang perhatikan efek jumlah data. Kalau pola yang sama muncul di 900 dan 825 transaksi, nilai t-nya naik jadi sekitar 3,15 dan p turun ke 0,002. Selisih rupiahnya sama persis, kesimpulannya kebalik.

Ini kenapa jumlah sampel wajib dilaporin bareng hasil uji. Angka p tanpa n itu setengah cerita.

Kesalahan umum waktu milih uji statistik

1. Ngejalanin uji parametrik tanpa cek normalitas. Uji t dan ANOVA punya asumsi. Kalau langsung klik tanpa Explore, penguji bakal nanya di sidang.

2. Salah baca arah uji normalitas. Di Shapiro-Wilk, p di atas 0,05 itu bagus. Banyak yang kebalik dan malah panik lihat Sig 0,200.

3. Pakai uji t sampel bebas buat data pretest posttest. Orangnya sama, jadi datanya berpasangan. Uji yang benar uji t berpasangan.

4. Berhenti di ANOVA yang signifikan. ANOVA nggak bilang kelompok mana yang beda. Tanpa uji lanjutan, kamu belum punya kesimpulan yang bisa ditulis.

5. Nyimpulin sebab akibat dari korelasi. Korelasi kuat antara biaya iklan dan omzet nggak otomatis berarti iklan yang nyebabin omzet naik. Bisa jadi dua-duanya naik gara-gara musim liburan.

6. Ngebuang outlier biar datanya jadi normal. Outlier kadang data paling berharga. Cek dulu apakah itu salah input atau kejadian nyata. Bahasan lengkapnya ada di glossary outlier.

7. Nerjemahin hasil nggak signifikan jadi nggak ada pengaruh. Hasil nggak signifikan artinya kamu belum punya bukti cukup. Bukan berarti efeknya nol.

FAQ

Gimana cara nentuin uji statistik yang tepat buat skripsi?

Jawab tiga pertanyaan dulu. Kamu mau lihat perbedaan atau hubungan? Skala data variabel terikatnya angka, ranking, atau kategori? Berapa kelompok yang dibandingin? Setelah itu cek normalitas datanya. Kalau normal, pakai uji parametrik kayak uji t atau ANOVA. Kalau nggak normal, pakai padanan non-parametriknya.

Apa bedanya uji parametrik dan non-parametrik?

Uji parametrik nganggap data kamu ngikutin sebaran tertentu, biasanya normal, dan butuh skala interval atau rasio. Uji non-parametrik nggak butuh asumsi sebaran itu dan bisa jalan di data ordinal. Harganya: uji non-parametrik biasanya lebih susah nemuin efek yang beneran ada, jadi kamu butuh sampel lebih besar buat kesimpulan yang sama.

Kalau data skripsiku nggak normal, harus gimana?

Ada tiga jalan. Pertama, ganti ke uji non-parametrik yang setara, misalnya Mann-Whitney buat gantiin uji t sampel bebas. Kedua, transformasi datanya, misalnya pakai logaritma buat data yang menceng ke kanan. Ketiga, cek dulu apakah sebarannya jadi aneh gara-gara segelintir outlier yang salah input. Sering banget penyebabnya cuma typo di data entry.

Berapa jumlah sampel minimal buat uji statistik?

Nggak ada satu angka yang berlaku buat semua uji. Buat chi-square, aturan praktisnya tiap sel punya nilai harapan minimal 5. Buat uji t dan ANOVA, banyak dosen minta minimal 30 per kelompok biar sebaran rata-ratanya mendekati normal. Yang lebih benar: hitung sample size dari efek minimal yang mau kamu deteksi.

Uji statistik mana yang paling sering dipakai di skripsi manajemen?

Dari pola judul skripsi manajemen, tiga yang paling sering muncul adalah regresi linear berganda buat nguji pengaruh beberapa variabel bebas, uji t buat ngecek koefisien satu per satu, dan uji F buat model secara keseluruhan. Uji validitas dan reliabilitas kuesioner biasanya jalan duluan sebelum semua itu.

Penutup

Tiga hal yang nentuin pilihan uji: tujuan analisis, skala data, dan jumlah kelompok. Sisanya tinggal ngikutin tabel di atas.

Uji normalitas jalan duluan, dan hasilnya yang nentuin kamu belok ke jalur parametrik atau non-parametrik. Jangan lupa laporin jumlah sampel bareng p-value.

Semua uji di atas ada implementasinya di modul scipy.stats. Daftar lengkap fungsinya bisa kamu cek di dokumentasi scipy.stats.

Coba ambil satu variabel dari data skripsimu, jalanin Shapiro-Wilk, dan tentuin jalurnya dari situ. Kalau hasilnya bingungin, lanjut baca statistik deskriptif buat kenalan sama sebaran datamu dulu.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel terkait

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)
Tips & Trik
20 Juli 2026•9 menit baca

Pandas groupby: Agregasi Data ala Pivot di Python (2026)

groupby ngelompokin baris berdasarkan kolom, lalu ngitung ringkasan per grup kayak total atau rata-rata. Ini pivot-nya pandas.

BimaBima
Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)
Tips & Trik
18 Juli 2026•8 menit baca

Pandas to_excel: Ekspor DataFrame ke Excel (2026)

to_excel nyimpen DataFrame pandas jadi file Excel .xlsx. Ini cara pakainya, dari satu sheet sampai banyak sheet, plus setelan yang bikin hasilnya rapi.

BimaBima
Pandas read_excel: Baca File Excel di Python
Tips & Trik
16 Juli 2026•8 menit baca

Pandas read_excel: Baca File Excel di Python

pandas read_excel baca file Excel jadi DataFrame, bisa pilih sheet tertentu dan lompatin baris judul yang berantakan. Ini cara pakai plus parameter penting dengan contoh data toko.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

© 2026 Ngulik Data. Semua hak dilindungi.

TAUTAN
BantuanHargaDatasetBlogAfiliasi
LEGAL
Syarat & KetentuanKebijakan Privasi
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore