Apa itu Data Analyst? Tugas, Skill, Gaji, dan Cara Memulai
Blog/Karir Data/Apa itu Data Analyst? Tugas, Skill, Gaji, dan Cara Memulai

Apa itu Data Analyst? Tugas, Skill, Gaji, dan Cara Memulai

BimaBima
·17 Juli 2026·10 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Data analyst adalah orang yang ngolah data mentah jadi jawaban buat ngambil keputusan bisnis. Skill inti yang paling sering diminta di lowongan Indonesia adalah SQL, Excel, dan tools visualisasi kayak Power BI. Estimasi gajinya sekitar Rp5-8 juta buat pemula sampai Rp15-30 juta buat level senior, dan kamu bisa masuk dari background non-IT.

#Data Analyst#Career

Data analyst adalah orang yang ngubah data mentah jadi jawaban buat ngambil keputusan. Angka penjualan, data pelanggan, traffic website — semua diolah jadi sesuatu yang bisa dipakai atasan buat mutusin langkah berikutnya.

Posisi ini lagi rame dicari di Indonesia. Coba deh buka Jobstreet atau LinkedIn, ketik "data analyst" — muncul ratusan lowongan dari e-commerce, bank, sampai startup kecil.

Kalau kamu lagi mikir pindah karir ke sini, ini yang perlu kamu tahu duluan: tugas hariannya, skill yang beneran diminta, estimasi gaji, sama jalur masuk buat kamu yang bukan anak IT.

Apa itu data analyst?

Data analyst adalah orang yang ngumpulin, ngebersihin, dan nganalisis data biar jadi informasi yang berguna. Tugas intinya jawab pertanyaan bisnis pakai angka. Misalnya "produk mana yang paling laku bulan ini" atau "kenapa penjualan turun di Surabaya". Hasilnya disajiin lewat dashboard atau laporan yang gampang dibaca tim lain.

Bedain dulu sama istilah yang mirip-mirip. Data analyst fokus ke data yang udah ada dan menjawab pertanyaan "apa yang terjadi". Bukan bikin model prediksi rumit, bukan juga ngurusin pipa data raksasa.

Anggap aja kamu punya toko online, namanya Keripik Juara. Tiap hari masuk data pesanan, retur, sama iklan. Data analyst yang ngerapiin semua itu, terus ngasih tahu kamu: iklan di kota mana yang paling boros, jam berapa orang paling sering checkout, produk mana yang sering diretur.

Jawaban kayak gitu yang bikin bisnis nggak nebak-nebak pas ambil keputusan.

Data analyst itu ngapain aja sehari-hari?

Sehari-hari, kerjaan data analyst muter di empat hal: narik data mentah, ngebersihin biar rapi, nganalisis buat cari jawaban, terus nyampein hasilnya ke tim. Kedengeran simpel, tapi tiap tahap makan waktu dan butuh ketelitian. Ini gambaran satu hari kerja yang lumayan umum di lapangan.

Narik dan ngebersihin data

Data jarang dateng dalam kondisi rapi. Ada nama kota yang ketulis "Jakarta", "jkt", sama "DKI" buat hal yang sama. Ada angka yang kosong, ada tanggal yang formatnya campur aduk.

Bagian ngebersihin ini nih yang sering makan waktu paling banyak. Dari yang aku lihat, banyak analyst ngabisin separuh hari cuma buat mastiin datanya bener sebelum dianalisis.

Nganalisis dan cari pola

Habis rapi, baru masuk ke nyari jawaban. Di sini analyst pakai SQL buat narik data dari database, atau Excel buat ngitung dan ngebandingin.

Contoh pertanyaan yang dijawab: penjualan bulan ini naik atau turun dibanding bulan lalu, pelanggan baru datengnya dari channel mana, produk mana yang margin-nya tipis.

Bikin laporan dan dashboard

Hasil analisis nggak ada gunanya kalau tim lain nggak ngerti. Makanya analyst bikin dashboard — halaman visual berisi grafik yang di-update otomatis.

Tim marketing bisa buka sendiri buat lihat performa iklan. Atasan bisa cek angka penjualan tanpa nanya-nanya lagi.

Presentasi dan diskusi

Sisanya, ngobrol. Meeting sama tim produk, jelasin kenapa angka retur naik, ngasih rekomendasi berdasar data. Skill komunikasi kepake banget di bagian ini, dan sering diremehin sama pemula.

Skill apa yang beneran diminta buat jadi data analyst?

Skill teknis yang paling sering muncul di lowongan Indonesia ada tiga: SQL, Excel atau Google Sheets, sama tools visualisasi kayak Power BI atau Looker Studio. Python jadi nilai plus, bukan syarat mutlak buat posisi entry-level. Di luar teknis, kemampuan komunikasi dan nalar bisnis juga dicek.

Biar kebayang beneran, ini ringkasan requirement yang aku rangkum dari beberapa posting Data Analyst di e-commerce fashion lokal.

  • Mahir SQL buat narik dan ngolah data
  • Excel atau Google Sheets tingkat lanjut — pivot table, VLOOKUP
  • Familiar sama salah satu tools visualisasi: Power BI, Looker Studio, atau Tableau
  • Nilai plus: Python buat automasi tugas berulang
  • Bisa nyusun laporan yang dimengerti tim non-teknis

Perhatiin urutannya, ya. SQL hampir selalu nangkring paling atas.

SQL — skill yang paling sering jadi syarat

SQL adalah bahasa buat minta data dari database. Kamu nulis perintah, database ngasih jawaban berupa tabel.

Kenapa ini nomor satu? Soalnya data perusahaan disimpen di database, dan SQL cara paling langsung buat ngambilnya. Nggak perlu nunggu tim IT, kamu tarik sendiri.

Kabar baiknya, query pertamamu cuma beberapa baris kok. Kalau mau tahu urutan belajarnya, aku udah susun di roadmap belajar SQL buat data analyst.

Excel atau Google Sheets

Jangan remehin spreadsheet, ya. Banyak analisis cepat masih dikerjain di Excel, apalagi di perusahaan yang belum punya sistem data gede.

Yang dicek biasanya pivot table buat ngerangkum, sama fungsi kayak VLOOKUP dan SUMIF buat gabungin dan ngitung data.

Tools visualisasi

Power BI dari Microsoft dan Looker Studio dari Google jadi dua yang paling sering disebut. Dua-duanya buat bikin dashboard yang bisa dibuka tim lain.

Kamu nggak harus jago semuanya kok. Kuasain satu dulu, soalnya logikanya mirip antar tools.

Skill non-teknis yang sering dilupain

Kemampuan teknis doang nggak cukup. Data analyst yang bagus bisa jelasin temuan rumit pakai bahasa manusia.

Nalar bisnis juga penting. Kamu harus ngerti kenapa satu angka itu masalah, bukan cuma bisa ngitungnya. Angka retur 5% itu wajar atau bahaya? Jawabannya butuh konteks bisnis, bukan cuma rumus.

Berapa gaji data analyst di Indonesia?

Estimasi gaji data analyst di Indonesia sekitar Rp5-8 juta per bulan buat pemula, dan bisa tembus Rp15-30 juta buat level senior. Angkanya beda-beda tergantung kota, ukuran perusahaan, sama industri tempat kamu kerja. Anggap ini kisaran kasar dari data publik, bukan patokan pasti.

Buat gambaran, ini estimasi berdasar rentang yang aku lihat di data publik kayak Glassdoor dan lowongan di Jobstreet Indonesia.

LevelPengalamanEstimasi gaji per bulan
Junior / Entry0-2 tahunRp5-8 juta
Mid-level2-5 tahunRp8-15 juta
Senior5+ tahunRp15-30 juta

Beberapa hal yang narik angka ini naik-turun. Perusahaan tech dan bank besar biasanya bayar lebih tinggi dari UMKM atau agensi kecil. Jakarta juga cenderung di atas kota lain.

Satu catatan jujur. Angka gaji online sering dilaporin sendiri sama karyawan, jadi bisa meleset. Pakai ini buat gambaran kasar, terus cek langsung ke recruiter pas interview.

Data analyst, data scientist, sama data engineer bedanya apa?

Bedanya di fokus kerjaan. Data analyst jawab "apa yang terjadi" dari data yang udah ada. Data scientist bikin prediksi "apa yang bakal terjadi" pakai statistik dan machine learning. Data engineer bangun dan ngerawat sistem tempat data itu disimpen. Ketiganya sering ketuker, padahal jalur belajarnya beda jauh.

PeranFokus utamaSkill inti
Data AnalystJawab "apa yang terjadi" dari data yang adaSQL, Excel, visualisasi
Data ScientistPrediksi dan model, "apa yang bakal terjadi"Statistik, machine learning, Python
Data EngineerBangun dan rawat sistem penyimpanan dataPipeline, database, cloud

Buat kebanyakan orang yang baru mulai, data analyst pintu masuk paling masuk akal. Skill-nya paling cepat dipelajari, dan lowongannya paling banyak.

Dari analyst, kamu bisa pindah jalur ke scientist atau engineer nanti kalau mau. Banyak kok yang jalannya gitu.

Bisa jadi data analyst kalau bukan anak IT?

Bisa, dan ini jalur yang udah dilewatin banyak orang. Data analyst nggak nuntut gelar computer science. Yang dinilai kemampuan kamu ngolah data dan jelasin hasilnya, bukan ijazah. Banyak yang masuk dari akuntansi, marketing, atau operasional, terus belajar skill teknisnya sambil jalan.

Malah, background non-IT sering jadi keunggulan. Kenapa? Karena kamu udah ngerti satu bidang bisnis dari dalam.

Orang akuntansi udah biasa main angka dan teliti. Anak marketing ngerti perilaku pelanggan dan metrik iklan. Orang operasional paham alur barang dan stok. Tinggal tambahin skill teknis, kamu jadi analyst yang ngerti konteks bisnisnya sekaligus.

Yang perlu kamu tutup cuma jarak teknis: SQL, spreadsheet, satu tools visualisasi. Tiga ini bisa dipelajari otodidak, tanpa balik kuliah.

Jadi kalau kamu dari jurusan sastra, hukum, atau teknik mesin sekalipun — bukan alasan buat nggak mulai.

Gimana cara mulai jadi data analyst dari nol?

Cara paling praktis mulai dari nol: kuasain satu skill dulu sampai bisa dipakai, baru lanjut ke skill berikutnya. Urutan yang aku saranin — Excel, terus SQL, terus tools visualisasi, ditutup sama bikin portofolio. Jangan belajar semua sekaligus.

Ini langkah yang bisa kamu ikutin.

  1. Kuatin dasar spreadsheet. Belajar pivot table, VLOOKUP, sama fungsi dasar di Excel atau Google Sheets. Ini pondasi yang kepake terus.
  2. Belajar SQL. Ini skill yang paling nentuin. Mulai dari perintah dasar buat narik data, pelan-pelan naik ke JOIN dan GROUP BY. Panduan buat yang bener-bener baru ada di panduan belajar SQL buat pemula.
  3. Kenalan sama tools visualisasi. Pilih Power BI atau Looker Studio, bikin satu dashboard sederhana. Cukup satu dulu.
  4. Bangun portofolio. Ambil dataset publik, kerjain satu analisis dari awal sampai akhir, ceritain temuannya. Ini yang bakal kamu tunjukin pas ngelamar.
  5. Latihan interview. Banyak tes teknis muter di SQL. Aku udah kumpulin pertanyaan interview SQL yang sering keluar biar kamu nggak kaget.

Soal timeline, realistisnya 6 sampai 12 bulan belajar konsisten sebelum siap ngelamar entry-level. Tergantung berapa jam yang kamu luangin per minggu.

Kunci beneran bukan koleksi sertifikat. Tapi bisa nunjukin kamu udah ngerjain analisis nyata dari data mentah sampai kesimpulan.

FAQ

Data analyst kerjanya ngapain?

Data analyst ngumpulin data, ngebersihin, nganalisis, terus nyampein hasilnya buat bantu keputusan bisnis. Sehari-hari dia narik data pakai SQL, ngolah di Excel, bikin dashboard visualisasi, sama presentasi temuan ke tim. Intinya jawab pertanyaan bisnis pakai angka, bukan tebakan.

Skill apa yang wajib buat data analyst pemula?

Tiga skill teknis paling sering diminta: SQL buat narik data, Excel atau Google Sheets buat ngolah, sama satu tools visualisasi kayak Power BI atau Looker Studio. Python jadi nilai plus, bukan syarat wajib buat entry-level. Skill komunikasi juga dicek karena kamu harus bisa jelasin hasil ke orang non-teknis.

Berapa lama belajar jadi data analyst?

Realistisnya 6 sampai 12 bulan belajar konsisten kalau kamu mulai dari nol. Angka ini tergantung berapa jam yang kamu luangin tiap minggu dan seberapa fokus. Yang bikin cepat siap bukan lama belajarnya, tapi punya portofolio berisi analisis nyata yang bisa kamu tunjukin ke recruiter.

Bisa jadi data analyst tanpa gelar IT?

Bisa. Data analyst nilai kemampuan ngolah data dan jelasin hasilnya, bukan ijazah. Banyak analyst dateng dari akuntansi, marketing, atau operasional. Background bisnis kamu malah jadi nilai tambah, karena kamu ngerti konteks angkanya. Tinggal tutup jarak teknis lewat SQL, spreadsheet, dan satu tools visualisasi.

Data analyst sama data scientist bedanya apa?

Data analyst fokus jawab "apa yang terjadi" dari data yang udah ada, pakai SQL dan visualisasi. Data scientist fokus prediksi "apa yang bakal terjadi" pakai statistik dan machine learning. Analyst lebih cepat dipelajari dan lowongannya lebih banyak, jadi sering jadi pintu masuk sebelum pindah ke scientist.

Mulai dari langkah pertama

Data analyst profesi yang kebuka lebar, termasuk buat kamu yang bukan anak IT. Skill intinya jelas, jalurnya udah dilewatin banyak orang, dan lowongannya nyata.

Skill yang paling nentuin tetep SQL. Kalau mau mulai serius, ikutin roadmap belajar SQL buat data analyst dan kerjain langkah pertamanya hari ini.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel Terkait

Karir Data
31 Juli 2026•6 menit baca

Review Google Data Analytics Certificate: Worth It Buat Orang Indonesia?

Worth it gak Google Data Analytics Certificate buat orang Indonesia? Review jujur soal kurikulum, biaya real dalam rupiah, dan pengakuan recruiter lokal.

BimaBima
Karir Data
29 Juli 2026•5 menit baca

Jadi Data Analyst Tanpa Background IT: Realistis Nggak?

Umur, matematika, coding — tiga keraguan orang non-IT buat masuk data analyst. Aku pisahin mana yang beneran susah, mana yang cuma mitos.

BimaBima
Karir Data
27 Juli 2026•5 menit baca

Business Intelligence Analyst vs Data Analyst: Pilih Mana?

BI analyst vs data analyst: overlap-nya gede tapi fokus kerjanya beda. Aku bandingin tools, kerjaan sehari-hari, plus gimana milih jalur yang cocok buat kamu.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

Copyright © 2026 - All rights reserved

LINKS
SupportPricingDatasetBlogAffiliates
LEGAL
Terms of servicesPrivacy policy
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore