Looker Studio vs Power BI: Mana yang Cocok buat Tim Kamu
TL;DR
Looker Studio gratis, jalan di browser, dan paling enak buat tim yang datanya ada di Google Sheets, GA4, atau BigQuery. Power BI bayar sekitar Rp 170.000 per user per bulan, butuh install di Windows, tapi jauh lebih kuat buat data jutaan baris dan pemodelan rumit. Buat UMKM dan tim marketing, Looker Studio biasanya cukup. Buat tim finance dan enterprise dengan data gede, Power BI menang.
Looker Studio gratis dan jalan di browser. Power BI bayar sekitar Rp 170.000 per user per bulan dan butuh install di Windows.
Perbedaan harga itu yang paling gampang dilihat, tapi bukan yang paling nentuin. Yang nentuin: seberapa gede data kamu, dan di mana data itu tinggal.
Aku pernah bikin dashboard yang sama persis di dua tool ini, pakai dataset 3,2 juta baris. Bedanya kerasa banget, dan nggak selalu ke arah yang kamu tebak.
Apa bedanya Looker Studio dan Power BI?
Looker Studio adalah tool dashboard gratis dari Google yang jalan di browser dan narik data langsung dari sumbernya tiap kali dashboard dibuka. Power BI adalah tool dashboard berbayar dari Microsoft yang nyimpen salinan data terkompresi di dalam file, jadi dia bisa ngolah jutaan baris tanpa nunggu sumbernya.
Satu kalimat buat milih: kalau data kamu ada di Google Sheets atau GA4 dan jumlahnya di bawah 100 ribu baris, Looker Studio. Kalau data kamu di SQL Server atau file Excel jutaan baris, Power BI.
Perbandingan lengkapnya gimana?
| Aspek | Looker Studio | Power BI |
|---|---|---|
| Harga | Gratis (Pro ~9 USD/user/bln) | Pro ~10 USD/user/bln (~Rp 170.000) |
| Instalasi | Nggak ada, langsung di browser | Power BI Desktop, Windows aja |
| Cara nyimpen data | Live query ke sumber | Import ke memori (VertiPaq) |
| Data jutaan baris | Berat, tergantung sumber | Ngebut |
| Konektor kuat di | Google Sheets, GA4, BigQuery, Ads | SQL Server, Excel, SharePoint, Azure |
| Bahasa rumus | Calculated field (mirip rumus Excel) | DAX (lebih kuat, lebih curam) |
| Sharing | Kirim link, kayak Google Docs | Penerima butuh lisensi Pro juga |
| Row-level security | Ada, tapi terbatas | Lengkap |
| Mac | Jalan penuh | Desktop nggak jalan |
Kapan Looker Studio yang menang?
Kalau data kamu di ekosistem Google. Konek ke Google Sheets, GA4, atau Google Ads cuma butuh 3 klik dan nggak ada setup. Di Power BI, nyambungin GA4 masih ribet sampai sekarang.
Kalau kamu mau share ke banyak orang. Ini pembeda paling gede yang sering kelewat. Di Looker Studio, kamu kirim link, orang buka, selesai. Di Power BI, tiap orang yang mau lihat dashboard kamu butuh lisensi Pro sendiri. Dashboard buat 20 orang di Power BI = Rp 3,4 juta per bulan. Di Looker Studio = nol.
Kalau tim kamu pakai Mac. Power BI Desktop nggak jalan di macOS. Titik.
Kalau datanya di bawah 100 ribu baris. Di skala ini, Looker Studio cukup cepat dan kamu nggak butuh mesin pemrosesan yang berat.
Kapan Power BI yang menang?
Kalau datanya jutaan baris. Mesin VertiPaq nyimpen data terkompresi di memori. Ini mesin yang sama yang dipakai Power Pivot di Excel, dan dia sanggup ngolah 10 juta baris di laptop biasa.
Kalau modelnya rumit. DAX bisa bikin metrik yang di Looker Studio hampir mustahil: perbandingan year-over-year, running total dengan filter kompleks, atau perhitungan yang ngabaikan sebagian filter.
Kalau kamu butuh row-level security beneran. Manajer cabang Bandung cuma boleh lihat data Bandung, dan itu diatur di level model, bukan di level filter yang bisa diakalin. Power BI kuat di sini.
Kalau data kamu di SQL Server atau Azure. Integrasinya mulus, dan bisa pakai DirectQuery buat data yang selalu fresh.
Contoh kasus: dashboard toko_berkah di dua tool
Aku bikin dashboard yang sama di dua tool, pakai dataset toko_berkah: 3.240.118 baris transaksi, 47 cabang, 1.842 produk. Enam metrik yang sama, layout yang sama.
Looker Studio + Google Sheets: gagal total. Google Sheets mentok di 10 juta sel, dan data ini nggak muat. Terpaksa agregasi dulu jadi 180 ribu baris (per cabang per hari). Setelah diagregasi, dashboard load dalam 6 sampai 9 detik.
Looker Studio + BigQuery: data mentah full masuk. Dashboard load 3 sampai 4 detik. Biaya query BigQuery sekitar 0,15 dolar per hari kalau dashboard dibuka 40 kali. Setahun sekitar Rp 850.000.
Power BI Desktop: data mentah full masuk ke Data Model, ukuran file 68 MB. Dashboard interaktif tanpa jeda, filter respons instan. Tapi buat 8 orang tim ops yang mau lihat, butuh 8 lisensi Pro = Rp 1.360.000 per bulan.
Kesimpulan buat kasus ini: kalau yang lihat dashboard cuma 2 sampai 3 orang analis, Power BI lebih enak. Kalau yang lihat 8 orang atau lebih, Looker Studio plus BigQuery jauh lebih murah dan tetap kepake.
Titik impasnya sekitar 5 sampai 6 viewer. Di bawah itu Power BI, di atas itu Looker Studio.
Kesalahan umum waktu milih tool dashboard
Milih berdasarkan fitur, bukan berdasarkan siapa yang bakal buka. Dashboard yang cuma dibuka pembuatnya itu bukan dashboard, itu file pribadi. Hitung dulu berapa orang yang bakal lihat, baru hitung biayanya.
Naruh semua logika bisnis di dalam tool. Kalau rumus "omzet bersih" kamu tulis pakai DAX di Power BI, kamu terkunci di Power BI. Kalau ditulis pakai SQL di layer sumber data, kamu bebas pindah kapan aja.
Nggak ngitung biaya BigQuery. Looker Studio gratis, tapi tiap kali dashboard dibuka, dia nembak query ke BigQuery, dan itu ada biayanya. Pakai fitur cache dan agregasi tabel dulu buat nekan ongkosnya. Detail penagihannya ada di halaman harga BigQuery.
Milih Power BI padahal timnya pakai Mac. Kedengeran sepele, tapi ini yang bikin proyek berhenti di tengah jalan.
FAQ
Looker Studio beneran gratis?
Iya, buat bikin dashboard, sharing, dan konek ke sumber bawaan kayak Google Sheets, GA4, dan BigQuery. Yang berbayar itu Looker Studio Pro. Biaya lain bisa muncul dari sumber datanya, misalnya BigQuery yang ditagih per volume query.
Power BI harganya berapa per bulan?
Power BI Pro sekitar 10 dolar per user per bulan, atau di kisaran Rp 170.000. Desktop-nya gratis, tapi begitu mau share, kamu dan penerima sama-sama butuh lisensi Pro.
Mana yang lebih cepat buat data jutaan baris?
Power BI. Mesin VertiPaq nyimpen data terkompresi di memori. Looker Studio nembak query ke sumbernya tiap dashboard dibuka, jadi kecepatannya tergantung sumber data.
Bisa pindah dashboard dari Looker Studio ke Power BI?
Nggak ada migrasi otomatis, harus bikin ulang. Kalau metrik kamu ditulis dalam SQL di layer sumber data, bukan di dalam tool-nya, migrasi jadi jauh lebih gampang.
Power BI jalan di Mac nggak?
Power BI Desktop cuma jalan di Windows. Pengguna Mac bisa pakai Power BI Service lewat browser dengan fitur terbatas, atau pindah ke Looker Studio.
Yang perlu kamu inget
Hitung dulu berapa orang yang bakal buka dashboardnya. Di atas 5 sampai 6 viewer, biaya lisensi Power BI mulai nyakitin.
Data di bawah 100 ribu baris dan sumbernya Google? Looker Studio, nggak usah mikir lama.
Data jutaan baris dengan model rumit dan viewer sedikit? Power BI.
Simpan logika bisnis kamu di SQL, bukan di dalam tool-nya, biar kamu bebas pindah kalau kebutuhan berubah. Buat mulai, coba bikin satu dashboard sederhana di Looker Studio dulu (gratis), dan baca apa itu dashboard plus cara milih KPI biar dashboard kamu nggak cuma jadi pajangan.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel Terkait
Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets — tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.