TL;DR
Scorecard di Looker Studio adalah chart yang nampilin satu angka agregat (misalnya total omzet atau jumlah transaksi) dalam ukuran besar biar langsung kebaca. Cara bikinnya: klik Add a chart, pilih Scorecard, lalu tentuin metric-nya. Fitur yang paling kepakai adalah Comparison date range, yang otomatis nampilin persentase naik-turun dibanding periode sebelumnya. Aturan praktisnya: maksimal 4-6 scorecard per halaman, kalau lebih pembaca berhenti baca.
Scorecard di Looker Studio adalah chart yang nampilin satu angka agregat dalam ukuran besar: total omzet, jumlah transaksi, rata-rata belanja. Satu angka, satu kartu.
Kedengaran sepele. Tapi scorecard adalah chart pertama yang dilihat bos kamu, dan sering jadi satu-satunya yang dia lihat.
Makanya salah pasang scorecard efeknya gede.
Scorecard adalah tipe chart yang ngerangkum seluruh data kamu jadi satu angka, hasil dari agregasi metric yang kamu pilih, misalnya SUM dari kolom omzet. Dia nggak punya dimensi, jadi nggak ada pengelompokan. Yang keluar cuma angkanya, opsional plus perbandingan sama periode sebelumnya.
Fungsinya buat jawab pertanyaan yang paling sering ditanya: "Angkanya berapa sekarang, dan lagi naik apa turun?"
Kalau kamu baru mulai bikin dashboard, mulai dari sini. Baru habis itu tambahin chart lain.
Enam langkah, semuanya di panel kanan.
total.Selesai. Sekarang bagian yang bikin scorecard-nya beneran berguna.
Angka tanpa pembanding itu setengah informasi. "Omzet Rp 412 juta". Bagus apa jelek? Nggak ada yang tau.
Di tab Setup, scroll ke Comparison date range. Pilihannya:
Begitu diisi, muncul angka kecil di bawah metric utama: panah plus persentase.
Warnanya bisa kamu atur di tab Style > bagian Comparison. Set positif = hijau, negatif = merah. Kedengaran remeh, tapi ini yang bikin bos kamu paham dalam 1 detik tanpa baca angkanya.
Satu catatan penting buat metric kayak churn rate atau biaya: naik itu jelek. Looker Studio nggak tau itu, jadi kamu harus balik warnanya manual.
Aku bikin dashboard buat dataset toko_berkah, data penjualan UMKM ritel dari 6 kota, rentang Januari 2024 sampai April 2026.
Versi pertama yang aku bikin punya 11 scorecard di baris atas: omzet, transaksi, rata-rata belanja, jumlah pelanggan, produk terjual, kota aktif, kategori aktif, dan seterusnya.
Aku tunjukin ke 5 orang. Nggak ada satupun yang bisa nyebut angka mana yang paling penting.
Versi kedua cuma 4 scorecard:
| KPI | Nilai Q1 2026 | vs Q4 2025 |
|---|---|---|
| Total Omzet | Rp 1,10 M | +12,4% |
| Jumlah Transaksi | 28.412 | +3,1% |
| Rata-rata Belanja | Rp 38.700 | +9,0% |
| Kota Aktif | 6 | 0% |
Yang menarik ada di baris ketiga. Transaksi cuma naik 3,1%, tapi omzet naik 12,4%. Artinya pertumbuhannya bukan dari pelanggan baru, tapi dari pelanggan lama yang belanjanya lebih besar per kunjungan.
Kesimpulan itu keliatan gara-gara ada rata-rata belanja di scorecard. Kalau cuma pasang omzet doang, kamu bakal ngira jualan lagi rame.
Pelajarannya: pilih scorecard yang kalau digabung bisa cerita sesuatu. Bukan yang paling banyak.
Looker Studio punya Conditional formatting buat scorecard. Ada di tab Style, tombol Add di bagian bawah.
Contoh yang aku pakai: kalau rata-rata belanja di bawah Rp 30.000, angkanya jadi merah. Di atas Rp 40.000, jadi hijau.
Gunanya bukan buat cantik-cantikan. Gunanya biar orang yang lihat dashboard sambil jalan ke ruang meeting bisa tau ada masalah tanpa berhenti.
Detail lengkap opsi formatnya ada di dokumentasi resmi Looker Studio soal scorecard.
Kalau semua angka penting, nggak ada yang penting. Maksimal 4-6 per halaman. Sisanya taruh di tabel.
Looker Studio suka default ke Average buat field numerik. Kamu kira lagi lihat total omzet, padahal itu rata-rata per transaksi. Selalu klik pensil dan cek.
Rp 412 juta itu angka mati. "+12,4% dari kuartal lalu" itu informasi. Isi Comparison date range-nya.
Rp 412.837.291,4519 bikin orang mikir dua kali. Set Decimal precision ke 0 dan aktifin Compact numbers, jadi Rp 412,8 jt.
Kalau scorecard-nya kamu kasih Custom date range, dia bakal ngabaikan filter tanggal di halaman. Pembaca ganti filter, angkanya nggak gerak, dan mereka nggak ngerti kenapa. Kalau nggak ada alasan kuat, biarin Auto.
| Kebutuhan | Pakai |
|---|---|
| Satu angka penting sekarang | Scorecard |
| Tren angka itu dari waktu ke waktu | Time series |
| Bandingin angka antar kategori | Bar chart |
| Detail baris per baris | Table |
Pola yang paling sering jalan: baris atas isinya 4 scorecard, di bawahnya time series, di bawahnya lagi tabel detail. Pembaca dapat ringkasan dulu, baru boleh ngulik.
Kalau kamu mau ngulik pembanding periode lebih dalam, konsep KPI di glossary dan fungsi SUM jadi dasar yang perlu kamu pegang dulu.
Cek dulu agregasinya. Looker Studio nentuin agregasi default dari tipe field. Kadang dia pilih Average padahal kamu mau Sum. Klik metric-nya di panel kanan, klik ikon pensil, lalu ganti Aggregation ke Sum. Penyebab kedua: date range chart-nya beda dari yang kamu kira, soalnya scorecard bisa punya date range sendiri yang override setting halaman.
Pilih scorecard-nya, buka tab Setup di panel kanan, lalu isi Comparison date range, misalnya Previous period atau Previous year. Looker Studio otomatis nambahin angka kecil di bawah metric utama, lengkap sama panah dan persentase. Warnanya bisa kamu atur di tab Style, bagian Comparison, kalau kamu mau naik itu hijau dan turun itu merah.
Empat sampai enam. Lebih dari itu, mata pembaca nggak tau harus mulai dari mana dan semua angka jadi kelihatan sama pentingnya. Kalau kamu punya 12 KPI, artinya kamu belum milih mana yang paling penting. Taruh 4 KPI utama di baris atas, sisanya pindahin ke tabel atau halaman kedua.
Bisa. Bikin calculated field dulu lewat Resource > Manage added data sources > Add a field, atau langsung di chart-nya lewat Add metric > Create field. Contohnya rata-rata nilai transaksi: SUM(total) / COUNT(order_id). Setelah field-nya ada, dia muncul di daftar metric kayak field biasa dan bisa dipakai di scorecard mana aja.
Default format-nya ngikutin tipe data. Klik metric di panel Setup, klik ikon pensil, terus atur Type ke Currency atau Number dan set Decimal precision ke 0. Buat angka besar, aktifin juga Compact numbers di tab Style. Rp 412.800.000 jadi Rp 412,8 jt dan jauh lebih gampang dibaca dari jauh.
Tiga hal yang paling ngaruh:
Buka dashboard kamu sekarang, hitung jumlah scorecard-nya. Kalau lebih dari 6, ada 6 yang harus kamu relakan.
Kalau kamu lagi bangun dashboard dari nol, lanjut ke cara milih chart yang tepat. Prinsipnya sama walau tools-nya beda.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets, tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.
Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.
Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.