Cheat Sheet Memilih Grafik: Pohon Keputusan Satu Halaman
TL;DR
Pilihan grafik ditentukan tiga pertanyaan berurutan: kamu mau nunjukin apa (perbandingan, komposisi, distribusi, hubungan, atau perubahan waktu), berapa banyak kategori yang dibandingin, dan apakah sumbu waktu terlibat. Perbandingan antar kategori pakai batang horizontal, perubahan sepanjang waktu pakai garis, hubungan dua angka pakai grafik sebar, dan distribusi satu angka pakai histogram. Grafik lingkaran cuma layak dipakai kalau kategorinya dua atau tiga dan angkanya ditulis.
Pilihan grafik yang tepat ditentukan tiga pertanyaan, bukan selera.
Kamu mau nunjukin apa? Berapa banyak kategorinya? Ada sumbu waktu nggak?
Jawab tiga itu berurutan, grafiknya biasanya ketemu dalam 20 detik. Di bawah ini pohon keputusannya, tabel rujukan per jenis grafik, dan daftar kesalahan yang paling sering bikin grafik salah dibaca.
Gimana cara cepat milih grafik yang tepat?
Mulai dari tujuan, bukan dari data. Ada lima tujuan yang mencakup hampir semua grafik yang kamu bikin di kantor: bandingin antar kategori, tunjukin komposisi, lihat distribusi, cari hubungan antar dua angka, dan ikutin perubahan sepanjang waktu. Setiap tujuan punya grafik bawaannya.
Pohon keputusannya begini.
- Sumbu datarnya waktu? Kalau iya, pakai grafik garis. Kalau titik waktunya sedikit (di bawah 8) dan angkanya berdiri sendiri, batang vertikal juga boleh.
- Bukan waktu, tapi bandingin nilai antar kategori? Pakai batang horizontal, diurutkan dari besar ke kecil.
- Mau nunjukin bagian dari satu keseluruhan? Pakai batang bertumpuk 100%. Grafik lingkaran cuma kalau kategorinya dua atau tiga.
- Mau lihat sebaran satu kolom angka? Pakai histogram. Kalau mau bandingin sebaran antar kelompok, pakai box plot.
- Mau lihat hubungan dua kolom angka? Pakai grafik sebar.
- Mau bandingin pola yang sama di banyak kelompok? Pakai small multiples.
Tabel rujukan: tujuan, grafik, dan kapan dihindari
| Tujuan | Grafik utama | Alternatif | Hindari kalau |
|---|---|---|---|
| Bandingin nilai antar kategori | Batang horizontal | Batang vertikal, dot plot | Kategorinya lebih dari 15 tanpa dikelompokin |
| Perubahan sepanjang waktu | Grafik garis | Grafik area, batang vertikal | Titik waktunya cuma 2 atau 3 |
| Komposisi (bagian dari total) | Batang bertumpuk 100% | Treemap, grafik lingkaran | Kategorinya lebih dari 5 |
| Komposisi yang berubah tiap periode | Grafik area bertumpuk | Batang bertumpuk per periode | Kategori tengahnya yang mau dibaca teliti |
| Sebaran satu kolom angka | Histogram | Density plot | Datanya di bawah 30 baris |
| Bandingin sebaran antar kelompok | Box plot | Violin plot, strip plot | Audiensnya belum pernah lihat box plot |
| Hubungan dua kolom angka | Grafik sebar | Grafik sebar plus garis tren | Titiknya numpuk berat, pakai binning dulu |
| Peringkat yang berubah | Bump chart | Slope chart (kalau cuma 2 periode) | Pesertanya lebih dari 10 |
| Satu angka penting | Angka besar plus konteks | Bullet chart | Pakai speedometer, buang-buang ruang |
| Pola per wilayah | Peta choropleth | Batang per wilayah | Yang dibandingin nilai mutlak, bukan rasio |
Aturan cepat per jenis grafik
Grafik batang
- Sumbu nilai wajib mulai dari nol. Nggak ada pengecualian.
- Urutin dari besar ke kecil, kecuali kategorinya punya urutan alami kayak hari atau kelompok umur.
- Label panjang? Pakai horizontal biar nggak dimiringkan.
- Batang berdampingan maksimal 3 seri. Lebih dari itu jadi hutan.
Grafik garis
- Maksimal 4 sampai 5 garis. Sisanya jadikan abu-abu sebagai latar.
- Beri label langsung di ujung garis, bukan di legenda terpisah.
- Jarak antar titik waktu harus seragam. Data mingguan dan bulanan jangan dicampur di satu sumbu.
- Garis putus buat periode yang datanya nggak ada. Jangan disambung mulus seolah datanya lengkap.
Grafik sebar
- Titik numpuk? Turunin opasitas ke sekitar 40% atau pakai heatmap dua dimensi.
- Tambahin garis tren cuma kalau hubungannya emang mendekati linear.
- Tandain outlier yang ekstrem dengan label nama, jangan dibiarkan jadi titik tanpa identitas.
Grafik lingkaran
- Dua atau tiga kategori. Lebih dari itu pindah ke batang.
- Tulis angkanya di tiap potongan.
- Jangan pakai kalau totalnya bukan satu keseluruhan yang utuh.
- Donat berlubang boleh, tiga dimensi jangan. Kemiringan 3D bikin potongan depan kelihatan lebih besar.
Contoh kasus: laporan mingguan 14 cabang
Aku pernah rapihin satu laporan mingguan jaringan toko sembako yang isinya 11 grafik. Setelah dicek satu per satu, cuma 4 grafik yang jenisnya cocok sama pertanyaan yang mau dijawab.
Yang paling parah: perbandingan omzet 14 cabang digambar pakai grafik lingkaran. Tujuh cabang teratas nilainya di rentang 6% sampai 9% dari total, dan urutannya nggak bisa dibaca sama sekali dari potongan lingkaran.
Setelah diganti jadi batang horizontal yang diurutkan, satu hal langsung kelihatan: cabang peringkat 12 sampai 14 jumlahnya cuma 8,3% dari total omzet, tapi jumlah karyawannya 19% dari total. Rasio itu nggak pernah kebahas selama tujuh bulan laporan itu jalan.
Jumlah grafik akhirnya turun dari 11 jadi 6. Waktu baca laporan turun dari sekitar 12 menit jadi 4 menit menurut hitungan manajer operasionalnya.
Prinsipnya sederhana: grafik yang salah jenis bukan cuma kurang cantik, dia nyembunyiin informasi yang ada di datamu.
Kesalahan umum waktu milih grafik
- Motong sumbu Y di grafik batang. Selisih 2% bisa kelihatan kayak dua kali lipat. Ini kesalahan paling sering di slide presentasi.
- Pakai grafik garis buat kategori yang nggak berurutan. Garis dari cabang Bekasi ke cabang Depok nggak punya arti.
- Dua sumbu Y dengan skala berbeda. Titik potong dua garisnya bisa digeser sesuka hati cuma dengan ngubah skala. Pecah jadi dua grafik bertumpuk.
- Warna pelangi buat kategori berurutan. Pakai satu warna dengan gradasi terang gelap kalau datanya berurutan.
- Grafik tanpa judul yang menyimpulkan. Ganti judul "Omzet per Cabang" jadi "Tiga cabang terbawah nyerap 19% karyawan". Judul yang nyimpulin bikin grafiknya kebaca dalam dua detik.
- Terlalu banyak grafik dalam satu dashboard. Kalau semua penting, nggak ada yang penting. Enam grafik biasanya cukup buat satu halaman.
Daftar jenis grafik beserta kapan dipakainya juga bisa kamu cek di dokumentasi Looker Studio kalau kamu kerja di tool itu.
Versi ringkas buat ditempel di meja
| Pertanyaanmu | Pakai ini |
|---|---|
| Mana yang paling besar? | Batang horizontal, urut |
| Naik atau turun? | Grafik garis |
| Porsinya berapa? | Batang bertumpuk 100% |
| Sebarannya gimana? | Histogram |
| Kelompok mana yang lebih beragam? | Box plot |
| Dua angka ini nyambung nggak? | Grafik sebar |
| Pola tiap cabang gimana? | Small multiples |
| Udah sesuai target belum? | Angka besar plus pembanding |
FAQ
Grafik apa yang paling aman kalau aku ragu?
Grafik batang horizontal. Dia jalan buat hampir semua perbandingan antar kategori, label panjang muat tanpa dimiringkan, dan mata manusia jago banget bandingin panjang batang. Kalau kamu punya lima menit sebelum rapat dan nggak yakin mau pakai apa, batang horizontal yang diurutkan dari besar ke kecil jarang bikin salah paham.
Kenapa grafik lingkaran sering dibilang jelek?
Karena mata manusia payah bandingin luas juring. Bedain 22% sama 25% dari potongan lingkaran itu susah, sementara di grafik batang bedanya langsung kelihatan. Grafik lingkaran masih layak dipakai kalau kategorinya cuma dua atau tiga, angkanya ditulis di tiap potongan, dan totalnya beneran seratus persen dari satu hal utuh.
Kapan sebaiknya pakai grafik garis daripada batang?
Pakai garis kalau sumbu datarnya waktu dan urutannya bermakna, misalnya penjualan harian selama enam bulan. Garis bikin arah naik turunnya kelihatan. Pakai batang kalau kategorinya nggak punya urutan alami, misalnya penjualan per cabang. Menyambungkan cabang Bekasi ke cabang Depok pakai garis nggak punya arti apa-apa.
Berapa banyak kategori yang wajar dalam satu grafik?
Buat grafik batang, sampai 15 kategori masih nyaman kalau batangnya horizontal dan urut. Lebih dari itu, gabungin kategori kecil jadi satu kelompok lainnya, atau tampilkan sepuluh teratas doang. Buat grafik garis, empat sampai lima garis udah maksimal sebelum warnanya saling tumpuk. Kalau lebih, pecah jadi beberapa grafik kecil sejenis.
Sumbu Y harus selalu mulai dari nol?
Buat grafik batang, iya, wajib. Panjang batang itu yang dibaca orang, jadi sumbu yang dipotong bikin selisihnya kelihatan jauh lebih besar dari kenyataan. Buat grafik garis, boleh nggak mulai dari nol asal perubahan kecilnya emang penting, misalnya suhu atau kurs. Kasih tanda jelas kalau sumbunya dipotong.
Penutup
Tiga hal yang bikin grafikmu lebih kebaca mulai hari ini.
Mulai dari pertanyaan yang mau dijawab, bukan dari data yang kebetulan ada.
Urutin batangmu dan tulis judul yang nyimpulin temuan, bukan judul yang nyebut nama kolom.
Kurangi jumlah grafik. Enam yang tepat kalahin sebelas yang asal.
Mau lanjut ke teknik perbandingan antar kelompok? Baca small multiples. Kalau kolommu kebanyakan dan bingung mau digambar dari mana, ada juga panduan PCA untuk analis.
Simpan tabel ringkas di atas, buka lagi pas bikin laporan minggu depan.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel terkait
Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets, tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.