Cara Membuat Pie Chart di Excel (dan Kapan Sebaiknya Jangan)
Blog/Tutorial Excel & Sheets/Cara Membuat Pie Chart di Excel (dan Kapan Sebaiknya Jangan)

Cara Membuat Pie Chart di Excel (dan Kapan Sebaiknya Jangan)

BimaBima
·22 April 2026·10 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Cara membuat pie chart di Excel: blok dua kolom — nama kategori dan nilainya — lalu klik Insert > Pie Chart. Setelah itu tambahin data label persentase, soalnya mata manusia buruk banget bandingin sudut. Pie chart cuma layak dipakai kalau kategorinya maksimal 3 dan totalnya beneran 100% dari satu keseluruhan. Kalau lebih dari itu, bar chart yang diurutin dari besar ke kecil selalu lebih gampang dibaca.

Bikin pie chart di Excel gampang: blok dua kolom, klik Insert > Pie Chart, selesai.

Yang susah adalah tau kapan nggak boleh pakai.

Pie chart itu chart yang paling sering dipakai dan paling sering bikin pembaca salah baca. Aku bakal tunjukin dua-duanya — cara bikinnya yang bener, dan kapan kamu harus ganti chart lain.

Gimana cara membuat pie chart di Excel?

Blok dua kolom — satu kolom nama kategori, satu kolom angkanya — lalu buka tab Insert dan klik ikon pie di grup Charts. Excel langsung bikin pie chart dari data itu. Sisanya tinggal rapiin label dan warnanya biar kebaca.

Detail langkahnya:

  1. Siapin datanya. Dua kolom. Kolom kiri nama kategori, kolom kanan nilainya. Jangan ada baris kosong di tengah.
  2. Blok datanya termasuk header.
  3. Insert > Pie Chart — pilih 2-D Pie yang paling kiri. Abaikan yang 3-D.
  4. Tambahin data label. Klik chart, klik ikon + di kanan atas, centang Data Labels.
  5. Ganti label jadi persentase. Klik panah di sebelah Data Labels, pilih More Options. Di panel kanan, centang Percentage dan Category Name.
  6. Hapus legend-nya. Kalau nama kategori udah nempel di potongan, legend cuma bikin mata pembaca bolak-balik.
  7. Ganti judulnya jadi kesimpulan, bukan cuma nyebut isi data.

Langkah 5 itu yang paling penting. Tanpa angka persentase, pie chart cuma bentuk warna-warni yang nggak ada yang bisa baca.

Kenapa data label persentase itu wajib?

Karena mata manusia buruk banget bandingin sudut.

Coba tes sendiri: bikin pie chart dengan potongan 18%, 21%, dan 19%. Tutup labelnya. Kamu nggak bakal bisa nyebut mana yang paling besar.

Sekarang bikin bar chart dengan angka yang sama. Selisihnya langsung keliatan dari panjang batang.

Ini bukan soal selera desain. Ini soal keterbatasan cara kita baca gambar — panjang lebih akurat dibaca daripada sudut.

Makanya kalau kamu tetap mau pakai pie, angkanya harus ada. Angka yang nutupin kelemahan chart-nya.

Contoh kasus: channel penjualan toko_berkah

Ini kasus di mana pie chart beneran cocok.

Dataset toko_berkah punya kolom channel dengan 2 nilai: offline dan online. Data Q1 2026:

ChannelOmzetPersentase
OfflineRp 748.000.00068%
OnlineRp 354.600.00032%

Dua kategori, selisihnya jelas, dan dua-duanya bagian dari satu total. Pie chart di sini kerja dengan baik — orang langsung nangkep bahwa offline masih dominan.

Sekarang kasus yang nggak cocok. Data yang sama, tapi dipecah per kota:

KotaOmzetPersentase
JakartaRp 412,8 jt36%
SurabayaRp 208,1 jt18%
BandungRp 174,5 jt15%
MedanRp 121,3 jt11%
MakassarRp 98,7 jt9%
SemarangRp 87,2 jt8%

Aku bikin pie chart-nya, terus aku tunjukin ke 8 orang dan minta mereka urutkan Medan, Makassar, dan Semarang dari besar ke kecil — tanpa baca label.

Cuma 3 dari 8 yang bener.

Selisih Medan (11%) dan Makassar (9%) itu Rp 22,6 juta — angka yang nggak kecil. Tapi di pie chart, selisih 2 derajat sudut itu nyaris nggak keliatan.

Aku ganti ke bar chart horizontal yang diurutin. Delapan dari delapan orang bener.

Kapan sebaiknya jangan pakai pie chart?

1. Kategorinya lebih dari 3

Di angka empat, pembaca mulai kesulitan bandingin potongan yang mirip. Di angka enam, kamu udah kehilangan mereka.

Kalau kamu punya 8 kategori: gabungin yang kecil jadi satu potongan "Lainnya", atau ganti bar chart.

2. Totalnya bukan satu keseluruhan

Pie chart nyiratin bahwa semua potongan itu bagian dari 100% yang sama.

Kalau kamu bikin pie dari "jumlah followers per platform", itu salah — satu orang bisa follow kamu di dua platform sekaligus. Totalnya bukan keseluruhan yang utuh.

3. Kamu mau bandingin antar periode

Dua pie chart bersebelahan — Q1 dan Q2 — itu mimpi buruk buat pembaca. Mereka harus bandingin sudut di dua lingkaran berbeda.

Pakai stacked bar atau grouped bar. Perubahannya langsung keliatan.

Kesalahan umum bikin pie chart

1. Pakai efek 3D

Potongan yang di depan kelihatan lebih besar dari aslinya, gara-gara perspektif. Ini bukan pilihan estetika — ini bikin chart kamu bohong. Pakai 2-D.

2. Nggak ngurutin potongannya

Sort data kamu dari besar ke kecil sebelum bikin chart. Potongan terbesar mulai dari jam 12, terus muter searah jarum jam. Ini yang paling gampang diikutin mata.

3. Semua potongan diwarnain beda-beda mencolok

Enam warna pelangi bikin mata bingung. Kasih satu warna kontras cuma di potongan yang mau kamu tekanin, sisanya abu-abu.

4. Exploded slice buat semua potongan

Kalau semua potongan ditarik keluar, nggak ada yang menonjol. Tarik satu doang — yang mau kamu highlight.

5. Persentase nggak jumlahnya 100%

Biasanya gara-gara pembulatan. Tambahin satu desimal di format label. Kalau selisihnya besar, cek data kamu — mungkin ada baris kehitung dobel.

Tips: bikin pie chart yang punya satu pesan

Pie chart bagus itu yang punya satu pesan doang.

Contoh judul yang kerja: "68% omzet masih dari toko offline". Angka besar, satu klaim, dan chart-nya cuma jadi pendukung.

Cara mempertegasnya: warnain potongan offline oranye, potongan online abu-abu. Mata pembaca langsung ke oranye.

Buat nyiapin datanya, SUMIF yang paling sering kepakai buat ngitung total per kategori, dan COUNTIF buat ngitung jumlah barisnya.

Opsi format lengkapnya bisa kamu cek di dokumentasi resmi Microsoft soal pie chart.

FAQ

Berapa maksimal potongan di pie chart?

Tiga. Di angka empat, pembaca mulai kesulitan bandingin potongan yang ukurannya mirip. Di angka enam, hampir nggak ada yang bisa nebak urutan besar-kecilnya tanpa baca label. Kalau data kamu punya 8 kategori, gabungin yang kecil-kecil jadi satu potongan Lainnya, atau ganti aja ke bar chart yang diurutin.

Gimana cara nampilin persentase di pie chart Excel?

Klik chart-nya, klik ikon plus di kanan atas, centang Data Labels, lalu klik panahnya dan pilih More Options. Di panel kanan, centang Percentage dan hapus centang Value kalau kamu cuma mau persen. Kamu juga bisa centang Category Name biar legend-nya nggak perlu — label langsung nempel di potongannya, dan itu lebih gampang dibaca.

Kapan pie chart lebih baik dari bar chart?

Waktu kamu cuma punya 2-3 kategori, selisihnya jelas, dan kamu mau nekanin bahwa semuanya bagian dari satu keseluruhan. Contohnya 68% penjualan offline, 32% online. Di kasus itu pie langsung ngasih pesan bagian-dari-total yang bar chart nggak sampein sekuat itu. Di luar kasus itu, bar hampir selalu menang.

Kenapa persentase di pie chart-ku nggak pas 100%?

Biasanya karena pembulatan. Excel bulatin tiap potongan ke bilangan bulat, jadi 33,4% + 33,3% + 33,3% bisa nampil jadi 33% + 33% + 33% = 99%. Solusinya: tambahin satu angka desimal di format label. Kalau selisihnya besar, cek data kamu — mungkin ada baris yang kehitung dobel atau nilai negatif yang nyelip.

Boleh pakai donut chart sebagai gantinya?

Boleh, tapi masalahnya sama. Donut cuma pie yang tengahnya bolong, dan itu bikin perbandingan sudut malah lebih susah karena yang tersisa cuma panjang busur. Satu-satunya keuntungan donut: lubang di tengah bisa kamu isi angka total. Kalau itu yang kamu butuhin, pakai. Kalau nggak, pie biasa aja.

Penutup

Yang perlu kamu bawa pulang:

  • Maksimal 3 potongan. Lebih dari itu, ganti bar chart.
  • Data label persentase itu wajib, bukan opsional.
  • Kalau kamu bandingin dua periode, pie chart bukan jawabannya.

Buka laporan terakhir kamu. Kalau ada pie chart dengan 6 potongan, ganti jadi bar chart yang diurutin — 5 menit, dan pembacanya langsung ngerti.

Buat milih tipe chart yang tepat di situasi lain, lanjut ke 10 jenis grafik Excel.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel Terkait

Template Laporan Penjualan Excel: Struktur yang Dipakai Analis
Tutorial Excel & Sheets
11 Juli 2026•10 menit baca

Template Laporan Penjualan Excel: Struktur yang Dipakai Analis

Template laporan penjualan yang bener cuma butuh 3 sheet. Yang bikin laporan orang rusak biasanya karena data mentah dan hasil dicampur di satu tempat.

BimaBima
Cara Menghubungkan Google Sheets ke Looker Studio
Tutorial Excel & Sheets
8 Juli 2026•10 menit baca

Cara Menghubungkan Google Sheets ke Looker Studio

Nyambungin Google Sheets ke Looker Studio cuma butuh 5 menit. Yang bikin lama itu datanya belum rapi. Ini urutan yang bener.

BimaBima
Cara Share Google Sheets dengan Aman: Permission & Protected Range
Tutorial Excel & Sheets
5 Juli 2026•9 menit baca

Cara Share Google Sheets dengan Aman: Permission & Protected Range

Panduan step by step share Google Sheets tanpa bikin rumus kehapus atau data gaji bocor — dari level permission, protected range, sampai audit siapa yang buka.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

Copyright © 2026 - All rights reserved

LINKS
SupportPricingDatasetBlogAffiliates
LEGAL
Terms of servicesPrivacy policy
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore