TL;DR
Cara membuat pie chart di Excel: blok dua kolom (nama kategori dan nilainya) lalu klik Insert > Pie Chart. Setelah itu tambahin data label persentase, soalnya mata manusia buruk banget bandingin sudut. Pie chart cuma layak dipakai kalau kategorinya maksimal 3 dan totalnya beneran 100% dari satu keseluruhan. Kalau lebih dari itu, bar chart yang diurutin dari besar ke kecil selalu lebih gampang dibaca.
Bikin pie chart di Excel gampang: blok dua kolom, klik Insert > Pie Chart, selesai.
Yang susah adalah tau kapan nggak boleh pakai.
Pie chart itu chart yang paling sering dipakai dan paling sering bikin pembaca salah baca. Aku bakal tunjukin dua-duanya: cara bikinnya yang bener, dan kapan kamu harus ganti chart lain.
Blok dua kolom (satu kolom nama kategori, satu kolom angkanya), lalu buka tab Insert dan klik ikon pie di grup Charts. Excel langsung bikin pie chart dari data itu. Sisanya tinggal rapiin label dan warnanya biar kebaca.
Detail langkahnya:
Langkah 5 itu yang paling penting. Tanpa angka persentase, pie chart cuma bentuk warna-warni yang nggak ada yang bisa baca.
Karena mata manusia buruk banget bandingin sudut.
Coba tes sendiri: bikin pie chart dengan potongan 18%, 21%, dan 19%. Tutup labelnya. Kamu nggak bakal bisa nyebut mana yang paling besar.
Sekarang bikin bar chart dengan angka yang sama. Selisihnya langsung keliatan dari panjang batang.
Ini bukan soal selera desain. Ini soal keterbatasan cara kita baca gambar: panjang lebih akurat dibaca daripada sudut.
Makanya kalau kamu tetap mau pakai pie, angkanya harus ada. Angka yang nutupin kelemahan chart-nya.
Ini kasus di mana pie chart beneran cocok.
Dataset toko_berkah punya kolom channel dengan 2 nilai: offline dan online. Data Q1 2026:
| Channel | Omzet | Persentase |
|---|---|---|
| Offline | Rp 748.000.000 | 68% |
| Online | Rp 354.600.000 | 32% |
Dua kategori, selisihnya jelas, dan dua-duanya bagian dari satu total. Pie chart di sini kerja dengan baik. Orang langsung nangkep bahwa offline masih dominan.
Sekarang kasus yang nggak cocok. Data yang sama, tapi dipecah per kota:
| Kota | Omzet | Persentase |
|---|---|---|
| Jakarta | Rp 412,8 jt | 36% |
| Surabaya | Rp 208,1 jt | 18% |
| Bandung | Rp 174,5 jt | 15% |
| Medan | Rp 121,3 jt | 11% |
| Makassar | Rp 98,7 jt | 9% |
| Semarang | Rp 87,2 jt | 8% |
Aku bikin pie chart-nya, terus aku tunjukin ke 8 orang dan minta mereka urutkan Medan, Makassar, dan Semarang dari besar ke kecil, tanpa baca label.
Cuma 3 dari 8 yang bener.
Selisih Medan (11%) dan Makassar (9%) itu Rp 22,6 juta, angka yang nggak kecil. Tapi di pie chart, selisih 2 derajat sudut itu nyaris nggak keliatan.
Aku ganti ke bar chart horizontal yang diurutin. Delapan dari delapan orang bener.
Di angka empat, pembaca mulai kesulitan bandingin potongan yang mirip. Di angka enam, kamu udah kehilangan mereka.
Kalau kamu punya 8 kategori: gabungin yang kecil jadi satu potongan "Lainnya", atau ganti bar chart.
Pie chart nyiratin bahwa semua potongan itu bagian dari 100% yang sama.
Kalau kamu bikin pie dari "jumlah followers per platform", itu salah. Satu orang bisa follow kamu di dua platform sekaligus. Totalnya bukan keseluruhan yang utuh.
Dua pie chart bersebelahan (Q1 dan Q2) itu mimpi buruk buat pembaca. Mereka harus bandingin sudut di dua lingkaran berbeda.
Pakai stacked bar atau grouped bar. Perubahannya langsung keliatan.
Potongan yang di depan kelihatan lebih besar dari aslinya, gara-gara perspektif. Ini bukan pilihan estetika. Ini bikin chart kamu bohong. Pakai 2-D.
Sort data kamu dari besar ke kecil sebelum bikin chart. Potongan terbesar mulai dari jam 12, terus muter searah jarum jam. Ini yang paling gampang diikutin mata.
Enam warna pelangi bikin mata bingung. Kasih satu warna kontras cuma di potongan yang mau kamu tekanin, sisanya abu-abu.
Kalau semua potongan ditarik keluar, nggak ada yang menonjol. Tarik satu doang: yang mau kamu highlight.
Biasanya gara-gara pembulatan. Tambahin satu desimal di format label. Kalau selisihnya besar, cek data kamu. Mungkin ada baris kehitung dobel.
Pie chart bagus itu yang punya satu pesan doang.
Contoh judul yang kerja: "68% omzet masih dari toko offline". Angka besar, satu klaim, dan chart-nya cuma jadi pendukung.
Cara mempertegasnya: warnain potongan offline oranye, potongan online abu-abu. Mata pembaca langsung ke oranye.
Buat nyiapin datanya, SUMIF yang paling sering kepakai buat ngitung total per kategori, dan COUNTIF buat ngitung jumlah barisnya.
Opsi format lengkapnya bisa kamu cek di dokumentasi resmi Microsoft soal pie chart.
Tiga. Di angka empat, pembaca mulai kesulitan bandingin potongan yang ukurannya mirip. Di angka enam, hampir nggak ada yang bisa nebak mana yang lebih besar tanpa baca label. Kalau data kamu punya 8 kategori, gabungin yang kecil-kecil jadi satu potongan Lainnya, atau ganti aja ke bar chart yang diurutin.
Klik chart-nya, klik ikon plus di kanan atas, centang Data Labels, lalu klik panahnya dan pilih More Options. Di panel kanan, centang Percentage dan hapus centang Value kalau kamu cuma mau persen. Kamu juga bisa centang Category Name biar legend-nya nggak perlu. Label langsung nempel di potongannya, dan itu lebih gampang dibaca.
Waktu kamu cuma punya 2-3 kategori, selisihnya jelas, dan kamu mau nekanin bahwa semuanya bagian dari satu keseluruhan. Contohnya 68% penjualan offline, 32% online. Di kasus itu pie langsung ngasih pesan bagian-dari-total yang bar chart nggak sampein sekuat itu. Di luar kasus itu, bar hampir selalu menang.
Biasanya karena pembulatan. Excel bulatin tiap potongan ke bilangan bulat, jadi 33,4% + 33,3% + 33,3% bisa nampil jadi 33% + 33% + 33% = 99%. Solusinya: tambahin satu angka desimal di format label. Kalau selisihnya besar, cek data kamu. Mungkin ada baris yang kehitung dobel atau nilai negatif yang nyelip.
Boleh, tapi masalahnya sama. Donut cuma pie yang tengahnya bolong, dan itu bikin perbandingan sudut malah lebih susah karena yang tersisa cuma panjang busur. Satu-satunya keuntungan donut: lubang di tengah bisa kamu isi angka total. Kalau itu yang kamu butuhin, pakai. Kalau nggak, pie biasa aja.
Buka laporan terakhir kamu. Kalau ada pie chart dengan 6 potongan, ganti jadi bar chart yang diurutin. Lima menit, dan pembacanya langsung ngerti.
Buat milih tipe chart yang tepat di situasi lain, lanjut ke 10 jenis grafik Excel.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Cara pakai rumus FV dan PV Excel buat hitung nilai uang di masa depan dan sekarang. Lengkap dengan contoh tabungan dan target modal UMKM.
Investasi kelihatan untung di atas kertas, tapi nilai uang berubah tiap tahun. NPV dan IRR Excel bantu kamu nilai apakah proyek beneran layak, bukan cuma kelihatan untung.
Sebelum ambil pinjaman, kamu bisa hitung sendiri cicilan bulanannya pakai satu rumus. Ini cara PMT Excel bekerja, lengkap dengan contoh modal usaha dan jebakan bunga tahunan.