TL;DR
Fungsi QUERY Google Sheets adalah rumus yang bikin kamu bisa nyaring, ngurutin, dan ngelompokkan data pakai sintaks mirip SQL, langsung di dalam spreadsheet. Bentuk dasarnya =QUERY(range; "select ... where ... group by ..."; header). Bedanya sama SQL beneran: kolom dipanggil pakai huruf kolom seperti Col1 atau A, bukan nama header.
Fungsi QUERY Google Sheets bikin kamu bisa nyaring, ngurutin, dan ngelompokkan data pakai sintaks mirip SQL, langsung di dalam sel spreadsheet.
Satu rumus QUERY bisa gantiin FILTER + SORT + SUMIFS sekaligus. Dan hasilnya update otomatis begitu data sumbernya berubah.
Yang bikin orang mundur biasanya cuma satu: kolomnya dipanggil pakai huruf, bukan nama header. Setelah lewat itu, sisanya gampang.
QUERY adalah rumus yang ngejalanin bahasa kueri Google Visualization di atas range spreadsheet. Bentuk dasarnya tiga bagian:
=QUERY(range; "kueri"; header)
A1:E500.1 kalau baris pertama nama kolom.Contoh paling sederhana. Ambil semua kolom dari data yang omzetnya di atas 500 ribu:
=QUERY(A1:E500; "select * where D > 500000"; 1)
Catatan pemisah argumen: kalau format spreadsheet kamu Indonesia, pakai titik koma. Kalau format Amerika, pakai koma.
Urutannya nggak bisa diacak. Harus persis kayak gini:
| Klausa | Fungsinya | Contoh |
|---|---|---|
select | Pilih kolom | select A, C, D |
where | Saring baris | where B = 'Depok' |
group by | Kelompokkan | group by B |
order by | Urutkan | order by D desc |
limit | Batasi jumlah baris | limit 10 |
label | Ganti nama header hasil | label sum(D) 'Omzet' |
Fungsi agregasi yang tersedia: sum(), count(), avg(), max(), min().
Konsepnya sama persis dengan GROUP BY di SQL. Kalau kamu udah paham satu, yang lain otomatis kebaca.
Ini yang paling sering dipakai: pivot table dalam satu baris rumus.
=QUERY(A1:E500;
"select B, sum(D)
where D > 0
group by B
order by sum(D) desc
label sum(D) 'Total Omzet'"; 1)
Hasilnya: satu baris per cabang, dengan total omzetnya, urut dari yang paling besar.
Aturan yang sering bikin error: semua kolom di select yang bukan agregasi wajib muncul di group by. Kalau kamu nulis select B, C, sum(D) group by B, QUERY bakal protes karena kolom C nggak jelas mau diapain.
Ini yang bikin QUERY jauh lebih berguna dari pivot table.
Sambung string pakai tanda &:
=QUERY(A1:E500;
"select A, B, D
where B = '"&G1&"'
order by D desc"; 1)
Sekarang sel G1 jadi filter. Taruh dropdown di sana, dan laporanmu jadi interaktif tanpa script apa pun.
Perhatiin kutipnya: nilai teks dibungkus kutip satu, dan seluruh kueri dibungkus kutip dua. Kalau nilainya angka, kutip satunya nggak perlu:
=QUERY(A1:E500; "select A, B, D where D > "&G2; 1)
Data toko_berkah di Google Sheets, 3.842 baris transaksi April 2026. Kolomnya:
A: tanggal B: cabang C: kategori
D: total E: metode_bayar
Pemilik toko minta satu hal: "cabang mana yang jual kategori apa paling banyak, dan berapa duitnya".
Satu rumus:
=QUERY(A1:E3843;
"select B, C, count(A), sum(D)
where D > 0
group by B, C
order by sum(D) desc
limit 10
label count(A) 'Transaksi', sum(D) 'Omzet'"; 1)
Lima baris teratas hasilnya:
| Cabang | Kategori | Transaksi | Omzet |
|---|---|---|---|
| Depok | Sembako | 412 | Rp 38.400.000 |
| Bekasi | Sembako | 389 | Rp 35.100.000 |
| Depok | Minuman | 508 | Rp 21.700.000 |
| Bogor | Sembako | 341 | Rp 31.200.000 |
| Cibubur | Rokok | 187 | Rp 19.800.000 |
Yang menarik: Minuman punya 508 transaksi tapi omzetnya cuma separuh Sembako yang cuma 412 transaksi. Rata-rata belanja minuman Rp 42.700, sembako Rp 93.200.
Artinya: minuman narik orang masuk toko, sembako yang bawa duit. Kalau mau naikin omzet, jangan diskon minuman. Taruh sembako deket kasir.
Insight itu ketemu dalam 2 menit, dari satu rumus.
total isinya angka tapi ada satu sel berisi teks "tidak ada", QUERY bakal buang tipe minoritas dan hasilnya jadi kosong. Ini penyebab error #VALUE! nomor satu.where D > 100, bukan where total > 100. Kecuali datanya dari IMPORTRANGE, di situ kamu pakai Col4.where.select → where → group by → order by → limit. Nggak bisa dibalik.A:E tanpa batas bakal ngitung ribuan baris kosong. Kalau lemot, kasih batas jelas.Daftar lengkap sintaks dan fungsinya ada di dokumentasi resmi Google Query Language.
Nggak. QUERY cuma jalan di satu range.
Kalau butuh gabungin dua tabel, ada dua jalan: gabungin dulu rangenya pakai kurung kurawal {A1:D100; F1:I80}, atau tarik kolom yang kamu butuh pakai VLOOKUP dulu, baru di-QUERY.
Kalau kebutuhan JOIN-nya udah rumit, tiga tabel, kondisi bertingkat, itu sinyal buat pindah ke SQL beneran. Cek definisi JOIN di glossary buat tau kapan batasnya kelewat.
QUERY adalah rumus Google Sheets yang bikin kamu bisa nyaring, ngurutin, dan ngelompokkan data pakai bahasa mirip SQL. Bentuknya =QUERY(range; kueri; header). Satu rumus QUERY bisa gantiin kombinasi FILTER, SORT, dan SUMIFS sekaligus. Rumus ini eksklusif Google Sheets dan nggak ada di Microsoft Excel.
Penyebab paling sering: kolom kamu campur tipe data. Kalau kolom harga isinya angka tapi ada satu sel berisi teks, QUERY bakal buang tipe minoritas dan hasilnya jadi kosong atau error. Penyebab kedua: tanda kutip yang bentrok. Pakai kutip satu untuk nilai di dalam where, kutip dua untuk bungkus kueri.
Sambung string pakai tanda ampersand. Misalnya where B = '"&E1&"' bakal ambil nilai filter dari sel E1. Kalau nilainya teks, tambahin kutip satu di kiri dan kanan hasil sambungan. Cara ini yang bikin QUERY jadi laporan interaktif dengan dropdown filter tanpa perlu script.
Hasilnya mirip, tapi QUERY hidup di dalam sel dan otomatis update begitu data sumbernya berubah. Pivot table perlu refresh manual dan hasilnya nggak bisa dipakai sebagai input rumus lain. QUERY juga lebih gampang di-audit karena logikanya kelihatan sebagai teks.
Nggak bisa langsung. QUERY cuma jalan di satu range. Kalau butuh gabungin data dari dua tabel, gabungin dulu rangenya pakai kurung kurawal, atau tarik kolom yang kamu butuh pakai VLOOKUP sebelum di-QUERY.
Poin pentingnya:
D), bukan nama header.Kalau kamu udah nyaman sama QUERY, langkah berikutnya natural banget: pindah ke SQL. Sintaksnya 80 persen sama. Mulai dari fungsi SELECT.
Lagi mikirin urutan belajar setelah ini? Cek roadmap data scientist 2026.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Cara pakai rumus FV dan PV Excel buat hitung nilai uang di masa depan dan sekarang. Lengkap dengan contoh tabungan dan target modal UMKM.
Investasi kelihatan untung di atas kertas, tapi nilai uang berubah tiap tahun. NPV dan IRR Excel bantu kamu nilai apakah proyek beneran layak, bukan cuma kelihatan untung.
Sebelum ambil pinjaman, kamu bisa hitung sendiri cicilan bulanannya pakai satu rumus. Ini cara PMT Excel bekerja, lengkap dengan contoh modal usaha dan jebakan bunga tahunan.