Pie Chart: Kapan Boleh Dipakai dan Kapan Harus Dihindari
Blog/Dashboard & Visualisasi/Pie Chart: Kapan Boleh Dipakai dan Kapan Harus Dihindari

Pie Chart: Kapan Boleh Dipakai dan Kapan Harus Dihindari

BimaBima
·31 Mei 2026·8 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Pie chart cuma layak dipakai kalau memenuhi tiga syarat: maksimal 5 kategori, semua bagiannya nambah jadi 100 persen, dan bedanya antar bagian cukup jelas. Di luar itu, bar chart hampir selalu lebih gampang dibaca karena mata manusia lebih akurat ngebandingin panjang daripada sudut. Pie 3D dan pie yang dibanding-bandingin berdampingan sebaiknya dihindari sepenuhnya.

Pie chart layak dipakai kalau tiga syarat kepenuhan: kategorinya maksimal 5, semuanya nambah jadi 100%, dan bedanya antar slice cukup jelas.

Kalau salah satu gak kepenuhan, ganti bar chart. Sesederhana itu.

Masalahnya, pie chart di laporan kantor biasanya gagal di ketiganya sekaligus. Dua belas slice, warnanya pelangi, tiga di antaranya tipis kayak benang, dan ada label yang nunjuk keluar pakai garis panjang.

Kenapa pie chart susah dibaca?

Mata manusia jelek ngebandingin sudut. Itu inti masalahnya.

Coba tes sendiri. Bikin pie chart dengan slice 22%, 25%, dan 24%. Sekarang tutup labelnya. Mana yang paling gede?

Kamu gak bakal bisa jawab dengan yakin. Sekarang taruh tiga angka yang sama sebagai bar chart — langsung kelihatan.

Ini bukan opini. Riset persepsi visual Cleveland dan McGill tahun 1984 ngukur akurasi orang baca berbagai bentuk chart. Urutannya, dari yang paling akurat: posisi di skala yang sama, panjang, sudut, luas, warna. Sudut dan luas — dua hal yang justru dipakai pie chart — ada di bagian bawah daftar.

Buat bacaan lanjutan soal prinsip ini, Data to Viz punya halaman khusus soal caveat pie chart lengkap dengan perbandingan visualnya.

Kapan pie chart beneran cocok?

Ada kasusnya. Tiga syarat, semuanya harus kepenuhan.

Syarat 1: maksimal 5 kategori. Lebih dari itu, slice-nya jadi tipis dan labelnya tumpang tindih.

Syarat 2: semua bagian nambah jadi 100%. Pie chart ngomong "ini pembagian dari satu kesatuan". Kalau angkamu bukan bagian dari satu total, pie chart bohong.

Syarat 3: bedanya cukup jelas. 60/30/10 kebaca. 34/33/33 gak ada gunanya digambar — mending tulis angkanya aja.

Contoh yang lolos ketiganya:

  • Komposisi metode bayar: tunai 62%, QRIS 28%, transfer 10%
  • Pembagian budget marketing ke 4 kanal
  • Proporsi pelanggan baru vs lama: 35% vs 65%

Contoh yang gagal:

  • Penjualan per 14 kategori produk (kebanyakan)
  • Omzet per bulan (bukan bagian dari satu kesatuan — itu deret waktu, pakai line chart)
  • Hasil survei multi-pilih di mana responden bisa milih lebih dari satu (totalnya lebih dari 100%)

Yang ketiga itu error yang sering banget kejadian. Kalau totalnya 137%, pie chart-nya secara harfiah salah.

Kenapa pie chart 3D harus dihindari?

Efek 3D bikin slice yang di depan kelihatan lebih gede dari yang di belakang — padahal nilainya bisa sama, atau bahkan lebih kecil.

Bukan ilusi ringan. Slice 25% yang ditaruh di depan bisa kelihatan setara sama slice 35% di belakang, gara-gara sisi tebalnya keliatan.

Dan gak ada yang kamu dapat sebagai gantinya. Nol informasi tambahan, tapi akurasinya rusak.

Kalau ada yang minta pie 3D, cara paling cepat ngeyakinin mereka: bikin pie 3D dengan dua slice yang nilainya persis sama, taruh satu di depan satu di belakang. Tunjukin. Biasanya diskusinya selesai di situ.

Kesalahan umum di pie chart

1. Bandingin dua pie chart berdampingan. "Ini komposisi 2025, ini 2026, lihat perubahannya." Gak ada yang bisa lihat perubahannya. Mata harus ngukur sudut di dua lingkaran terpisah lalu ngurangin. Pakai slope chart atau grouped bar chart.

2. Slice-nya gak diurutin. Pie chart yang bener mulai dari jam 12, slice terbesar duluan, lalu ngecil searah jarum jam. Slice yang diacak bikin pembaca kerja dua kali.

3. Kasih warna beda ke tiap slice tanpa alasan. Kalau kamu mau nyorot satu kategori, kasih warna ke satu itu aja, sisanya abu-abu. Pelangi 12 warna bikin mata bingung mau lihat mana.

4. Slice "Lainnya" jadi yang paling gede. Kalau "Lainnya" 40%, pie chart-nya gak ngomong apa-apa. Pecah kategorinya lagi.

5. Nampilin persentase sampai 2 desimal. "23,47%" di pie chart. Nggak ada yang butuh presisi segitu dari gambar. Bulatkan.

Contoh kasus: pie chart yang nyembunyiin masalah

Ini dari data toko_berkah — 6 cabang toko kelontong di Bekasi, penjualan kuartal 1 2026.

Laporan awalnya pakai pie chart penjualan per kategori produk. Ada 11 slice. Ini yang muncul:

KategoriPorsi
Sembako31%
Minuman18%
Rokok16%
Snack11%
Perlengkapan mandi7%
Bumbu dapur6%
6 kategori lainmasing-masing 1–4%

Enam slice terbawah itu jadi irisan tipis yang labelnya nunjuk keluar pakai garis-garis panjang. Gak kebaca sama sekali.

Waktu aku ganti jadi bar chart horizontal terurut, ada satu hal yang langsung nongol dan sebelumnya kelewat: kategori "Perlengkapan mandi" (7%) ternyata nyumbang Rp 117 juta omzet kuartal, dan margin-nya 34% — tertinggi dari semua kategori.

Bandingin sama Sembako yang porsinya 31% tapi margin-nya cuma 8%.

Dalam rupiah laba kotor: Sembako Rp 41 juta, Perlengkapan mandi Rp 40 juta. Nyaris sama.

Di pie chart, Sembako kelihatan raksasa dan Perlengkapan mandi kelihatan gak penting. Di bar chart, keduanya duduk berdampingan dan pertanyaannya langsung muncul: kenapa gak dorong lebih banyak produk margin tinggi?

Chart-nya gak ngasih data baru. Cuma bikin data yang udah ada jadi keliatan.

Apa penggantinya?

Pilihan pertama hampir selalu bar chart horizontal, diurutin dari besar ke kecil.

Kenapa horizontal? Label kategori muat tanpa harus dimiringkan. Coba tulis "Perlengkapan mandi" di sumbu X bar chart vertikal — pasti kepotong atau miring 45 derajat.

Kalau kamu beneran perlu nekanin bahwa semuanya menyatu jadi 100%, pakai stacked bar satu batang. Satu batang horizontal, dipecah jadi segmen. Kebaca, dan tetap ngomong "ini satu kesatuan".

Buat satu angka persentase tunggal — "68% target tercapai" — donut chart dengan angka besar di tengah masih oke. Di sini gambarnya cuma dekorasi, angkanya yang kerja.

Buat perbandingan komposisi antar waktu, pakai stacked area chart atau slope chart. Jangan dua pie berdampingan.

Kalau kamu lagi milih-milih chart buat dashboard, ada panduan jenis-jenis chart yang ngebahas kapan pakai apa. Dan istilah dasarnya ada di glossary visualisasi data.

FAQ

Kapan pie chart boleh dipakai?

Kalau tiga syarat kepenuhan sekaligus: kategorinya maksimal 5, semua bagiannya nambah jadi 100% dari satu kesatuan, dan bedanya antar bagian cukup jelas. Contoh yang pas: komposisi 3 metode pembayaran, atau pembagian budget ke 4 pos. Kalau salah satu syarat gak kepenuhan, ganti bar chart.

Kenapa pie chart sering dikritik ahli visualisasi?

Karena mata manusia jelek ngebandingin sudut dan luas. Riset persepsi visual Cleveland dan McGill nunjukkin panjang batang jauh lebih akurat dibaca daripada sudut lingkaran. Efeknya, dua slice yang bedanya 3% kelihatan sama persis di pie chart, tapi bedanya langsung kentara di bar chart.

Berapa maksimal kategori di pie chart?

Lima. Lebih dari itu, slice-nya jadi terlalu tipis, label mulai tumpang tindih, dan pembaca akhirnya cuma baca angkanya bukan gambarnya. Kalau kategorimu ada 12, gabungin yang kecil jadi satu slice "Lainnya" — atau lebih baik, pakai bar chart horizontal yang diurutkan.

Boleh gak pakai pie chart 3D?

Jangan. Efek 3D bikin slice yang di depan kelihatan lebih besar dari yang di belakang, padahal nilainya bisa sama. Ini distorsi yang bikin pembaca salah baca proporsi, dan gak ada manfaat apa pun sebagai gantinya. Kalau bosnya minta, tunjukin dua slice bernilai sama yang kelihatan beda gede karena posisinya.

Apa alternatif terbaik pengganti pie chart?

Bar chart horizontal yang diurutin dari nilai terbesar. Panjang batang gampang dibandingin, label muat tanpa dimiringkan, dan kamu bisa nampilin 15 kategori tanpa masalah. Kalau tetap perlu nunjukin semuanya menyatu jadi 100%, pakai stacked bar satu batang.

Penutup

Tiga hal buat dibawa pulang.

Pie chart lolos kalau: maksimal 5 slice, totalnya 100%, dan bedanya jelas. Gagal satu syarat, ganti bar chart.

Pie 3D dan dua pie berdampingan — dua-duanya bikin pembaca salah baca. Hindari sepenuhnya.

Dan chart yang bener bukan cuma soal estetika. Di kasus toko_berkah di atas, ganti chart doang udah cukup buat nemuin kategori margin tinggi yang selama ini gak dilirik.

Lagi bangun dashboard? Cek panduan memilih jenis chart — di situ ada pohon keputusannya, tinggal ikutin.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel Terkait

Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard & Visualisasi
12 Juli 2026•9 menit baca

Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan

Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets — tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.

BimaBima
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard & Visualisasi
9 Juli 2026•8 menit baca

Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana

Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.

BimaBima
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Dashboard & Visualisasi
6 Juli 2026•9 menit baca

KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan

Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

Copyright © 2026 - All rights reserved

LINKS
SupportPricingDatasetBlogAffiliates
LEGAL
Terms of servicesPrivacy policy
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore