KPI Marketing: 12 Metrik Wajib di Dashboard Kamu
TL;DR
KPI marketing yang wajib ada di dashboard dibagi tiga kelompok: metrik biaya (CAC, ROAS, CPC), metrik konversi (conversion rate, CTR, cart abandonment), dan metrik nilai pelanggan (LTV, AOV, repeat purchase rate, churn). Angka yang paling nentuin sehat atau nggaknya bisnis adalah rasio LTV terhadap CAC — idealnya minimal 3 banding 1. Dashboard yang berguna cukup nampilin 5 sampai 7 metrik, bukan semuanya sekaligus.
KPI marketing yang berguna cuma yang bisa bikin kamu ubah keputusan minggu depan. Sisanya cuma angka buat dipamerin di rapat.
Ada belasan metrik yang biasa dipajang di dashboard marketing. Tapi kalau dashboard kamu nampilin 20 angka sekaligus, orang bakal berhenti baca setelah minggu kedua.
Aku bahas 12 KPI yang paling sering dipakai, lengkap sama rumus dan angka pembandingnya. Di bagian akhir aku pilihin 5 yang harus ada kalau kamu cuma boleh punya satu layar.
Kelompok 1: KPI biaya — berapa yang kamu keluarin
1. CAC (Customer Acquisition Cost)
Biaya buat dapetin satu customer baru yang beneran beli.
CAC = Total biaya marketing ÷ Jumlah customer baru
Contoh: belanja iklan Rp 15.000.000 sebulan, dapet 250 customer baru. CAC = Rp 60.000.
Yang sering dilupain: masukin gaji tim marketing dan biaya tool ke total biayanya. CAC yang cuma ngitung belanja iklan itu terlalu optimis.
2. ROAS (Return on Ad Spend)
Tiap Rp 1 iklan, balik jadi berapa rupiah omzet.
ROAS = Omzet dari iklan ÷ Biaya iklan
Belanja iklan Rp 15 juta, omzetnya Rp 60 juta? ROAS = 4.
Angka ROAS gak ada artinya tanpa margin. ROAS 4 dengan margin kotor 25 persen artinya kamu balik modal doang. ROAS 4 dengan margin 60 persen artinya kamu untung tebal.
3. CPC (Cost per Click)
Biaya rata-rata per klik iklan. Berguna buat optimasi harian, bukan buat lapor ke bos.
CPC murah tapi CAC mahal artinya iklannya narik banyak orang yang gak niat beli. Cek target audiensnya.
4. Marketing spend ratio
Berapa persen omzet yang kamu belanjain buat marketing.
Spend ratio = Biaya marketing ÷ Omzet total × 100%
Toko online Indonesia yang aku lihat biasanya di 8–20 persen. Di atas 25 persen dan bisnisnya belum tumbuh cepat, itu lampu kuning.
Kelompok 2: KPI konversi — berapa yang jadi beli
5. Conversion rate
Berapa persen pengunjung yang berakhir jadi pembeli.
Conversion rate = Jumlah pesanan ÷ Jumlah sesi × 100%
Buat toko online Indonesia, 1–3 persen itu normal. Di bawah 0,5 persen biasanya ada masalah di halaman produk atau proses checkout.
Yang penting: pecah per channel. Angka total nyembunyiin channel yang jelek.
SELECT
ch.channel,
COUNT(DISTINCT s.session_id) AS sesi,
COUNT(DISTINCT o.order_id) AS pesanan,
ROUND(100.0 * COUNT(DISTINCT o.order_id)
/ NULLIF(COUNT(DISTINCT s.session_id), 0), 2) AS conversion_rate_persen
FROM sesi AS s
JOIN channel AS ch ON ch.id_channel = s.id_channel
LEFT JOIN pesanan AS o ON o.session_id = s.session_id
WHERE s.tanggal BETWEEN '2026-05-01' AND '2026-05-31'
GROUP BY ch.channel
ORDER BY conversion_rate_persen DESC;
NULLIF di situ buat jaga-jaga kalau ada channel dengan 0 sesi — tanpa itu query-nya error division by zero.
6. CTR (Click-Through Rate)
Berapa persen orang yang lihat iklan terus ngeklik.
CTR rendah artinya materi iklannya gak menarik atau audiensnya salah. Ini metrik diagnosa, bukan metrik hasil.
7. Cart abandonment rate
Berapa persen orang yang masukin barang ke keranjang tapi gak checkout.
Abandonment = (1 - Checkout ÷ Add to cart) × 100%
Angka 60–75 persen itu normal di e-commerce. Kalau kamu di atas 85 persen, cek ongkir dan jumlah langkah checkout — dua itu penyebab paling sering.
8. Lead-to-customer rate
Buat bisnis yang jualannya lewat chat (banyak di Indonesia): berapa persen orang yang nanya di WhatsApp berakhir beli.
Ini KPI yang sering gak kepantau padahal paling penting buat bisnis yang closing-nya manual.
Kelompok 3: KPI nilai pelanggan — seberapa berharga mereka
9. AOV (Average Order Value)
Rata-rata nilai belanja per pesanan.
AOV = Total omzet ÷ Jumlah pesanan
Naikin AOV 15 persen sering lebih gampang daripada naikin traffic 15 persen. Caranya: bundling, gratis ongkir di atas nominal tertentu, atau rekomendasi produk pelengkap.
10. LTV (Lifetime Value)
Total uang yang dihabisin satu customer selama jadi pelanggan kamu.
LTV = AOV × Frekuensi beli per tahun × Rata-rata tahun bertahan
Ini metrik yang paling nentuin. Karena LTV yang dibandingin sama CAC:
LTV : CAC minimal 3 : 1
Di bawah 1:1, tiap customer baru bikin kamu rugi. Di atas 5:1, kamu mungkin kurang agresif belanja iklan.
11. Repeat purchase rate
Berapa persen customer yang beli lebih dari sekali.
SELECT
ROUND(AVG(total_belanja)) AS aov,
ROUND(100.0 * SUM(CASE WHEN jumlah_order > 1 THEN 1 ELSE 0 END)
/ COUNT(*), 1) AS repeat_rate_persen
FROM (
SELECT
id_customer,
COUNT(*) AS jumlah_order,
SUM(total_harga) AS total_belanja
FROM pesanan
WHERE tanggal >= '2026-01-01'
GROUP BY id_customer
) AS per_customer;
Pola CASE WHEN di dalam SUM itu cara ngitung baris yang memenuhi syarat. Ini trik yang bakal kamu pakai terus. Kalau belum paham, cek CASE WHEN.
12. Churn rate
Berapa persen customer yang berhenti beli dalam periode tertentu.
Buat toko ritel, definisinya biasanya: gak beli lagi dalam 90 hari. Buat langganan, lebih tegas: berhenti bayar.
Contoh kasus: dashboard toko_berkah online
toko_berkah buka toko online Januari 2026. Ini angka 5 bulan pertamanya:
| Metrik | Angka | Catatan |
|---|---|---|
| Belanja iklan (5 bulan) | Rp 47.500.000 | Meta + TikTok Ads |
| Customer baru | 1.184 | |
| CAC | Rp 40.100 | |
| AOV | Rp 187.000 | |
| Repeat purchase rate | 23% | Rendah |
| Frekuensi beli / tahun | 1,6x | |
| LTV (est. 1,5 tahun) | Rp 449.000 | |
| LTV : CAC | 11 : 1 | Kelihatan bagus banget |
Rasio 11:1 itu kelihatan hebat. Tapi begitu dipecah per channel, ceritanya beda:
| Channel | Belanja | Customer | CAC | AOV | Repeat rate |
|---|---|---|---|---|---|
| Meta Ads | Rp 31.200.000 | 612 | Rp 51.000 | Rp 214.000 | 31% |
| TikTok Ads | Rp 16.300.000 | 572 | Rp 28.500 | Rp 158.000 | 14% |
TikTok CAC-nya lebih murah 44 persen — kelihatan menang. Tapi customer dari TikTok belanja lebih kecil dan cuma 14 persen yang balik lagi.
Hitung LTV per channel dan urutannya kebalik: LTV customer Meta Rp 597.000, TikTok cuma Rp 292.000. Rasio LTV:CAC-nya jadi 11,7:1 buat Meta dan 10,2:1 buat TikTok.
Selisihnya tipis, jadi dua-duanya layak diterusin. Tapi kalau owner cuma lihat CAC, dia bakal mindahin semua budget ke TikTok — dan omzet jangka panjangnya turun.
Inilah kenapa CAC gak boleh dibaca sendirian.
Kalau cuma boleh 5 metrik, pilih yang mana?
Ini yang aku taruh di layar utama:
- CAC — dipecah per channel. Ini yang bikin kamu tau channel mana yang dimatiin.
- LTV : CAC — satu angka yang ngasih tau bisnisnya sehat atau nggak.
- Conversion rate — dipecah per channel juga.
- AOV — karena ini paling gampang dinaikin tanpa nambah budget.
- Repeat purchase rate — sinyal paling awal kalau produk atau layanan kamu bermasalah.
Sisanya taruh di halaman detail. Bisa diklik kalau ada yang mau nyelam lebih dalam.
Kesalahan umum di dashboard KPI marketing
Nampilin 20 metrik sekaligus. Dashboard yang gak bisa dibaca dalam 30 detik gak bakal dibuka lagi. Tiga bulan kemudian gak ada yang tau kalau angkanya udah rusak.
Baca CAC tanpa LTV. Channel dengan CAC termurah bisa jadi channel yang customer-nya paling gak setia. Kasus toko_berkah di atas contohnya.
Nge-rata-rata semua channel jadi satu angka. Conversion rate 2 persen bisa berarti Meta 4 persen dan TikTok 0,4 persen. Angka rata-ratanya gak bisa ditindaklanjuti.
Ngecek metrik lambat tiap hari. LTV dan churn bergerak lambat. Ngeliatnya tiap hari cuma bikin kamu bereaksi sama noise.
Gak nulis definisi metriknya. "Customer baru" itu yang pertama daftar atau yang pertama beli? Tanpa definisi tertulis, dua orang di tim bakal bawa angka beda ke rapat yang sama.
FAQ
Berapa KPI marketing yang ideal di satu dashboard?
Lima sampai tujuh. Lebih dari itu orang berhenti baca dan dashboard-nya jadi pajangan. Aturan yang aku pakai: satu metrik biaya (CAC atau ROAS), satu metrik konversi, satu metrik nilai pelanggan (LTV atau AOV), satu metrik volume (traffic atau pesanan), dan satu metrik retensi. Sisanya taruh di halaman detail yang bisa diklik kalau ada yang mau lihat.
LTV banding CAC yang sehat berapa?
Patokan umum di industri: minimal 3 banding 1. Artinya tiap Rp 1 yang kamu keluarin buat dapetin customer, dia balikin minimal Rp 3 seumur hidupnya jadi pelanggan. Kalau di bawah 1, tiap customer baru bikin kamu rugi. Kalau di atas 5, kemungkinan kamu terlalu pelit belanja iklan dan lagi ninggalin potensi pertumbuhan.
ROAS 4 itu bagus atau jelek?
Tergantung margin kamu. ROAS 4 artinya tiap Rp 1 iklan balik Rp 4 omzet. Kalau margin kotor kamu 30 persen, dari Rp 4 itu cuma Rp 1,2 yang jadi profit — tipis banget setelah dikurang biaya lain. Kalau margin kamu 60 persen, ROAS 4 itu sehat. Selalu bandingin ROAS sama margin, jangan sama benchmark orang lain.
Bedanya CAC sama CPC apa?
CPC adalah biaya per klik iklan. CAC adalah biaya total buat dapetin satu customer yang beneran beli. CPC bisa murah tapi CAC mahal, kalau yang ngeklik banyak tapi yang beli dikit. CPC berguna buat optimasi iklan harian, CAC berguna buat mutusin apakah channel-nya layak diterusin. Yang dilaporin ke bos itu CAC, bukan CPC.
Metrik mana yang harus dicek tiap hari?
Cuma yang bisa kamu tindaklanjuti hari itu juga: pengeluaran iklan, jumlah pesanan, dan conversion rate. Sisanya kayak LTV dan churn bergerak lambat — cek bulanan aja. Ngecek LTV tiap hari cuma bikin kamu panik sama noise. Aturannya: kalau angkanya gak bakal bikin kamu ubah apa pun hari ini, jangan taruh di laporan harian.
Penutup
Tiga hal yang paling penting dari semua di atas:
- Rasio LTV:CAC adalah satu angka yang paling jujur soal sehat atau nggaknya marketing kamu. Target minimal 3:1.
- Semua metrik biaya harus dipecah per channel. Angka gabungan nyembunyiin masalah.
- Dashboard yang dipakai itu yang isinya 5–7 angka, bukan yang isinya semua.
Semua query di artikel ini pakai GROUP BY, JOIN, dan CASE WHEN. Kalau kamu mau bisa ngitung KPI ini sendiri tanpa nunggu tim data, latihan tiga hal itu dulu di NgulikSQL.
Lanjut baca: Automasi Laporan Mingguan dengan AI — gimana KPI ini dikirim otomatis tiap Senin pagi.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Artikel Terkait
Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets — tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.