Jenis-jenis Chart: 15 Grafik dan Kapan Harus Dipakai
Blog/Dashboard & Visualisasi/Jenis-jenis Chart: 15 Grafik dan Kapan Harus Dipakai

Jenis-jenis Chart: 15 Grafik dan Kapan Harus Dipakai

BimaBima
·22 Mei 2026·10 menit baca

Penulis

Bima

Bima

Founder & Data Professional

Bagikan

TL;DR

Jenis chart yang kamu pilih ditentuin sama pertanyaan yang mau dijawab, bukan sama tampilannya. Bar chart buat banding antar kategori, line chart buat tren waktu, scatter plot buat cari hubungan dua variabel, dan stacked bar buat komposisi. Pie chart cuma layak kalau kategorinya di bawah 5, dan pie chart 3D sebaiknya jangan dipakai sama sekali karena efek kedalamannya bikin porsi kelihatan salah.

Jenis chart yang kamu pilih ditentuin sama pertanyaan yang mau dijawab, bukan sama chart mana yang paling keren.

Ada empat pertanyaan dasar: banding antar kategori, lihat tren waktu, cari hubungan dua variabel, atau lihat komposisi. Tiap pertanyaan punya chart yang paling pas.

Di bawah ini 15 chart yang paling sering kepakai, lengkap sama kapan dipilih dan kapan sebaiknya dihindari. Ditutup sama 4 chart yang menurut aku nggak usah dipakai sama sekali.

Gimana Cara Milih Jenis Chart yang Bener?

Jawab satu pertanyaan ini dulu: apa yang mau kamu tunjukin?

TujuanChart yang dipakai
Banding antar kategoriBar chart, column chart
Tren dari waktu ke waktuLine chart, area chart
Hubungan dua variabelScatter plot, bubble chart
Komposisi / porsiStacked bar, treemap, pie (max 5 kategori)
Sebaran dataHistogram, box plot
Pola di dua dimensiHeatmap
Perubahan bertahapWaterfall chart

Kalau kamu bingung mau pakai chart mana, pertanyaannya yang belum jelas. Bukan chart-nya.

1. Bar Chart

Batang horizontal buat bandingin nilai antar kategori. Ini chart paling gampang dibaca manusia, titik.

Pakai kalau: nama kategorinya panjang, atau kategorinya lebih dari 7.

Aturan wajib: urutin dari besar ke kecil, dan mulai sumbu dari nol. Kalau nggak dari nol, perbedaannya bakal kelihatan berlebihan.

2. Column Chart

Sama kayak bar chart, tapi batangnya vertikal.

Pakai kalau: nama kategorinya pendek (Jan, Feb, Mar) atau datanya punya urutan waktu.

3. Line Chart

Chart utama buat tren waktu. Titik dihubungin garis, jadi naik-turunnya langsung kebaca.

Pakai kalau: kamu punya lebih dari 7 titik waktu.

Batas aman: max 4 garis dalam satu chart. Lebih dari itu jadi benang kusut.

4. Area Chart

Line chart dengan area di bawahnya diwarnain. Nunjukin tren sekaligus volume.

Hati-hati: kalau kamu tumpuk beberapa area, cuma area paling bawah yang gampang dibaca. Sisanya susah.

5. Stacked Bar Chart

Batang yang dibagi jadi beberapa segmen. Nunjukin total sekaligus komposisinya.

Pakai kalau: kamu mau nunjukin total per kategori plus rinciannya.

Kelemahan: segmen yang nggak nempel di garis dasar susah dibandingin antar batang.

6. 100% Stacked Bar

Semua batang tingginya sama (100%), yang beda cuma proporsi segmennya.

Pakai kalau: kamu peduli sama proporsi, bukan total. Misal: persentase pelanggan baru vs lama per bulan.

7. Grouped Bar Chart

Beberapa batang berdampingan per kategori. Buat bandingin dua atau tiga kelompok sekaligus.

Batas: max 3 kelompok. Empat ke atas, mata orang capek.

8. Scatter Plot

Titik-titik di dua sumbu. Buat lihat apakah dua variabel bergerak bareng.

Pakai kalau: kamu curiga ada hubungan, misal harga vs jumlah terjual.

Ingat: pola yang kelihatan nggak berarti sebab-akibat. Lihat glossary korelasi.

9. Bubble Chart

Scatter plot dengan ukuran titik jadi variabel ketiga.

Hati-hati: orang cenderung baca diameter, bukan luas. Ini bikin perbedaan ukuran kelihatan lebih ekstrem dari aslinya.

10. Histogram

Nunjukin sebaran satu variabel angka. Batangnya nempel karena datanya bersambung.

Pakai kalau: kamu mau tau bentuk sebaran data. Ada outlier? Miring ke kanan? Ini yang jawab.

Ini beda dari bar chart. Bar chart bandingin kategori terpisah, histogram nunjukin sebaran angka.

11. Box Plot

Nunjukin median, kuartil, dan outlier dalam satu kotak.

Pakai kalau: kamu bandingin sebaran antar beberapa kelompok. Contoh: sebaran nilai transaksi di 5 cabang.

Kelemahan: audiens bisnis sering nggak familiar. Kasih penjelasan singkat kalau mau dipakai di presentasi.

12. Heatmap

Grid dengan warna yang nunjukin intensitas nilai.

Pakai kalau: kamu punya data di dua dimensi, misal jam vs hari. Pola padat langsung kelihatan.

Contoh yang berguna: jam berapa toko paling ramai, per hari dalam seminggu.

13. Waterfall Chart

Nunjukin gimana satu angka berubah lewat serangkaian tambahan dan pengurangan.

Pakai kalau: kamu jelasin dari omzet kotor sampai laba bersih, atau kenapa target meleset.

14. Treemap

Kotak-kotak bersarang, ukurannya sesuai nilai.

Pakai kalau: kategorinya banyak (di atas 15) dan kamu cuma mau nunjukin mana yang gede.

Kelemahan: susah bandingin dua kotak yang ukurannya mirip.

15. Gauge Chart

Jarum penunjuk kayak spidometer. Nunjukin satu angka terhadap target.

Pakai kalau: ada satu KPI utama yang punya target jelas.

Jujur aja: angka besar dengan teks "82% dari target" biasanya lebih jelas dan makan tempat lebih sedikit.

4 Chart yang Sebaiknya Kamu Tinggalin

Pie chart 3D. Efek kemiringannya bikin potongan yang di depan kelihatan lebih besar dari aslinya. Ini bukan preferensi, ini distorsi visual.

Donut chart dengan 10 kategori. Sama kayak pie chart, ditambah lubang di tengah yang bikin sudutnya makin susah dibaca.

Radar chart. Kelihatan canggih, tapi hampir nggak ada orang yang bisa baca dengan bener. Ganti pakai bar chart.

Bar chart 3D. Kedalaman palsu bikin orang salah baca tinggi batangnya. Nggak ada satu pun keuntungan dibanding versi 2D.

Contoh Kasus: Chart Salah Pilih di Toko Berkah

Dataset toko_berkah punya Ngulik Data isinya 8.400 transaksi warung kelontong di Semarang, 142 produk, Januari–Maret 2026.

Pemiliknya bikin pie chart buat nunjukin omzet per kategori produk. Ada 12 kategori.

Hasilnya: 5 potongan terkecil masing-masing di bawah 3%, dan legendanya makan setengah layar. Nggak ada satu pun kesimpulan yang bisa diambil dari situ.

Aku ganti pakai bar chart horizontal, diurutin dari besar ke kecil. Langsung kelihatan.

KategoriOmzet 3 bulanPorsi
SembakoRp 61,2 juta34,8%
Minuman instanRp 38,4 juta21,8%
Makanan ringanRp 27,1 juta15,4%
Perlengkapan mandiRp 19,8 juta11,3%
8 kategori lainRp 29,4 juta16,7%

Angka yang bikin kaget: 4 kategori teratas nyumbang 83,3% omzet. Delapan kategori sisanya cuma 16,7%.

Di pie chart, temuan ini kelewat. Di bar chart yang terurut, langsung kelihatan dalam 2 detik.

Pelajaran: chart bukan dekorasi laporan. Chart itu alat baca.

Kesalahan Umum Waktu Bikin Chart

Sumbu Y nggak mulai dari nol di bar chart. Ini bikin selisih kecil kelihatan dramatis. Buat line chart boleh nggak dari nol, buat bar chart wajib.

Terlalu banyak warna. Kalau tiap batang beda warna, warnanya jadi nggak berarti apa-apa. Pakai satu warna, sorot satu batang yang penting pakai warna aksen.

Kategori nggak diurutin. Bar chart yang urutannya acak susah dibaca. Urutin dari besar ke kecil, kecuali kategorinya punya urutan alami (bulan, tingkat pendidikan).

Judul chart cuma label. "Grafik Omzet Bulanan" nggak ngasih info apa-apa. "Omzet Turun 12% di Maret" langsung nyampein poinnya.

Nampilin 12 chart dalam satu dashboard. Orang bakal scroll dan nggak baca satu pun. Empat sampai enam chart, itu batasnya.

FAQ

Jenis chart apa yang paling sering dipakai data analyst?

Bar chart dan line chart. Dua ini yang nyelesain sebagian besar kebutuhan sehari-hari: banding antar kategori dan lihat tren dari waktu ke waktu. Dari dashboard yang aku bikin, sekitar 70% chart-nya cuma bar atau line. Chart yang lebih rumit kayak sankey atau treemap kepakai jarang, dan biasanya cuma bikin orang bingung kalau dipaksain.

Kapan boleh pakai pie chart?

Cuma kalau kategorinya di bawah 5 dan kamu mau nunjukin porsi dari satu keseluruhan. Di atas 5 kategori, mata manusia susah bandingin sudut lingkaran yang mirip. Ganti pakai bar chart horizontal yang diurutin dari besar ke kecil. Dan jangan pernah pakai pie chart 3D, karena kemiringannya bikin potongan depan kelihatan lebih besar dari aslinya.

Bedanya bar chart sama histogram apa?

Bar chart bandingin nilai antar kategori yang terpisah, misalnya omzet per kota. Histogram nunjukin sebaran satu variabel angka, misalnya berapa banyak transaksi yang nilainya antara 10 sampai 20 ribu. Ciri visualnya: batang histogram nempel tanpa jarak karena datanya bersambung, sementara batang bar chart ada jaraknya.

Chart apa yang cocok buat nunjukin tren waktu?

Line chart, hampir selalu. Dia paling gampang dibaca buat lihat naik-turun sepanjang waktu. Kalau kamu mau nunjukin volume total sekaligus, pakai area chart. Kalau titik waktunya cuma sedikit, misalnya 4 kuartal, bar chart juga masih oke. Yang harus dihindari: pie chart buat data waktu, karena dia sama sekali nggak bisa nunjukin urutan.

Berapa chart maksimal dalam satu dashboard?

Empat sampai enam. Lebih dari itu, orang berhenti baca dan cuma scroll. Susun dari atas: angka besar dulu (total omzet, jumlah transaksi), baru tren, baru rincian per kategori. Kasih judul yang berupa kesimpulan, bukan label. "Omzet Turun 12% di Maret" jauh lebih berguna ketimbang "Grafik Omzet Bulanan".

Penutup

Tiga hal yang perlu kamu inget.

Mulai dari pertanyaan, baru pilih chart. Kalau kamu bingung mau pakai chart apa, artinya pertanyaannya belum jelas.

Bar chart dan line chart nyelesain 70% kebutuhan. Chart eksotis jarang bikin orang lebih ngerti.

Bar chart terurut ngalahin pie chart di hampir semua situasi — kasus toko_berkah di atas buktinya.

Mau langsung praktek bikin dashboard? Kamu bisa mulai dari Looker Studio yang gratis. Kalau data kamu masih di spreadsheet, cek dulu panduan pivot table buat nyiapin datanya, atau baca kurikulum belajar data analyst dari nol kalau kamu baru mulai.

Coba Langsung

Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis

Latihan interaktif, langsung di browser.

Buka NgulikSQL →
Bagikan:
Bima
Ditulis oleh

Bima

Founder & Data Professional

Founder Ngulik Data. Passionate about making data analysis accessible for everyone.

Artikel Terkait

Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan
Dashboard & Visualisasi
12 Juli 2026•9 menit baca

Cara Membuat Dashboard di Google Sheets Tanpa Tools Tambahan

Dashboard penjualan yang rapi bisa kamu bikin cuma pakai Google Sheets — tanpa Looker Studio, tanpa add-on, tanpa bayar apa pun. Ini urutan 6 langkahnya, lengkap dengan rumusnya.

BimaBima
Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana
Dashboard & Visualisasi
9 Juli 2026•8 menit baca

Dashboard vs Laporan: Bedanya dan Kapan Bikin yang Mana

Dashboard buat mantau angka yang berubah tiap hari. Laporan buat jawab satu pertanyaan sekali dan tuntas. Salah pilih, kerjaanmu kebuang.

BimaBima
KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan
Dashboard & Visualisasi
6 Juli 2026•9 menit baca

KPI Keuangan: Metrik yang Dibaca CFO Setiap Bulan

Delapan KPI keuangan yang beneran dibuka CFO tiap bulan, rumusnya, dan cara nyusunnya jadi satu dashboard yang kebaca dalam 90 detik.

BimaBima
Kembali ke Blog
Ngulik Data logoNgulik Data

Platform edukasi data lengkap untuk professionals Indonesia. Belajar SQL, Data Analysis, dan lebih banyak lagi dengan praktek langsung dan feedback real-time.

Copyright © 2026 - All rights reserved

LINKS
SupportPricingDatasetBlogAffiliates
LEGAL
Terms of servicesPrivacy policy
Ngulik Data
DatasetLeaderboardBlogStore