TL;DR
What-If Analysis adalah kumpulan tool bawaan Excel yang ngitung ulang hasil rumus saat kamu ganti-ganti nilai input, tanpa harus bikin file duplikat. Isinya tiga: Goal Seek (mundur dari target ke input), Scenario Manager (simpan beberapa set asumsi sekaligus), dan Data Table (lihat hasil untuk banyak kombinasi input dalam satu grid). Semua ada di tab Data > Forecast > What-If Analysis.
What-If Analysis Excel adalah kumpulan tool bawaan Excel yang ngitung ulang hasil rumus saat kamu ganti-ganti nilai input, tanpa perlu bikin file duplikat. Isinya tiga: Goal Seek, Scenario Manager, dan Data Table.
Semuanya ada di satu tempat. Tab Data > grup Forecast > tombol What-If Analysis.
Ini yang biasanya dipakai buat jawab pertanyaan model bisnis: harga naik 10% margin jadi berapa, biaya iklan berapa biar balik modal, kombinasi harga dan diskon mana yang paling aman. Satu model laba toko_berkah dipakai buat ngetes ketiga tool itu di angka yang sama.
What-If Analysis adalah fitur Excel buat ngetes gimana hasil sebuah rumus berubah kalau input-nya diganti. Kamu punya model. Misalnya laba = (harga − hpp) × jumlah unit − biaya tetap. What-If Analysis ngasih cara sistematis buat ngutak-atik harga, unit, atau biaya tetap dan langsung lihat efeknya ke laba.
Tiga tool-nya beda tujuan:
| Tool | Dipakai kalau | Arah kerjanya |
|---|---|---|
| Goal Seek | Kamu udah tau target hasilnya, cari input yang bikin target itu kena | Mundur: hasil → input |
| Scenario Manager | Kamu punya beberapa set asumsi lengkap dan mau bandingin | Maju: set input → hasil |
| Data Table | Kamu mau lihat puluhan nilai input sekaligus dalam satu grid | Maju: banyak input → banyak hasil |
Sebelum lanjut, siapin dulu modelnya. Tanpa model yang rapi, tiga tool ini nggak bisa jalan.
Aturan mainnya cuma satu: angka asumsi harus tinggal di cell-nya sendiri, jangan ditulis langsung di dalam rumus. Rumus =B2*250 nggak bisa disimulasikan. Rumus =B2*B3 bisa.
Model laba toko_berkah, toko sembako di Sleman yang datanya sering aku pakai buat contoh:
B2 Harga jual per paket 28000
B3 HPP per paket 21000
B4 Unit terjual per bulan 900
B5 Biaya tetap per bulan 9500000
B7 Margin per paket =B2-B3
B8 Laba kotor =B7*B4
B9 Laba bersih =B8-B5
Hasilnya: margin 7.000 per paket, laba kotor 6,3 juta, laba bersih minus 3,2 juta. Toko ini lagi rugi.
Ini model yang bakal dipakai di semua contoh di bawah. Kalau kamu belum kuat di rumus dasar penyusun model kayak gini, mampir dulu ke SUMPRODUCT. Dia sering dipakai buat ngitung total revenue multi-produk dalam satu cell.
Goal Seek jawab pertanyaan: berapa nilai input X biar hasil Y jadi angka yang aku mau?
Pertanyaan buat toko_berkah: berapa unit yang harus kejual per bulan biar laba bersih nol alias break-even?
B9 (laba bersih, harus cell berisi rumus).0 (ketik angka langsung, jangan referensi cell).B4 (unit terjual, harus cell berisi angka polos).Excel muter-muterin nilai B4 sampai B9 nyentuh nol. Hasilnya: 1.357 unit. Toko_berkah butuh naik dari 900 ke 1.357 paket per bulan cuma buat impas. Lonjakan 51%.
Angka itu langsung bikin keputusannya beda. Ngejar tambahan 457 paket per bulan lewat promosi doang itu berat. Jadi coba lagi dari sisi harga: set cell B9, to value 0, by changing cell B2. Hasilnya harga jual harus jadi Rp 31.556. Naik 12,7% dari harga sekarang.
Dua opsi, dua angka konkret. Itu gunanya Goal Seek.
Catatan penting: begitu kamu klik OK, Goal Seek nimpa nilai asli di cell input. B4 beneran berubah jadi 1.357. Kalau cuma mau ngintip, klik Cancel di dialog hasilnya. Nilai lama balik.
Goal Seek cuma ngutak-atik satu cell. Kalau kamu mau simpan beberapa set asumsi lengkap (harga, unit, dan biaya tetap sekaligus), pakai Scenario Manager.
Tiga skenario buat toko_berkah:
| Skenario | Harga (B2) | Unit (B4) | Biaya tetap (B5) |
|---|---|---|---|
| Pesimis | 28.000 | 800 | 9.500.000 |
| Normal | 30.000 | 1.000 | 9.500.000 |
| Optimis (pindah kios) | 32.000 | 1.250 | 11.000.000 |
Langkahnya:
Pesimis.B2,B4,B5 (pisahkan pakai koma, atau Ctrl+klik).Sekarang kamu bisa klik nama skenario mana pun lalu Show. Angka di sheet langsung berubah. Tapi yang paling berguna tombol Summary.
Klik Summary, pilih Scenario summary, isi Result cells: B7,B9. Excel bikin sheet baru berisi tabel perbandingan semua skenario.
Hasil ringkasannya buat toko_berkah:
| Skenario | Margin/paket | Laba bersih |
|---|---|---|
| Pesimis | 7.000 | −3.900.000 |
| Normal | 9.000 | −500.000 |
| Optimis (pindah kios) | 11.000 | +2.750.000 |
Yang menarik: skenario Normal masih rugi, walaupun harga naik 2.000 dan unit naik 100. Nggak cukup. Cuma skenario pindah kios yang bikin toko ini untung, dan itu pun setelah nambah biaya tetap 1,5 juta.
Ini insight yang nggak keliatan kalau kamu cuma ngetik angka bolak-balik di satu cell.
Scenario Manager bagus buat 3-5 kombinasi. Kalau kamu mau lihat 12 level harga sekaligus, pakai Data Table.
Data Table 1 variabel ngeliatin gimana satu hasil berubah untuk banyak nilai satu input. Layoutnya rewel, jadi ikutin persis:
D, mulai dari D3, tulis daftar harga yang mau dites ke bawah: 26.000, 27.000, 28.000, … sampai 34.000.E2 (satu baris di atas nilai pertama, satu kolom di kanannya), tulis =B9. Ini nunjuk ke laba bersih.D2:E11 (termasuk cell kosong di pojok kiri atas).B2. Kosongkan Row input cell.Excel ngisi kolom E dengan laba bersih untuk tiap harga. Hasilnya buat toko_berkah (unit tetap 900):
Harga Laba bersih
26.000 -5.000.000
28.000 -3.200.000
30.000 -1.400.000
32.000 400.000
34.000 2.200.000
Break-even ada di antara 31.000 dan 32.000. Cocok sama hasil Goal Seek tadi (31.556). Dua tool beda, jawabannya nyambung. Itu tanda modelmu bener.
Column input cell harus nunjuk ke B2, cell asli di model. Bukan ke D3, bukan ke cell mana pun di dalam tabel simulasi. Ini kesalahan nomor satu yang bikin Data Table isinya sama semua.
Sekarang yang paling berguna: ngetes dua input sekaligus. Harga di satu sumbu, unit terjual di sumbu lain.
D2 (pojok kiri atas tabel), tulis =B9.E2:I2), tulis daftar unit: 800, 900, 1.000, 1.100, 1.200.D3:D8), tulis daftar harga: 28.000 sampai 33.000.D2:I8.B4 (unit, soalnya unit ada di baris atas).B2 (harga, soalnya harga ada di kolom kiri).Excel ngisi 30 cell sekaligus. Tiap cell = laba bersih untuk satu kombinasi harga × unit.
Dari grid toko_berkah, ada 9 dari 30 kombinasi yang menghasilkan laba positif. Semuanya butuh harga minimal 31.000 dan unit minimal 1.000. Kombinasi "harga aman 29.000 tapi jualan gencar sampai 1.200 unit" ternyata masih minus 900 ribu.
Kasih Conditional Formatting warna merah buat nilai negatif, hijau buat positif. Zona amannya langsung keliatan dalam sekali lirik.
Buat baca hasil grid ini lebih cepat, pasangin sama INDEX MATCH kalau kamu mau narik nilai spesifik dari grid ke ringkasan di sheet lain.
Pemilik toko_berkah nanya hal yang keliatan sederhana: "Aman nggak kalau harga paket sembako aku naikin dari 28.000 ke 30.000?"
Jawaban tanpa model: "kayaknya sih aman." Jawaban dengan What-If Analysis:
Jadi naikin harga ke 30.000 doang nggak nyelesein masalah. Angkanya yang bilang, bukan feeling.
Itu bedanya toko yang punya model sama toko yang nebak.
1. Input cell nunjuk ke tabel simulasi, bukan ke model. Ini penyebab paling sering Data Table isinya angka kembar semua. Column/Row input cell harus nunjuk ke cell asli yang dipakai rumus, misalnya B2 atau B4.
2. Asumsi ditulis di dalam rumus. Kalau kamu nulis =(28000-B3)*B4, angka 28000-nya nggak bisa diganti sama tool mana pun. Keluarin ke cell sendiri.
3. Goal Seek dikira nggak ngerusak. Dia nimpa nilai input. Catat angka aslinya dulu, atau bikin salinan sheet.
4. To value diisi referensi cell. Kolom "To value" di Goal Seek cuma nerima angka yang diketik. Isi 0, bukan =B12.
5. File jadi lemot gara-gara Data Table gede. Grid 50×50 = 2.500 kali kalkulasi ulang tiap kali sheet nge-refresh. Kalau file mulai berat, ke Formulas > Calculation Options > pilih Automatic Except for Data Tables, lalu tekan F9 manual kalau mau update.
6. Nge-delete satu cell hasil Data Table. Nggak bisa. Hasilnya array. Kamu harus hapus seluruh range hasilnya sekaligus.
Detail teknis Data Table lengkapnya ada di dokumentasi resmi Microsoft.
Buka tab Data, lihat grup Forecast di sisi kanan ribbon, klik tombol What-If Analysis. Isinya tiga menu: Scenario Manager, Goal Seek, dan Data Table. Di Excel versi lama tombolnya ada di grup Data Tools. Google Sheets nggak punya menu ini, jadi kamu perlu bikin simulasinya manual pakai rumus.
Goal Seek cuma bisa ngutak-atik satu cell input untuk ngejar satu target hasil, tanpa batasan tambahan. Solver bisa ngutak-atik banyak cell input sekaligus dan kamu bisa kasih constraint, misalnya stok maksimal 500 unit dan budget iklan maksimal 10 juta. Kalau soalnya sederhana, Goal Seek cukup dan jauh lebih cepat. Solver perlu diaktifkan dulu lewat Add-ins.
Biasanya gara-gara Column input cell atau Row input cell salah tunjuk. Input cell harus nunjuk ke cell asli yang dipakai rumus modelmu, bukan ke cell di dalam tabel simulasi. Penyebab kedua: Calculation Options lagi diset Automatic Except for Data Tables. Cek di Formulas > Calculation Options, balikin ke Automatic.
Satu skenario maksimal 32 changing cell, dan kamu bisa bikin banyak skenario dalam satu sheet. Praktisnya, 3 sampai 5 skenario udah cukup: pesimis, normal, optimis, plus satu atau dua varian khusus. Lebih dari itu Summary report-nya jadi susah dibaca. Kalau butuh puluhan kombinasi, pakai Data Table 2 variabel.
Goal Seek ngubah isi input cell secara permanen begitu kamu klik OK, jadi catat dulu nilai awalnya atau klik Cancel kalau cuma mau lihat. Scenario Manager nyimpen nilai asli sebagai satu skenario kalau kamu bikin skenario Normal dari kondisi awal. Data Table nggak ngubah apa-apa di model, dia cuma nulis hasil di grid simulasi.
Tiga tool, tiga pertanyaan beda. Goal Seek buat "berapa input biar target kena". Scenario Manager buat "skenario mana yang paling masuk akal". Data Table buat "zona aman ada di kombinasi mana".
Kuncinya tetap satu: asumsi harus tinggal di cell-nya sendiri. Model yang rapi bikin ketiganya jalan; model dengan angka hardcode bikin ketiganya mati.
Coba langsung di file kerjaanmu minggu ini. Ambil satu keputusan yang lagi kamu tunda, bikin modelnya 5 baris, terus Goal Seek. Lima menit, jawabannya keluar.
Mau lanjut? Baca Power Query Excel buat ngerapiin data mentahnya dulu, atau cek glossary Pivot Table kalau kamu mau ringkas datanya sebelum masuk ke model simulasi.
Mau praktek langsung? Mulai latihan SQL gratis
Latihan interaktif, langsung di browser.
Cara pakai rumus FV dan PV Excel buat hitung nilai uang di masa depan dan sekarang. Lengkap dengan contoh tabungan dan target modal UMKM.
Investasi kelihatan untung di atas kertas, tapi nilai uang berubah tiap tahun. NPV dan IRR Excel bantu kamu nilai apakah proyek beneran layak, bukan cuma kelihatan untung.
Sebelum ambil pinjaman, kamu bisa hitung sendiri cicilan bulanannya pakai satu rumus. Ini cara PMT Excel bekerja, lengkap dengan contoh modal usaha dan jebakan bunga tahunan.